<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>
I WANT TO DIE…
Alfa, toko gudang rabat siang ini masih sepi. Aku tidak begitu heran, karena sekarang memang banyak supermarket. Orang hanya tinggal pilih mau masuk mana. Aku lebih memilih Alfa. Selain udah terlanjur jatuh cintrong, Alfa juga deket dengan kos dan kampusku, UMS. Jadi aku tak perlu ngeluarin biaya untuk transportasi belanja. Tinggal jalan kaki sepuluh menit, sampai deh di sana.
Aku masih sibuk mengamati berbagai macam bedak dan minyak wangi. Bukannya mau beli. Aku kan tahu cewek nggak boleh pake wewangian. Yaaa cuma sekedar pingin nyium bau wangi aja. Ku dorong keranjang rodaku, sambil mengamati deretan minyak wangi..wah itu kayak punya papa, nah yang itu kayak punya Kak Adi…
BRRUUAAKKK!!! Ups…keranjang rodaku nabrak keranjang orang lain. Untung yang punya lagi nggak ada. Ke mana, ya? Aku celingukan. Ku lihat beberapa orang memandangiku. Ada pula yang tersenyum menahan geli karena sikapku. Iiiih jadi malu sendiri. Sebentar kemudian ku lihat seorang wanita berjalan ke arahku. Dia memakai abaya, jilbab yang lebar dan tak ketinggalan: cadar, khas orang salafi. Subhanallah, anggunnyaaa!
“Assalamu’alaikum. Kenapa memandangi saya seperti itu? Apa ada yang salah?“ Dia bertanya kepadaku. Waw..ramah syekaleee..
“Eh ah, wa ‘alaikum salam. He he tidak, kok. Itu.. tadi saya barusan nabrak krenjang sampeyan, Mbak.“
“Oooh..“
Dia berlalu. Aku tahu di balik cadarnya dia tersenyum padaku, karena matanya yang indah itu sedikit menyipit.
Aku meneruskan belanjaku. Shampo, kapur barus, minyak goreng, mie goreng, pembalut…wah masih banyak, nih.
Setengah jam aku selesai membeli barang-barang. Aku menuju kasir. Ku turunkan semua belanjaanku dan ku taruh di meja kasir. Ku lihat sekeliling. Eh, itu kan mbak yang tadi. Dia ada di kasir nomer lima. Banyak juga yang dibelinya. Pake beli lemari ecxel lagi. Apa barusan punya rumah baru, ya? Aaah, apa urusanku, siih?
“Tujupuluh lima ribu dua ratus rupiah.“ Aku terkesiap.
“Eh, iya.“ Ku sodorkan selembar seratus ribuan.
Ku tenteng dua plastik putih besar penuh dengan belanjaan keluar Alfa. Siang ini terik banget, mana belanjaanku banyak lagi. Terpaksa deh aku naik becak. Eh, itu kan mbak yang tadi. Lihat lagi-lihat lagi… Dia ada di depan mobil pick up berwarna hitam yang di parkir di sebelah barat Alfa. Barang-barangnya dinaikkan ke bagian belakang mobil itu. Eh, kenapa aku malah berhenti di tengah tempat parkir begini…Payah. Cepetan cari becak, Re`in!!!
“Pak, kos-kosan melati, donk.“ Pak becak itu mengangguk seraya tersenyum lebar padaku.
###
Becak yang kutumpangi sedikit lambat berjalan. Aku agak mengantuk dibuatnya. Maklumlah yang ngayuh kan dah tua. Aduuuh, aku ngantuuuk. Eh, tidak boleh tidur-tidak boleh tidur. Aku berusaha membuka mataku. Sebentar lagi sampai. Begitu becak masuk ke pekarangan kos, aku dikejutkan dengan sebuah mobil pick up yang parkir di pekarangan. Itu kan mobil mbak salafi tadi…
“Makasih, Pak.”
Aku langsung menuju kamar, mau langsung tidur saja. Ngantuuk banget, dah nggak betah.
“Assalamu’alikum, Niii.” Teriakku pada Nia, sepupuku.
“Wa’alaikum salam. Blanja banyak banget kamu.”
“Iya. Biar nggak bolak-balik.”
“Kamu dah tahu belum? Kita bakalan punya temen baru.”
“O ya? Apa yang dateng pake mobil pick up itu?”
Nia mengangguk mantap, kemudian meneruskan mengetik di laptopnya. Aku berebahan. Nah, mata sekarang silakan tidur! Bismika..
“Re`in!” Suara Bu Asri membuatku terkejut.
“Eh, In…In..Bu Asri ketok pintu tuh…Cariin kamu!” Nia mengguncang tubuhku.
“Aaah, kamu yang keluar ngapain sih?” Aku malas. Tapi akhirnya ku usahakan bangun meskipun mataku yang sipit seperti tak bisa dibuka lagi.
“Ada apa, Bu ?”
“Itu, In. Ada penghuni baru di kamarmu. Dia sekarang ada di ruang tamu. Nah, sekarang kamu siapkan almarinya dan tempatnya juga dibagi, ya.“
“Ya deh Bu. Jangan kuatir.“
Bu Asri berlalu. Huuuaaah, aku menguap lebar. Kalo saja tanganku tak menutupi mulutku, wah mungkin cicak mengira mulutku gua otomatis.
“Ada apa?”
“Itu tuh ada penghuni baru. Kita suruh bagi-bagi tempat, bagi-bagi lemari. Padahal di Alfa tadi aku barusan lihat dia beli lemari ecxel.”
“Ya udah biar aja.”
###
Mbak salafi itu bernama Sabna. Sabna Yugan. Ternyata dia cantik banget, Men! Kulitnya putih kayak abis di cat. Rambutnya merah asli bukan karena penyakit juga bukan semiran. Bola matanya biru. Katanya sih dia itu sebenarnya orang Inggris. Tapi, dia pingin cari pengalaman di Indonesia. Dia sudah selesai study di Universitas Harvard, Amerika, bidang hukum. Aku senang punya temen kayak Kak Sabna. Orangnya tekun ibadah, enak diajak diskusi tentang berbagai hal. Dia juga amat dewasa. Penuh kasih sayang. Tapi satu yang membuat aku penasaran tentangnya. Dia tak pernah keluar kamar. Bila dia butuh apa-apa, dia tinggal bilang ke Bu Asri. Bu Asri juga memintaku untuk menolongnya bila dia butuh sesuatu yang ada hubungannya dengan hawa di luar kamar. Pokoknya semua kebutuhannya akan datang tanpa dia harus keluar kamar.
Kak Sabna jago komputer. Aku sering dapat hal baru darinya. Dia juga mengajakku berpetualang ke dunia internet. Mengajakku ke Palestina, Chechnya, Bosnia….dan masih banyak medan jihad yang lain. Meski aku juga sudah pernah browsing ke sana, tapi bila ada Kak Sabna semua jadi mengasyikkan.
(( Kemarin, telah terjadi peledakan banyak komputer di berbagai perusahaan besar di Amerika. Peledakan itu di sebabkan oleh virus dahsyat yang di buat oleh seorang hacker…))
(( Peledakan pusat jaringan internet situs www. Israiiil. com, kemarin rusak karena virus yang menyebar di jaringan tersebut. Virus tersebut bernama misijihadi. Sampai sekarang pelakunya masih dalam pencarian…. ))
(( Telah terjadi pembobolan uang nasabah Bank Israel Sejati oleh seorang hacker. Jumlah uang yang dibobol bernilai lebih dari sekitar satu milyar dolar AS….))
Ku baca berita yang tampak di beberapa situs internet. “Hebat juga ya tu hacker, Kak. Aku juga pingin jadi kayak hacker itu. Kalo aku bener-bener jadi gitu, akan ku hancurkan semua komputer milik Amerika dan bala tentaranya.”
“Oh ya? Tapi konsekwensi jadi hacker tu berat, lho! Kalo ketahuan, dia bakal jadi buronan. Kamu nggak takut jadi buronan?”
“Insya Allah, nggak. Meskipun aku mati nanti, kan mati di jalan Allah. Siapa takut?”
Kak Sabna mengacungkan jempolnya ke arahku sambil tersenyum manis. Dia sepenuhnya mendukungku. Yap! Aku amat senang.
###
Barusan Bu Asri kasih tahu aku dan Nia soal keinginannya membesuk mertua di Karangpandan. Rencananya sih, besok. Kembalinya entah kapan. Pokoknya Bu Asri bilang paling nggak lima hari. Tapi, katanya kalo Kak Mila belum selesai extrakulikuler karate-nya di kampus, yaaa ditunda. Soalnya Kak Mila ogah kalo musti ketinggalan babak di karate-nya. Mustahil pergi ke rumah mertua tanpa cucu tercinta.
