Lompat ke isi

ORIENTASI PERJUANGAN

Juni 27, 2011

Tujuan utama dakwah Rasulullah Saw. adalah agar manusia mengabdi kepada Allah semata dengan ikhlas, mengharap pahala Allah. Yang dimaksud mengabdi kepada Allah bukanlah terbatas pada ibadah-ibadah ritual seperti yang dipahami sebagian orang. Tapi dalam wujud ketertundukan mutlak kepada Allah dalam semua urusan. Dalam wujud mengembalikan wewenang membuat hukum kepada Allah semata dalam seluruh bidang kehidupan. Inilah makna syahadah Laa ilaaha illallah.
Rasulullah Saw. tidak menjanjikan kepada orang-orang yang menerima dakwah beliau selain jannah (surga). Cukup ini saja. Tidak ada iming-iming duniawi; hidup sejahtera, jabatan, popularitas atau yang lainnya. Dengan demikian, mereka yang beriman kepada beliau betul-betul ikhlas mengharap pahala Allah, berupa mahligai surga di akherat kelak. Mereka tidak mengharapkan kesejahteraan hidup, kekayaan, dan pangkat. Mereka benar-benar berkorban untuk Allah, meski menghadapi berbagai penderitaan di jalan ini, hidup miskin atau harus kalah dan terbunuh di tangan kaum kafir..
Dakwah Rasulullah Saw. terus berlangsung. Orang-orang yang menerima dakwah tersebut semakin banyak. Manusia demi manusia menggabungkan diri kepada golongan yang betul-betul berorientasi tegaknya sistem/ syari’at yang datang dari Allah tersebut. Jumlah mereka mencapai kadar yang cukup untuk memanggul kekuasaan. Di sisi lain, peraturan-peraturan Allah turun satu demi satu, membentuk sistem Islam yang sempurna. Kenyataan itu mendorong didirikannya pemerintahan Islam. Sebab, tanpa itu, sistem Islam tidak akan bisa berdaulat di muka bumi..
Maka berdirilah pemerintahan Islam di kota Madinah. Fungsi utama negara ini adalah menjaga hukum-hukum Allah, sehingga tetap tegak. Belum ada saat itu fasilitas-fasilitas kesejahteraan rakyat yang memadai, sebagaimana yang dituntut masyarakat jahiliyyah saat ini terhadap para penguasa mereka. Bahkan, penderitaan para shahabat setelah berdirinya Negara Madinah lebih besar dari pada yang mereka alami saat masih di Makkah, sebelum berdirinya daulah itu. Mereka mengalami kegoncangan hebat di Hari Ahzab, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya di Makkah. Banyak rakyat Madinah yang bergelimang dalam kemiskinan, sampai ada di antara mereka ingin menjadikan pakaian yang melekat di tubuhnya untuk mahar pernikahannya, karena tidak punya harta selain itu…
Tapi para shahabat adalah manusia karang. Mereka sangat tangguh menghadapi kepayahan hidup tersebut. Yang penting bagi mereka adalah tegaknya panji Laa ilaaha illallah, berdaulatnya syari’at Allah di muka bumi. Itulah yang membuat mereka sangat bahagia. Orientasi mereka bukan kesejahteraan duniawi. Orientasi mereka adalah akherat, surga, keridhaan dan rahmat Allah, yang itu hanya dapat diraih dengan mematuhi perintah-perintah-Nya, menegakkan hukum-Nya. Mereka tidak pernah mengkritik, berdemo, atau menuntut penguasa untuk mensejahterakan hidup mereka. Ya, pernah ada beberapa orang miskin berdemo kepada Rasulullah Saw. sebagai kepala negara. Tapi apa yang mereka keluhkan? Ternyata bukan kemiskinan mereka, bukan kesulitan hidup mereka. Mereka mengeluh karena mereka tidak bisa berbuat baik dengan cara berzakat, sebagaimana orang-orang kaya..
Dari sini, orang-orang yang berjuang menegakkan daulah Islam atau khilafah perlu merenung sejenak. Kalau masyarakat diajak menegakkan khilafah dengan iming-iming keduniaan, hidup sejahtera misalnya, maka orientasi mereka menjadi duniawi. Akibatnya, ketika kenyataan negara khilafah tidak seindah yang dibayangkan, tapi penuh ujian yang payah sebagaimana dialami Daulah Madinah di awal-awal berdirinya, mereka akan kecewa dan mundur dari perjuangan. Sebaliknya, jika masyarakat diajak menegakkan daulah atau khilafah karena dengan itu syari’at Allah bisa tegak atau sistem Islam berdaulat, dan mereka tidak diberi janji apapun selain surga, maka hanya orang-orang yang orientasinya akherat saja yang menerima dakwah termasuk. Namun mereka adalah cikal bakal masyarakat tangguh seperti masyarakat Madinah yang diberkahi Allah..
Benar, Allah akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang menegakkan keadilan di bawah sistem-Nya yang sempurna . Tapi kesejahteraan hidup bukan tujuan. Bukan pula hal yang langsung ada begitu daulah Islam tegak. Allah akan memberikannya di saat yang tepat, sebagaimana pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz…
Dari uraian ringkas di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang da’i hendaklah mengorientasikan orang-orang yang menerima dakwah kepada satu hal saja, yaitu rahmat dan ridha Allah di mahligai surga. Seorang da’i sejak awal berdakwah sampai berdirinya daulah Islam harus mengorientasikan umatnya kepada hal itu saja. Sehingga mereka tidak akan menjadi sosok-sosok yang mengharapkan harta, jabatan, hidup sejahtera, dan unsur-unsur dunia lainnya dari perjuangan fi sabilillah yang mereka jalani. Harapan mereka hanya satu: surga yang kekal abadi.

Satu komentar leave one →
  1. hayyee permalink
    Juli 5, 2011 3:27 am

    Betu betul betul
    jangan jadikan orientasi kita dunia saja
    kalau nggak dapat dunia nggak mau

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.