Ternyata Kak Mila mau mengalah dengan sang ibu. Dikorbankannya waktu latihan karate untuk menyenangkan seseorang yang sudah banyak berjasa untuknya. Tepat di hari ini, mereka berangkat.
“Selama Ibu pergi, kalian berdua harus jaga Kak Sabna baik-baik.”
Aku dan Nia mengangguk. Kita sudah paham apa arti ‘baik-baik’ menurut Bu Asri: Jangan biarkan Kak Sabna keluar kamar…. itu maksudnya.
Rumah sudah sepi. Bu Asri mengizinkan kita untuk masuk rumahnya sesuka kita. Tapi, bukan mukmin kalo ngak tahu adab dan sopan santun. Artinya, meski kita diijinin masuk sesuka hati, kita nggak bakalan sembrono. Paling kita masuk ke sana untuk bersih-bersih atau pinjem salah satu perkakas seperti blender, mixer atau yang lain.
Hari ini, tamu paling menyebalkan itu datang lagi padaku. Asma yang ku derita sejak kecil itu membuat repot Kak Sabna. Aduh, kenapa musti hari ini? Mana Nia lagi miting sama cum suitnya lagi…. moga-moga aja obatku masih ada.
“Biasanya taruh mana, `In?” Suara Kak Sabna agak melengking, sepertinya sembari mencari obatku.
“Di laci lemari obat, Kak.”
Sebentar kemudian Kak Sabna kembali kepadaku. “Yang ini?” Dia menyodorkan bungkus obatku. Ku anggukkan kepala. Tapi… masya Allah, tinggal satu tablet doank…. Lalu Kak Sabna membantuku bangun dan meminum obat. Aku bener-bener panik. Untuk penyakit ini, aku nggak bisa cukup cuman satu tablet. Kalo aja Nia gak pulang malam ini dan nginep di rumah temennya, aku kudu keluar untuk beli… mana kuat, nih? Soalnya Kak Sabna gak boleh keluar kamar, at all.
“Nanti Kakak beliin lagi.”
“Gak usah, Kak. Nungguin Nia, aja.”
“Kenapa? Nggak usah kuatir. Malem-malem nggak keliatan.”
Ku palingkan wajahku setelah Kak Sabna hilang dari cermin pupilku. Aku sedikit takut. Entah mengapa padahal aku tak tahu apa sebabnya Kak Sabna tidak boleh keluar kamar. Akhirnya ku putuskan untuk ikut dengannya membeli obat.
Hawa malam ini ku rasa sangat menusuk tulang. Bukan lagi semilir angin yang ku rasakan, tapi bak duri-duri yang ditancapkan di sekujur tubuhku. Maka ku pakai jaket tebal, ku rangkap baju bawahanku dan ku kenakan kaos kaki setebal lima senti. Dan sekejap aku terlihat mendadak menderita obesitas. Kak Sabna sudah menungguku di ruang depan. Pakaiannya serba hitam lengkap dengan cadar dan sarung tangan.
Lalu kami susuri jalan Sasongko. Malam yang indah. Lampu-lampu yang dinyalakan seakan menyulap malam ini menjadi siang. Tapi meski begitu bebintang masih mau memamerkan pesonanya. Berkerlap-kerlip manja. Juga dengan bulan purnama yang memberikan sinar lembut, meski sudah disaingi oleh lampu-lampu kota. Dan ku lihat ke depan, itu dia apoteknya.
“Makasih, Mbak…!” ucap Kak Sabna, ramah. Alhamdulillah sudah dapat obat. Untung saja aku selalu memfotokopikan resep dulu. Jadi nggak perlu ke dokter.
Kembali kita susuri jalan Sasongko. Tapi… tiba-tiba ku dengar derap langkah orang dari belakang. Aku menoleh dan ku lihat tiga orang berlari ke arah kami.
“Cepat, lari. Re`in! Jangan sampai mereka menangkapmu!” Kak Sabna berteriak. Dan kami terpisah. Sekuat tenaga aku berusaha untuk berlari sekencangnya. Ya Allah… kuatkan aku. Tapi, ku rasakan napasku sangat sesak. Aku nggak tahan…aku jatuh berlutut dan mereka berhasil memegang lenganku kuat-kuat, hendak menarikku. Tapi tiba-tiba genggaman mereka lepas spontan.
“Pergi!”
Ku buka mataku. NIA!!! Alhamdulillah… ku lihat dengan lincahnya dia memainkan jurus-jurus karatenya. Tiga lawan satu. Nia menang.
“Ayo, pulang. Cepat!” Nia menggandengku erat. Dan tak lama, kami sampai di rumah.
###
Sejak kejadian kemarin, aku jadi tidak bebas keluar rumah. Begitu Bu Asri tahu kejadian kemarin beliau melarangku banyak keluar rumah. Waktu ku tanya, Bu Asri cuman bilang nanti kamu juga tahu sendiri. Bila saat itu datang, kamu pasti tahu. Begitulah kata-kata beliau. Bila aku tanya pada Nia, Kak Mila dan Pak Agung, jawaban mereka sama. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi, aku orangnya memang cuek bebek. Jadi, ku anggap saja angin lalu. Aku yakin kok mereka nggak akan membohongiku.
Hari ini, aku mengantarkan Nia ke airport. Bu Asri dan keluarga juga mengantar. Nia mau pulang ke Sumatra dijemput oleh Om Handra, saudara kembar papanya. Katanya disuruh neruskan studi di Sumatra saja, nemenin Mamanya, Tante Rini. Om Handre sedang ditugaskan ke Kalimantan untuk praktek. Ah, namanya saja istri dokter, ya harus siap ditinggal-tinggal. Sebenarnya aku nggak setuju dengan keputusan tante, karena aku nggak punya saudara lagi tentunya. Aku usul gimana kalo tante ikut saja ke Kalimantan. Tapi tante bilang nggak bisa. Karena Mamanya Om Handre sekarang tinggal di Sumatra, dan tante harus merawatnya. Ya sudah apa boleh buat. Sebelum Nia pergi, Bu Asri memeluknya erat-erat. Maklumlah kita sudah amat dekat dengannya dan sudah dianggap seperti anak sendiri. Ku lihat Bu Asri membisikkan sesuatu ke telinga Nia. Nia tampak terkejut dan mengangguk mantap. Ada apa, ya? Giliranku memeluk Nia. Aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Jaga dirimu baik-baik, ya, In…Juga jaga Kak Sabna.”
Aku mengangguk. Segera ku usap air mataku sebelum jatuh membasahi pipi. Dalam hati aku merasa takut. Aku takut terjadi apa-apa dengan Nia. Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Ingin rasanya aku menarik tubuhnya yang semakin lama semakin menjauh. Aku menjerit dalam hati. Jangan pergi, Nia…Tapi dia sudah terbawa angin, bersama pesawat terbang yang ditumpanginya….Ya Allah, jagalah Nia-ku….
###
Lagi, ku rasakan malam itu sangat dingin. Menusuk-nusuk tulangku. Aku sudah memakai selimut tebal, tapi sia-sia. Dingin itu masih saja menyusup di sela-sela tubuh kurusku dan meminta ruang pada tulangku yang semakin nyeri. Alhamdulillah asmaku tidak kambuh. Ku nyalakan lampu tidur yang berada di samping tempat tidurku. Berusaha mencari kehangatan pada minyak angin cap kapak, yang sudah menjadi langgananku bila aku sakit. Biasanya minyak itu ku taruh di meja samping tempat tidurku. Ku lihat tempat tidur Kak Sabna. Kosong. Ke mana dia, ya?
Aku bangkit, karena tak kunjung ku dapat minyak yang kucari. Aku sedikit terkejut melihat lampu bagian depan kamarku menyala. Aku menghampirinya dan berdiri di depan pintu. Kak Sabna? Dia sedang apa berjongkok seperti itu? Di depannya ada laptop silver miliknya yang tak boleh dibuka oleh siapa pun. Boro-boro dibuka, disentuh saja dia tak akan mengijinkan. Aku melihat kertas-kertas yang berserakan. Pena-pena yang dikumpulkan dalam satu wadah. Lima buah flashdisk, beberapa diskette, HP-nya satu, dua, tiga, empat, lima…
“Re`in, kamu belum tidur?’
Aku terkesiap. Ternyata dia memergoki aku yang sedang mengamatinya. “Eh, aku nggak bisa tidur, Kak. Hawanya dingin banget. Aku lagi nyari minyak angin. Kakak liat, nggak?”
“Ambil aja di tas minni mouse-nya kakak.”
Aku segera pergi. Aku tahu Kak Sabna paling tak suka bila aku memergokinya sedang melakukan sesuatu di malam hari. Aku jadi rindu Nia…Kalo aku sedang nggak enak badan begini, Nia selalu memijitiku, mengoleskan minyak angin ke punggungku. Duuh, aku pusiiing..aku pusing banget. Ya Allah..ada apa ini? Ada apa denganku? Setelah itu semuanya gelap…
“Re`iin…Re`iiin..bangun, In!” Sayup-sayup ku dengar suara yang sangat ku hafal. Suara Bu Asri. Ku buka mataku. Pandanganku kabur. Samar-samar ku lihat Bu Asri, Kak Sabna, Kak Mila. Mereka mengelilingiku. Sebentar kemudian semuanya jelas di mataku. Aku berusaha bangun.
“Apa yang terjadi?”
“Kamu nggak ingat, In? Kamu pingsan tadi.” Kak Sabna berkata lembut padaku.
Oh..ya aku tadi nyari-nyari minyak angin, tapi nggak kunjung nemu trus nggak kuat dan akhirnya pingsan. Aku masih pusing luar biasa. Tanganku sedingin es. Aku menggigil. Ku sebut nama Allah berulang kali dalam hati. Kak Sabna tak henti-hentinya mengompres dahiku yang panas luar biasa. Kak Mila membaca Al-Qur`an di samping tempat tidurku. Dalam pikiranku, aku teringat Nia. Aku merasa telah terjadi apa-apa dengannya. Ku tanyakan pada Kak Sabna, Kak Mila, juga Bu Asri apa ada kabar tentang Nia. Tapi mereka menggeleng kepala.
“Sudahlah, In. Tenang saja. Nia pasti selamat sampai tujuan.” Bu Asri menghiburku.
Aku membisu. Ah, semoga saja begitu.
###
Aku izin tidak ikut kuliah hari ini. Aku masih tidak enak badan. Kak Sabna sedang sibuk di depan laptopnya, Kak Mila sudah pergi kuliah, dan Bu Asri sedang pergi belanja. Ku sempatkan diriku membuat susu sendiri tanpa harus meminta tolong ke Kak Sabna. Aku tahu dia sedang sibuk. Sebenarnya, dia tadi sudah mewanti-wanti aku, “Kalo ada perlu, tinggal pangil Kakak. Kakak ada di ruang depan.” Diulanginya kata-kata itu tiga kali. Tapi aku sungkan….
Aku bukan maniak TV. Tapi daripada nggak ada kerjaan. Lagipula siapa tahu dapet kabar baru. Aku duduk di depan TV sembari meneguk susu sedkit demi sedikit dan mengganyang kue bolot yang ku beli. Pilih channel yang mana, ya? Berita aja, ah.
“Kemarin telah terjadi penodongan di pesawat AIR BLUES…”
AIR BLUES? Itu kan pesawatnya Nia… “Kak sabna…Kak Sabna…” Ku panggil Kak Sabna, berharap dia pun tahu kabar yang akan disiarkan. Kak Sabna berlari menghampiriku.
“Ada apa?”
Aku diam. Mataku terus menyoroti berita di TV. Kak Sabna duduk di sampingku.
“Menurut pengakuan sebagian awak, para penodong itu tidak merampas harta para awak pesawat. Mereka hanya menanyakan tentang Beverlinda Sabrina McYuclogan, seorang wanita Inggris yang sedang dalam buronan polisi dengan berbagai tuduhan kriminal. Ketika pesawat mendarat, semua penumpang turun dan seperti tak ada kejadian apa-apa. Seorang pria benama Handrawan tak mendapati keponakannya, Adrinia Handrewansyah. Dia diduga dilarikan oleh sekelompok penodong tersebut….”
Ku pandangi Kak Sabna yang menegang. Hatiku panas. Hidungku memerah. Mataku mulai mengeluarkan air. Ku pegangi tangannya. Berkeringat. Dingin seperti tanganku.
“Kakak…Kak Sabna…..Nia, Kak… Nia dalam bahaya. Aku sudah merasakannya, Kak. Sesuatu telah terjadi padanya.”
Dia membelaiku. “Tenanglah! Pertama yang harus kita lakukan adalah minta tolong pada Allah. Oke? Sebisa mungkin kakak akan berusaha menolongnya.”
Aku mengangguk, walau sebenarnya aku merasa aneh dengan jawabannya. Bagaimana mungkin dia akan menolong Nia, padahal keluar kamar untuk sekedar merapikan sandal saja tak pernah. Bagaimana dia akan menolong Nia? Atau dia hanya sekedar menghiburku saja? Bagiku kata-katanya malah menambah kecemasan.
Aku menangis di atas sajadah di tengah malam yang sunyi. Tak ku pedulikan mukenaku yang sudah basah kuyup karena air mata. Ku panjatkan doaku supaya Allah selalu menjaga Nia, satu-satunya saudara yang aku punya. Aku tak punya saudara selain dia. Aku semata wayang mama dan papa. Tante Rini adalah adik mama satu-satunya. Sedang papa sendiri sebenarnya punya saudara tapi sudah meninggal.
Sejak Nia diculik orang, Kak Sabna dan Bu Asri selalu ketat menjagaku. Bila aku hendak keluar komplek untuk keperluan sekecil apapun aku harus minta ijin. Aku disuruh jarang-jarang keluar kamar. Dan bila keluar kamar pun aku harus ditemani. Aku merasa aneh. Aku protes, tapi mereka bilang aku harus nurut untuk keselamatan Nia. Untuk keselamatan Nia? Apa maksudnya? Apa hubungannya? Ah, tapi aku tak mau banyak tanya. Asal mereka bisa menjamin Nia kembali, apapun aku akan lakukan.
Seperti biasa, Kak Sabna sibuk dengan laptopnya. Entah kini dia juga makin sibuk dengan lima HP-nya. Kamarku jadi berisik karena dua atau tiga HP yang menyala bersamaan. Kak Sabna minta tolong padaku untuk mengangkat salah satunya. Seseorang yang mengaku bernama Dav Sulaiman bicara di seberang. Dia mencari seseorang bernama Bev. Ku jawab salah sambung. Aku tak pernah mengenal seseorang bernama Bev.
“Siapa yang telpon?”
“Nggak tau tuh, Kak. Laki-laki namanya Dav… Nyariin orang yang namanya Bev.”
“Lhoh, kok nggak kamu kasih ke Kakak?”
Dahiku mengernyit. “Memangnya Kakak punya hubungan sama orang yang namanya Bev? Maaf, Kak. Tadi aku jawab salah sambung.”
Ku pandangi wajahnya. Dia tampak kecewa. Kak Sabna kenapa, sih?
“Ada apa sih, Kak?”
“Ah, tidak. Tidak apa-apa.”
Kak Sabna berlalu. Ku pandangi dia yang melangkah gontai.
###
Di luar hujan deras. Dingin. Dan malam yang senyap saat ini menawarkan sebongkah kecemasan. Ku lihat tirai jendelaku sedikit beterbangan ditiup angin yang menyusup di sela-sela daun jendela. Aku ngeri. Aku takut. Dipikiranku hanya ada Nia. Bagaimana kabarmu, Nia? Ku harap kamu baik-baik saja. Sudah seminggu kamu nggak kasih kabar. Nia, kamu di mana…? Tante Rini telpon terus..nanyain kamu.. Kita semua bingung, Niiii. Cepetan balik… Ah, air mata..kenapa kau tak lelah keluar…. Kenapa kau selalu menemani kesedihanku… Apa kau tak tahu pipiku sudah bosan dengan kehadiranmu…. Apa kau tak sadar kehadiranmu tak akan mengembalikan Nia-ku?
Ku dengar isak tangis seseorang. Ah, ya. Siapa lagi kalo bukan Kak Sabna. Ini bukan yang pertama kalinya. Tiap dia begitu, aku selalu menghampirinya. Sekedar untuk menanyakan ada apa. Tapi Kak Sabna selalu menolak. Dan untuk kali ini, lidahku terlalu kelu… Kaki ini terlalu berat untuk melangkah….Kak Sabna bagiku adalah bagian dari misteri.
Ku lihat Kak Sabna memasukkan sebagian laptop ke dalam tas. Juga beberapa HP, flashdisk, disket, map-map…
“Kak Sabna mau kemana?” Dia memandangku. Mata Kak Sabna sembab. Hasil tangis semalaman.
“Kakak mau keluar sebentar, kamu tunggu saja di sini.”
“Tapi Bu Asri pasti akan marah bila tahu kakak keluar kamar.”
Ku lihat Kak Sabna hanya tersenyum. Ah, masa bodoh. Yang penting sudah aku ingatkan. Sebentar kemudian dia pergi meninggalkanku. “Kakak…” Dia menoleh. “Hati-hati…” Kak Sabna hanya mengangguk. Berusaha tersenyum di atas penderitaannya. Penderitaan? Mungkinkah dia sedang menderita?
Aku harus beres-beres kamar. Aku ingin bila Kak Sabna datang nanti, kamar terlihat bersih. Ku mulai dari tempat tidur, ruang tengah, dan yang terakhir ruang depan. mataku tertumpu pada sebuah HP yang teronggok di sofa ruang depan. Kayaknya Kak Sabna lupa membawanya. Triiiiiiiiing….Triiiiiing. Ups! Aku terperanjat. Ih bikin kaget aja.
“Ya halo!”
“Beverlinda! Katakan dimana dirimu! Kalau tidak, gadis bernama Nia akan mati di tangan kami.”
Astaghfirullah….apa yang terjadi….Beverlinda….buronan polisi kelas kakap yang ada di TV itu…
“Apa maksudmu?” Aku mencoba menguasai keadaan dan sebisa mungkin mengorek keterangan dari lelaki di seberang.
“Jangan pura-pura bodoh! Dengarkan ini!”
“Kak Sabna…jangan serahkan dirimu, Kak…biar aku mati pun tak apa asal kamu selamat.”
“Bodoh!“
“Aaaww..“
Ah… Nia dipukul. “Jangan sentuh dia.” Teriakku.
“Pokoknya bila kau tidak lekas menyerahkan diri, Nia akan kami siksa!”
“Jangan.. jangan siksa Nia..!” Tapi telpon terlanjur mati….
Aku terpaku. Berdiri tergugu dan termangu. Kak Sabna… Beverlinda….buronan polisi…. Pantas saja dia tak pernah keluar. Pantas saja dia hanya berada di kamar. Aku tak boleh tinggal diam. Aku tak akan menyembunyikan seorang penjahat di rumah ini. Ternyata dia bukan seorang salafi baik-baik. Dia telah menipu keluarga Bu Asri, Nia, dan juga aku sendiri. Enak saja dia di sini. Sementara Nia menjadi sandraan polisi. Aku harus segera bertindak sebelum dia melakukan kejahatan yang lebih berbahaya. Aku tidak boleh memberitahu keluarga Bu Asri. Aku akan bergerak sendiri.
Kriiiiiing, kriiiiiiiiing…
Ada suara HP berbunyi. Tapi di mana, ya? Di mana? Ayo cepat sebelum HP itu mati. Nah, itu dia! Ku baca tulisan di monitor HP. David Sulaiman. Ini…mungkin orang yang dulu pernah telpon.
“Ya, halo!”
“Re`in!” Ku dengar suara Bu Asri memanggilku. Aku menoleh cepat.
“Bu Asri…”
“Kak Sabna mana? Telpon dari siapa? Sini..” Bu Asri meminta HP.
“Halo…Oh, Dav.. bagaimana?” Bu Asri keluar.
Aku menggeram dalam hati. Ingin aku bilang pada Bu Asri bahwa Kak Sabna sedang di cari-cari polisi karena dia adalah penjahat kelas kakap. Tapi aku tak ingin membuat Bu Asri cemas.
###
“Sudah makan, In?” Kak Sabna bertanya padaku. Tapi tak ku pedulikan. Setelah aku mengetahui latar belakang Kak Sabna yang sebenarnya, aku begitu benci padanya. Banyak dari omongannya yang tak ku gubris. Kalaupun aku gubris, aku akan berbicara dengan ketus. Aku tak peduli. Bagiku, buat apa aku berbuat baik pada seorang penjahat. Biasanya setelah aku tak menggubrisnya atau bicara ketus padanya, selalu ku dengar suaranya membaca Al-Qur`an.
“Ditanya kok diam saja?”
Aku masih sibuk dengan komputerku. Ah, biarlah. Sekarang ini, aku sedang menulis rencana apa yang akan aku lakukan untuk menghadapi penjahat ini. Aku menulisnya dengan bahasa Jawa, karena dia tak mungkin bisa memahaminya.
“Re`in… kamu dengar tidak, sih?”
“Kak Sabna, apa Kakak nggak lihat aku sedang apa? Aku sibuk, Kak. Sudahlah… aku udah makan atau belum itu terserah aku.”
Kak Sabna diam, kemudian berlalu begitu saja. Setelah itu, aku mendengar suaranya membaca Al-Qur`an. Amat merdu. Tapi sayang, pemilik suara itu adalah penjahat kelas kakap. Begitu lihainya dia menipu kami semuanya. Sebentar lagi, kedokmu akan terbongkar. Kami akan mengambil Nia dan kau akan dijebloskan ke penjara. Lihat saja!
Rencanaku yang pertama adalah pergi ke kantor polisi setelah kuliah, supaya tidak ada dari keluarga Bu Asri yang memergokiku.
“Saya ingin bertemu dengan Letnan Hadi Kuncoro.”
Setelah melewati beberapa pertanyaan, aku dipersilakan masuk ke sebuah ruangan. Seorang polisi berperawakan tinggi besar dengan tenangnya memandangiku.
“Silakan duduk!” Katanya. “Ada perlu apa?”
“Saya ingin menanyakan kepada Anda tentang keberadaan seorsng gadis bernama Adrinia Handrewansyah.”
‘”Ow..apa hubungan Anda denagnnya.”
“Dia kakak sepupu saya. Dan sekarang saya akan memintanya dari Anda.”
“Memintanya? Ha…ha..ha… mengambil seorang sandra tidak boleh dengan tangan kosong. Anda boleh membawanya kapan saja, asal beritahu kami, apa Anda tahu di mana Beverlinda Sabrina McYuclogan?”
Aku tersenyum. “Tentu. Saya akan memberitahu Anda. Tapi saya punya satu syarat, jangan tangkap keluarga kami, karena kami memang sedang ditipu.”
###
Dalam hitungan detik, aku akan mendengar suara Nia mengucapkan salam. Para polisi itu sudah berjanji akan mengembalikan Nia pada kami. Aku berhasil. Kata mereka aku akan mendapat penghargaan pula.
“Assalamu’alaikum…”
Suara Bu Asri. Ku bukakan pintu untuknya. Aku terheran-heran melihatnya. Wajah Bu Asri merah padam. Serta merta matanya mulai menganak sungai. “Ada apa, Bu?”
“Ikut, Ibu!”
Ku ikuti langkahnya menuju ruang tamu. Di sana aku melihat Nia. Aku bersorak girang. Ku peluk dan ku cium pipinya. Tapi…aku tak merasa dia menjawabku. Dia masih diam terpaku. Perlahan dia melepaskan pelukanku. Ku lihat matanya menganak sungai. Ku pandangi orang-orang disekelilingku…Kak Mila, Bu Asri, Pak Agung… Mengapa mata mereka sembab? Mengapa mereka menangis?
“Ada apa ini?”
“Apa yang kau lakukan, In?” Nia bertanya padaku, lemas.
“Maksudmu?”
“Bagiku mati pun aku tak apa. Bagiku aku tak bertemu keluarga pun tak apa. Bukankah dulu kita pernah menginginkan untuk mati syahid, In? Lupakah kamu? Lupakah?”
“Apa maksudmu mati syahid, Nia? Apakah dengan menyembunyikan seorang buron polisi dengan segala tindak kriminal bisa mendatangkan pahala? Juga akan membuat kita mati syahid bila melindunginya? Kak Sabna buronan, Nia. Dia itu penjahat kelas kakap. Tentu aku tak mau dia melakukan kejahatan pada kita semuanya.”
“Ya… dia memang seorang penjahat kelas kakap. Tapi itu bagi polisi, Amerika dan para sekutunya. Bagi para musuh. Kamu tahu karena apa, Re`in?”
Aku menegang….
“Karena dia seorang mujahidah…. Dialah seorang hacker yang merusak seluruh jaringan internet Israil, data-data pasukan Amerika, data-data perusahaan mereka…..Seperti itulah yang kamu cita-citakan, dulu. Tapi sekarang kamu telah menyerahkan saudaramu sendiri ke tangan musuh. Tidakkah itu menyakitkan? Mengapa kamu tidak bertanya-tanya dulu sebelum bertindak, Re`in? Kamu ceroboh… ” Lalu tangis Nia pecah.
“Kenapa kalian semuanya tidak memberitahu aku sejak dulu?”
“Kak Sabna ingin memberitahu kamu saat kamu diwisuda nanti, supaya tambah lengkap kebahagiaanmu…” Mataku memandang Kak Mila yang sedang berbicara.
Dan sekujur badanku menggigil…. Nafasku amat sesak…Mataku memanas… Tak kuat aku menyangga tubuhku yang ku rasa begitu berat. Aku berlutut. Kalimat istighfar tak kunjung putus dari mulutku, hatiku, pikiranku….Ingin aku menampar diriku sendiri. Aku benci diri ini….Bila saja aku bisa mengulang waktu, bila saja mereka menjelaskan padaku dulu….bila saja aku tidak gegabah….Pasti Kak Sabna masih berada di sampingku…Pasti Kak Sabna akan mengajariku menjadi seorang mujahidah, seperti cita-citaku dulu…Atau paling tidak bukan dengan cara ini dia menjemput syahadah….Cara yang amat menyakitkan bagiku dan baginya mungkin….Ya Allah.. tidakkah Kau mengijinkan aku bertemu dengannya untuk sekedar meminta maaf…. Untuk sekedar memberitahu dirinya dan juga dunia ini bahwa aku ingin menjadi seperti dirinya….. dan juga bahwa aku ingin mati sebagai syahiidah seperti dirinya. JUST WANT TO DIE AS SYUHADA.
THE END
27 Des 2007.
Special to my best friend, be a good moslem or die as syuhada!!!
TERIMALAH TAUBATKU, RABBI….
THE END
Sepulang sekolah, Ririn langsung melemparkan tasnya dan menjatuhkan diri di sofa. Tangannya memencet tombol kipas angin. Udara dari kipas angin membuat rambutnya yang lurus tergurai hingga punggung sedikit berantakan. Mamanya yang sedang menjahit hanya mengernyitkan dahi, seraya menoleh ke arahnya. Ririn jengkel bukan main. Pasalnya, ketua kelas mewajibkan semua rakyat yang beragama Islam ikut kegiatan yang rohis selenggarakan, yaitu tadabbur alam ke daerah sekitar Parangtritis. Yang namanya Ririn, duh paling sulit deh kalo disuruh ngebahas about agama.
“Kamu kenapa, Rin?” Mama bertanya penuh pengertian.
“Ririn sebel, Ma. Masak wali kelas ngewajibin kita-kita ikut tadabbur alam.”
“Tadabbur alam? Sekolahmu mau ngadain tadabbur alam? Wah, bagus itu, Rin!”
“Aaah.. Mama! Kenapa malah ngebela mereka? Lagian apaan sih tu tadabbur-tadabbur? Kalo pingin bubur tinggal beli sana di pasar…Sebel!” Ririn menggerutu.
“Lho, kamu ni gimana sih, Rin? Tadabbur kok dibilang bubur? Dengan tadabbur alam, kita bisa merenung dan sangat sadar bahwa kita tu amat lemah. Alam yang amat indah itu kita nggak bisa buat. Yang bisa cuma Yang Kuasa.”
“Halah, Maaa…Ma… Itu mah nggak perlu tadabbur juga dah tahu. Pake dua minggu lagi. Duuuh! Ogah, ah. Ririn nggak mau ngikut.”
“Jangan gitu donk, Rin! Sekali-kali senengin Mama kek, ngikut kajian agama, gitu.”
“Boring, Ma! Mana ada janji lagi sama Ryan besok lusa.”
“Ryan?” Mama tampak kaget. Seingatnya, putri semata wayangnya itu sudah putus hubungan dengan laki-laki gondrong yang mengaku gandrung setengah mati dengan putrinya, setelah kepergok oleh sang Papa main SMS dengan kata-kata mesra bersama seorang pria bernama Ryan. Buru-buru Ririn menutup mulutnya, gelagapan sendiri karena keceplosan. Pasalnya, dia diam-diam masih connecting sama Ryan. Ririn mulai berhelah.
“Eh, nggak kok, Ma… Maksud Ririn, Ryanti, teman les…”
Mama mengernyit, tampak curiga. Tapi, beliau ingin mencoba percaya pada putrinya.
“Pokoknya, Mama baru mau percaya omongan kamu kalo kamu mau ngikut tadabbur alam itu, kalo nggak, berarti, kamu masih berhubungan sama laki-laki sontoloyo itu. Ingat! Mama dan Papa nggak akan segan-segan ngirim kamu ke desa kalo kamu masih pacaran. Hidup sama kakek nenek.” Mama beranjak pergi.
Ririn terbelalak. Batinnya, hidup sama kakek dan nenek? Hiiih…jangan sampe deeeh! Tiap pagi disuruh cari rumput di sawah buat makan sapi dan kambing karena sapi dan kambing kakek memang buanyak. Kalo nggak gitu, disuruh nggembala sapi dan kambing di tanah lapang. Juga, cari kayu bakar buat masak… Iiih, jadi hitam nanti aku. Kulitku nggak akan semulus ini, nanti. Mana kakek nenek gualaaak lagi…Aaaah, terpaksa deh batalin janji, sorry ya Ryy.
***
“Ayo cepetan, Riiin! Ini udah jam delapan kurang seperempat. Seperempat menit lagi mereka berangkat.” Papa berteriak sambil mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali Papa mengangkat lengannya untuk melihat jam tangan. Ririn melangkah malas. Dalam hati ia menggerutui papanya yang tumben mau mengantarkannya ke sekolah. Biasanya jam enam pagi tadi sudah stand by di depan meja makan, setelah itu langsung ke kantor. Begitu sampai di ruang tamu, Ririn dibuat kaget dengan penampilan mamanya yang sangat anggun dengan jubah biru tua dipadu dengan kerudung dengan warna yang lebih muda dari bajunya.
“Mama mau ke mana?”
“Ke mana? Ya mau nganterin kamu, laaah! Hari ini sampe dua minggu yang akan datang kamu pisah sama Papa Mama. Jadi, kami sepakat nganterin kamu. Ayo! Sudah kamu siapkan keperluan-keperluannya kan?”
Ririn mendengus. Malas dia menjawab pertanyaan mamanya. Merasa bahwa kopor yang dibawanya sudah merupakan jawaban atas pertanyaan beliau. Terbayang dalam benaknya jeans ketat, kaos super mini yang sudah anteng di kopornya. Lagi-lagi dia membatin,
“He..he… aku kan sudah bilang ke Ryan kemarin kalo aku akan pergi ke Jogja, tepatnya di Parangtritis. Nanti, Ryan akan datang dan katanya malah bisa leluasa ngunjungin aku, soalnya aku jauh dari mama papa. YES!” Dia tersenyum sendiri.
“Kamu kenapa, Rin? Senyum-senyum sendiri, Waah, senang ya mau tadabbur alam?”
Ririn jadi salah tingkah, “Eh..iya iya, Pa.”
“Ya udah, ayo.”
Mereka berangkat. Honda City itu meluncur dengan kencangnya, mengejar waktu.
***
Ruang-ruang kelas SMUN BHINEKA TUNGGAL IKA sudah mulai sepi. Murid-murid sudah pada masuk ke dalam bus besar yang begitu gagahnya berhenti di halaman sekolah.
“Li! Ayo donk komandoin! Kita dah telat setengah jam, nih! Bus-bus yang lain pasti dah sampe jauh!” seru Yoga kepada Aliansyah, ketua rohis sekaligus penanggung jawab pelaksana tadabbur alam. Ali memang tampak menunggu sesuatu.
“Sabar, Fren! Bentar lagi, deh!”
Yoga, selaku wakil Ali, mendengus kesal. Tak habis pikir dengan kelakuan kawan karibnya itu. Bertanya dalam hati, menunggu apa sebenarnya dia…
Sebuah Honda City meluncur cepat ke halaman SMUN BTI. Sebentar kemudian Papa, Mama dan Ririn keluar dari mobil itu. Setelah menjabat tangan kedua orangtuanya, Ririn berlari ke arah bus sambil melambai ke arah mereka berdua. Rambut lurusnya yang tertutup selendang tipis tampak bermain bersama angin. Yoga terbengong saat melihat Ali tiba-tiba saja turun dari bus dan mengisyaratkan kepada seseorang agar segera masuk ke dalam bus, yang tak lain adalah Farida Yurindian, gadis keras kepala dan paling sulit ditegur.
“Bangku no. 15. Cepat! Cepat! Kenapa lama banget?”
“Bodo” !” Ririn begitu cuek dengan pertanyaan Ali. “Heeei! Aku jadi ikut, niiih” Teriak Ririn begitu melihat teman-temannya yang duduk di jok paling belakang seraya melambaikan tangan penuh keceriaan. Tak peduli dengan pandangan kesal semua teman yang lelah menunggu. Apalagi Rey dan teman-temannya yang notabene cewek-cewek paling aktif dalam hal mengejar pengalaman. Suara Ririn membuat bus yang semula sepi menjadi seperti pasar malam. Teman-temannya membalas dengan senyuman renyah dan lambaian pula tanpa mengeluarkan suara. Rey dan teman-temannya melengos kesal, “Sssst! Brisik, tahu!” Ririn tetap berjalan tak peduli. Melihat itu, Ali hanya menggeleng kepala.
Ali mulai mengomando agar bus yang ditumpanginya berangkat. Meskipun tertinggal beberapa meter dari tiga bus lain, tapi hatinya lega bercampur senang karena semuanya lancar dan tidak ada satupun murid kelas tiga yang beragama Islam tertinggal. Ali memang diserahi oleh para guru untuk mewakili penjagaan di bus no. 4, karena dia adalah penanggung jawab rihlah ini. “Subhanallahilladzi sakhkhara lana hadza wa kunna lahu muqrinin Wa inna ila Rabbina lamunqalibun…” Desis Ali.
“Jadi hanya karena nunggu gadis jutek itu.” Suara Yoga, yang duduk di sebelah Ali, mengimbangi suara bising bus dan membuat Ali berhenti membaca ayat suci Al-Qur`an.”
“Ya” Jawab Ali singkat.
“Kenapa kamu dengannya?”
“Kenapa? Justru aku yang harusnya tanya ke kamu kenapa kamu tanya seperti itu?“
“Jangan bikin aku panik! Kamu nggak mungkin kan suka sama cewek macem dia?“
Ali menutup mushhafnya. Memandang Yoga dengan senyuman khasnya. “Jangan su”udzon, fren. Tadi itu Papanya nelpon aku, suruh nunggu dia. Lagipula aku kan ketua, tentu aku ingin semua muslim ikut dalam rihlah ini. Dan juga, kalo kita perhatian sama muslim yang lain untuk mengajarinya berubah, boleh juga, kan? Sebelum berangkat, papanya Ririn mewanti-wanti Ali agar selalu mengawasi putrinya jangan sampai berhubungan sama cowok bernama Ryan. Beliau memberi ciri-ciri cowok itu. Besar harapan Papa Ririn, putrinya berubah tidak nakal lagi. ”
“Ck! Yang pertama dan yang kedua oke, tapi kalo yang terakhir lebih baik jangan kamu deh.”
Ali memilih diam tak meneruskan percakapan, dibukanya mushhaf saku dan dibacanya kembali ayat Al-Qur`an. Dalam hati dia berpikir, “padahal justru bila cewek itu berubah gara-gara aku pahala yang akan aku dapat bakal lebih besar…”
“HEEII Cowok!” Ali dan Arif menoleh. Mereka berdua melihat Ririn berdiri di samping bangku mereka. Tangan kanannya memegang permen loli pop yang menempel di mulut. “Keterlaluan!” Kata Yoga dalam hati.
“Gue pingin duduk dekat my fren. Di belakang sana.” Ririn menunjuk ke arah belakang dengan telunjuk jarinya yang lentik. “Lagipula kok Gue disuruh duduk di bangku deket dengan komplotannya si Rey, sih? Mana betah?” Ririn melengos.
Ali berdiri. Setenang mungkin dia melayani Ririn. Karena menurutnya, orang seperti Ririn itu tidak bisa ditegur dengan kasar.
“Heeh! Siapa juga yang mau duduk deket kamu? Nggak ada!” Teriak Hanum.
“Sudah-sudah! Jangan bertengkar, apalagi ini di bus! Ririn, kamu tadi kan datang paling akhir. Nah, bangku yang tersisa cuma itu.”
“Elu kan ketua! Tinggal Dyah tuh suruh pindah. Selesai kan?”
“Ririn, sudahlah. Duduk saja di tempat kamu tadi. Daripada ramai begini nggak ada manfaatnya, kan? Lagipula masak aku mau ngusir Dyah, sih?”
“Daripada gue rame terus sama mak lampir itu?”
“Apa lu bilang? Mak lampir? Elu yang mak lampir!” Rey datang mendekati Ririn dengan muka penuh amarah.
“Kenapa? Bener kan lu mak lampir. Lu kan galak minta ampun, nah mak lampir juga galak.”
“Kurang ajar!” Rey menjambak rambut panjang Ririn. Ririn mengaduh. Ali berusaha melerai, tapi tentu tak bisa sebebas bila dia melerai teman laki-laki. Semua penumpang di bus itu memandangi Rey dan Ririn.
“Sudah! Sudah! Kenapa kalian selalu bertengkar? Memangnya masalah tak akan selesai tanpa marah-marah tanpa bertengkar, ha? Inget donk! Ini bus bukan medan laga!” Yoga mencoba membantu Ali.
“Ini juga karena kamu nungguin dia, Li. Coba tadi kalo kita berangkat tanpa dia, kejadiannya nggak bakal kayak gini. Kamu juga udah tahu kan kalo sebenernya dia nggak niat ikut? Paling karena terpaksa. Sepenting apa sih dia sampe kamu rela ketinggalan bermeter-meter dari bus lain?” Rey menunjuki Ali yang berkali-kali mengusap rambut tebalnya dengan tangan.
“Emang kenapa? Ya terserah dia donk mau nunggu kek mau ninggal kek.. Kamu cemburu?” Ririn membuat suasana makin panas.
“Cemburu?” Rey melotot.
“Masya Allah.. sudah hentikan! Oke… oke… Minggir dulu-minggir dulu. Aku mau lewat.” Ali melangkah setelah Rey dan Ririn minggir. Dia menuju bangku yang Dyah duduki. Dia yakin gadis pendiam seperti dia pasti mau diajak kompromi.
“Dyah, tolong ya pindah ke bangku no. 15. Biar nggak gaduh seperti ini.” Ujar Ali seramah mungkin.
Dyah yang sedang asyik membaca buku tak peduli dengan kata-katanya.
“Dyaaah..!” Lagi-lagi Dyah seakan tak mendengar panggilan Ali.
“Heei!” Lusi yang duduk di sebelah Dyah menepuk pundaknya. Serta merta Dyah kaget. “Eh.. Ada apa, siih?”
“Ceileeee.. di bus ini tadi diganti: barusan ada perang lu nggak lihat? Lu nggak denger?”
“Lu ngomong apa sih? Gue nggak denger.”
Lusi makin jengkel dibuat Dyah. Pikiran Lusi langsung melayang ke dua telinga Dyah. “Nah, ini nih. Makanya kalo diajak omong walkmannya dicopot dulu. Dasar!”
Dyah tersenym dikulum. Pandangannya tertuju pada Ali yang berdiri tepat di depannya. “Eh, ada apa, Li? Perlu sama aku?”
“Ya. Tolong pindah ke bangku no. 15. Rey sama Ririn tu berantem gara-gara tempat duduk.”
Dyah diam. Tampak berpikir. “Mau sih sebenarnya. Tapi, katanya nggak boleh ngusir orang yang nempatin tempat duduk pertama kali.”
“Duh, iya sih Yah, tapi ini demi ketenangan penumpang.”
“Ya, deh. Demi Ali yang paling ganteng.”
“Huuuu.. nggak ikhlas tuh” Lusi mendorong punggung Dyah, yang kemudian beranjak pindah. Ali hanya menggeleng kepala. Sebenarnya dia tak menyangka ternyata di balik sifat Dyah yang pendiam, Dyah juga punya selera humor.
Parangtritis makin dekat. Hawa sejuk pantai mulai tercium. Pepohonan kelapa terlihat di mana-mana. Terasering menghijau. Kabut masih kental meski siang hari. Gunung merapi juga terlihat kokoh di depan mata.
“Waaaw…Indahnyaaa….” Pekik Ririn.
“Ssssst.. Brisik! Dasar orang desa!” Kata Hanum. Ririn membalasnya dengan lidah yang terjulur keluar.
Sebentar kemudian Ali mengomando agar setiap penumpang bersiap-siap turun. Villa Arsenal, adalah tujuan mereka.
***
Sesampai mereka di sana, mereka disambut oleh para guru dan dipersilakan untuk segera makan siang. Senyum dan canda tawa mewarnai wajah-wajah mereka. Tak terkecuali Ririn yang sebenarnya bersyukur juga bisa ikut acara ini, meski dia pun berat akan meninggalkan Ryan, pacarnya.
Di tengah asyiknya Ririn makan, Tit tit tuitit tilit tit tit tuitit… HP-nya berbunyi. Dia langsung mengangkatnya.
“Ah, Mama ternyata.” Ririn meletakkan HP di telinganya “Ada apa, Ma?”
“Iya..iya dah nyampe kok…malah sekarang Ririn sedang makan. Enak banget, Ma, masakannya.”
“Ah..tentu masakan Mama jauh lebih enak.”
“Iya iya, Maaa. Da Mamaaa, Mmmuah!”
Mama memang pengertian.., batinnya. Belum sempat Ririn melahap nasi goreng yang ada di sendoknya, tit tit tuitit tilit tit tit tuitit, HP-nya berbunyi lagi. “Iiih, sapa lagi sih, ni? Ganggu orang makan aja.”
“Halo!” Jawabnya ketus.
“Eeeh, HAAII Ryaaan! Apa kabar? Kok ganti nomer?” Pekik Ririn. Nanda menyikut pinggang Ririn supaya sadar bahwa dia sedang menjadi bahan tontonan. Ririn langsung menutup mulutnya yang mungil merah jambu dengan jari-jarinya. Ia beranjak pergi mencari tempat yang lebih sepi.
“Jangan kuatir. Kita pasti bisa. Sekarang kamu di mana?”
“Ooo..Yaa yaa. Tenang aja. Gimana kalo besok lusa. Kalo sekarang nggak bisa. Setelah ini pasti deh ada wejangan. Yah untuk nutupin jejak, laah. Okey? Daa sayaaang..! Mmmmuaaah!”
Ririn mengepalkan tangannya, “YES!” Dia kemudian berbalik. Ups! Didapatinya Ali dan Yoga berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri, meletakkan kedua tangannya menyilang di depan dada. Ternyata mereka berdua sedari tadi mengintai gerakannya.
“Yang telpon siapa?”. Tanya Ali. Ririn tampak jengkel setengah mati, merasa urusannya dimasuki oleh orang tak dikenal.
“Heh! Lu berdua buntutin gue?”
Ali tersenyum tipis. “Jawab dulu pertanyaanku!”
Dahi Ririn mengernyit. “Lu siapa ikutan urusan gue? Pake maksa lagi! Minggir gue mo balik.”
“Nggak! Sampe kamu mau ngejawab pertanyaan Ali.” Yoga mendesak.
“Heh! Kalian ini ngapain, sih? Aku nggak abis pikir deh sama kalian. Gue, elu dan elu ada hubungan apa? Terserah gue donk mau telpon siapa, mau ngelakuin apa. Semua bukan urusan elu-elu! Minggir!” Ririn berkacak pinggang. Tapi Yoga dan Ali tak bergeming.
“Ooow…gue nggak percaya lu berdua nggak mau minggir.” Ririn semakin mendekat. Dia tahu mereka tak mungkin mau bersentuhan dengan sembarang wanita.
“Berhenti! Berhenti kataku!” Kata Ali tegas. Tak pernah setegas itu sebelumnya. Ririn bergidik dibuatnya. Dia berhenti. Ali mendekatinya dengan mimik serius, penuh amarah.
“Katakan! Dengan siapa kamu bicara di HP?”
Ririn mendengus kesal.
“Oke-oke, gue ngaku deh. lagian cuma temen lama kok. Jangan kuatir nggak akan terjadi apa-apa. Aku bicara sama temen les, namanya Ryanti. Dia lebih suka dipanggil Ryan. Puas?”
“Begitu, ya? Lantas kalo cuma temen les kenapa musti di tempat ini? Kenapa musti pake sayang-sayang segala?” Yoga mencoba memojokkannya.
“Lu nggak liat di Rumah Makan tadi, gue jadi bahan tontonan? Jadi bahan sorotan komplotannya mak lampir si Rey itu. Siapa yang betah berantem terus ma dia? Makanya gue pilih tempat ini. Lagian sama temen nggak papa kan pake kata-kata itu?”
Suasana hening.
“Ya sudah. Pergilah!” Ali mencoba percaya, meski tidak seratus persen. Ririn tersenyum dan beranjak pergi. Senyum kemenangan yang menampakkan dua lesung pipinya. Bau semerbak minyak wangi Casablanka dari tubuhnya menusuk hidung Ali dan Yoga.
Ririn menarik napas panjang. Di atas ranjang bambu kamarnya, dia mengingat-ingat wajah Ali kuat-kuat. Pikirnya, ganteng juga tuh cowok. Mata elangnya menyimpan seribu wibawa. Hidungnya yang bangir ditenggeri kacamata Pasha. Kulit putihnya menambah koleksi kegantengannya. Bibirnya yang tipis merah jambu nggak membuat bosan orang yang melihat. Cambangnya panjang sampai tengah cuping telinga bikin wajahnya makin sempurna. Sayang, jalan pikirnya jauh berbeda dengan gue. Heran juga ngapain juga cowok ini mo tahu urusan gue? Jangan-jangan dia naksir gue… Ririn tersenyum sendiri sambil menolol-nololkan dirinya dan memukul-mukul kepalanya. Dia kembali berpetualang bersama pikirannya. Ya nggak mungkin laaaah… Dia tu ketua rohis…mana mungkin naksir cewek macem gue? Nggak selevel! Tapi, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, kalo seandainya saja dia bener-bener naksir gue, bakalan gue tolak mentah-mateng. Gue tendang sampe mentaaaal jauh ke Afrika biar kulitnya yang putih itu jadi hitam legam. Orang rohis banyak aturan, yang nggak boleh gini, nggak boleh gitu, harus gini, harus gitu.. Iiiiih, resek banget! Emang di dunia ini hidup cuma buat diatur apa? Sebel!!!! Apalagi rambut yang dia pelihara di bawah dagunya.. iiih, kayak kambing milik kakek…Bikin jijik aja. Celana panjangnya kayak orang kebanjiran…Nggak mode sama sekali. Cih! Gue, Farida Yurindian, paling anti sama muslim garis keras macam dia! Beda dengan Ryan yang selalu berpenampilan macho, rambut godrongnya yang kaya’ bintang F4, To Ming Se…bisa dibuat mainan bila dia tidur di pangkuan gue…Ah, kalo Ryan jadi To Ming Se, gue Shan Cai-nya…ha..ha..ha..Duuuh..Ryan jadi pengen cepet ketemu, nih…
***
Nanti malam, panitia tadabbur alam menyelenggarakan pengajian dengan mengudang kyai desa setempat untuk yang ketiga kalinya. Panitia dibantu oleh ikhwan dan akhwat mempersiapkan tempat dan meyediakan konsumsi yang layak dan cukup. Para ikhwan sibuk memindahkan barang-barang supaya tempat lebih luas dan cukup untuk semua peserta. Ada pula yang mengganti lampu-lampu yang sudah mati. Adapun akhwat kebanyakan sibuk di dapur.
“Mana si Ririn, kok nggak keliatan batang hidungnya?” Tanya Lidya kepada teman-temannya saat mencuci pealatan dapur yang kotor.
“Kok lu jadi cariin dia sih? Alhamdulillah donk dia nggak ada. Orang kayak dia bikin pusing.” Jawab Yuni ketus.
“Iya iya gue juga ngerti, kok.”
Ririn masih berebahan di ranjangnya. Sibuk ber-SMS ria dengan Ryan, belahan hatinya. Juga berfikir, bagaimana dia bisa lolos dari pengajian nanti malam dan pergi bareng Ryan.
“Gimana caranya, ya…” Ririn menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sebentar kemudian dia mendengar suara pintu dibuka. Dia terbangun cepat.
“Oh, elu Ja.Kirain siapa.” Ririn mematikan HP-nya dan kembali berebahan.
“Rin, lu tuh kerjanya cuma SMSaan mulu. Lu nggak ikutan bantu-bantu di dapur? Semua orang nanyain elu lho!”
“Halah, gombal, ah. Lagian sorry, gue ada urusan penting. Jadi, gue nggak bisa ikut bantu-bantu. Trus ngapain juga lu kemari? Nanti ikutan dicari-cari!”
“Gue dah bilang kalo mo istirahat sebentar. Kepale gue pening, nih!”
Pandangan Ririn masih mengarah ke langit-langit kamar yang amat putih. “Eh, Ja! Gue mo nanya nih ke elu. Gimana caranya ya gue nggak ikut pengajian nanti malam?”
“Apa? Nggak ikut? Lu mau ngapain? Ketemu Ryan lagi? Pengajian pertama kemarin lu dah absen. Pikir donk orang-orang bakal curiga ke elu.”
“Aaaah, masa bodo”. Gue suntuk sama acara kayak gituan. Lagian acara no. dua kan gue dah ikut.”
“Rin! Lu tobat aja deh, sebelum terlambat! Kemarin kan dah disinggung soal nggak bolehnya pacaran di pengajian dan Lu pasti dah tahu kan perbuatan lu tu dilarang agama? Lu jangan berbaik prasangka terus sama Ryan. Jangan-jangan dia cuma mempermainkan elu aja. Nanti kalo dah merampas kehormatan elu, dia tinggalin lu gitu aja.”
Mendengar kata-kata Oja, Ririn terduduk. Diacungkannya jari telunjuk kanannya ke muka Oja, “Heh! Jangan sembarangan nuduh, ya! Ryan tu bukan tipe cowok nggak bertanggung jawab. Lu tu temen gue nggak, sih? Sayang gue nggak? Jahat banget sih lu sama gue. Sakit nih, hati gue lu ngata-ngatain Ryan kayak gitu.”
“Bukan begitu, Rin. Malah gue sayang banget sama lu. Gue nggak ingin lu kepleset. Gue nggak rela kalo nanti lu dinodai.”
“Lu kok ngomongnya gitu, sih? Sok dah tobat aja. Emangnya hubungan lu sama Andy gimana?”
“Kita dah sepakat putus, Rin. Andy tu orangnya Shaleh banget. Sebenarnya gue makin sayang aja ma dia. Tapi, agama kita nglarang pacaran. Ya udah deh. Pesen dia yang terakhir buat gue, nanti kalo bener jodo juga pasti nggak akan kemana-mana. Andy beda sama Ryan, Rin. Dari segi segalanya. Ryan nggak ngerti agama sama sekali, rambutnya gondrong pake tindik di kuping lagi..ih..bikin reseh ngeliatnya. Dari tampangnya aja dah keliatan kalo dia itu brutal. Kamu musti hati-hati….”
“Ah, pokoknya Ryan nggak mungkin macem-macem kayak gitu. Dia tu sayang banget ma gue, dia nggak mungkin ngebuat gue sengsara.”
“Aaah, terserah lu deh. Pokoknya gue dah ngingetin lu.” Oja beranjak pergi, tapi Ririn keburu menarik lengannya.
“Inget! Jangan bilang siapa-siapa. Soal ini, cuma kita yang tahu.”
Oja melepaskan pegangan tangan Ririn tanpa berkata apapun. Dia mengambil bantal dan bersiap istirahat. Dalam hati, ia merasa berdosa tak bisa mengingatkan teman yang sebetulnya sangat dia sayangi. Pun dia tak pernah lupa menyertakan nama Ririn dalam setiap doanya, supaya Allah SWT membuat dia berubah. Didengarnya tawa kecil Ririn membaca SMS dari Ryan…Ah, Ririn…Semoga Allah menunjukimu…katanya dalam hati.
***sampe disini doel loe
Pukul setengah delapan pengajian dimulai. Kyai desa setempat yang bernama K.H. Ahmad Shaleh sudah maju ke depan. Para peserta pengajian laki-laki duduk di samping kanan beliau dan peserta perempuan di sebelah kiri. Mereka mendengarkan ceramah beliau dengan seksama.
“Sebagai orang beriman kita tidak boleh mengkufuri apa yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kita. Kita harus bersyukur dengan segala kenikmatan yang Dia limpahkan termasuk juga kenikmatan yang paling besar dan anugerah terindah yaitu Iman. Karena tanpa keimanan kita akan berbuat seenak kita sendiri, tidak mempedulikan syari”at-syari”at yang telah Allah berlakukan. Seperti apa? Yaitu setiap orang laki-laki celananya tidak boleh melebihi mata kaki. Atau setiap wanita harus menutup aurat. Aurat wanita adalah seluruh badan kecuali tangan dan wajah. Nah, tanpa iman kita akan sulit mengamalkan syari’at-syari’at-Nya……”
Di tengah-tengah ceramah K.H. Ahmad Shaleh, tiba-tiba Ali ingin buang air kecil. Dia kemudian meminta izin kepada beliau. Setelah diizinkan, dia langsung ngeloyor pergi. Sebenarnya dia tahu jarak antara tempat pengajian dengan kamar mandi agak jauh harus melewati jalan kecil berpavling dulu. Tapi, karena dia merasa tak kuat menahan, akhirnya dia memaksakan diri. Dia menolak tatkala Yoga menawarkan diri untuk menemaninya. “Sayang kalo kamu harus ngelewatin ceramah beliau.” Katanya pada Yoga.
Suara jangkrik malam itu berusaha mengimbangi dzikir-dzikir yang menghiasi bibirnya. Terang lampu philips 10 watt, yang dipasang oleh anggotanya, menerangi setiap langkahnya, meski kegelapan malam tetap saja menguasai keadaan. Sayup-sayup dia mendengar suara seorang pria. Tiba-tiba saja dia urung melanjutkan perjalanan dan mencari sumber suara. Seorang pria berambut lurus gondrong sebahu duduk di atas sebuah batu besar di antara semak belukar. Dia tampak menelpon seseorang.
“Tenang ajalah. Dia pasti datang. Gue dah janjian sama dia malem ini. Berapa sih yang mau lu berikan ke gue kalo gue berhasil?”
“Apa? Lima puluh juta? Kurang, men! Harus tujupuluh.” Pria itu sesekali menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah. Ali teringat sesuatu. Rasa ingin buang air kecilnya mendadak hilang dan segera dia kembali menuju komplek putri yang terletak di samping tempat pengajian.
Sesampainya di sana, dia melihat Fira dan Oja keluar dari kamar.
“Assalamu”alaikum.”
Mereka berdua menoleh cepat dan menjawab salam. “Ali? Ada apa? Kenapa kamu ada di sini?” Tanya Oja.
“Mana Ririn?”
“Lhoh? Dia sakit. Kan dah ada yang ijinin dia ke kamu.” Jawab Fira.
“Suruh dia ikut pengajian meskipun sakit.”
“Apa? Nggak mungkin, donk. Jangan tega-tega deh jadi orang.”
“Pokoknya kalian berdua turuti perintahku. Cepat!!!”
Oja dan Fira berpandangan. Sambil tersenyum senang, Oja segera memberitahu Ririn. Sementara Fira menunggu di depan kamar.
“Rin, ada Ali tuh di luar. Katanya elu harus ikut pengajian.”
“Apa? Gue disuruh ikut pengajian? Gue kan mau ketemu Ryan. Kalo gue ikut pengajian, batal donk janjinya. Lu belum kasi tahu dia kalo gue sakit?.”
“Udah. Suer udah gue kasih tahu.”
“Duuh, tu anak emang dilahirin untuk selalu ngebatalin rencana gue, kali. Ngapain sih dia peduli-peduli amat. Bikin sebel aja.”
“Rin, udah deh Rin. Ikutan aja. Nggak usah ketemu dulu. Kalo lu kepergok, bisa berabe hidup lu. Ali bakalan kasih tahu nyokap ma bokap lu, trus abis deh riwayat hidup lu di Solo. Dan lu bakal dipindah ke dusun tempat kakek nenek lu tinggal. Ayo donk Rin, pake pikiran lu yang jernih!”
Ririn mondar-mondir karena bingung sambil menggigit bibir bawahnya yang mungil. Sesekali berkacak pinggang kemudian menurunkan tangannya kembali. Menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Aduuuh, gimana donk?”
“Ponsel, Riin, ponsel! Pake donk ponsel elu”
Ririn menggapai ponselnya cepat. “Halo..Ryan? Aduuh, sorry ya Yan.. Aku nggak bisa dateng. Ada urusan mendadak banget.”
“Iya..iya lain kali aku hubungi kamu. Sekali lagi sorry, ya…Daaa, Mmmmuuuuah!.”
Ririn menutup ponselnya seraya mengacungkan jempol ke arah Oja. “Beres.”
“Alhamdulillaaah” Oja tampak sangat lega. “Nah, ayo kita keluar.”
Mereka berdua beranjak. Tiba-tiba Ririn teringat sesuatu. “Eh tunggu!” Ririn membuka almarinya. “Nah ini nggak boleh ketinggalan, itung-itung jadi artis baru. Main sandiwara.” Katanya seraya memakai jacket merah jambu bergambar mini mouse kesayangannya. Oja tersenyum simpul sambil menggeleng kepalanya.
***
Hari ketujuh tadabbur alam, ada acara memperdalam cara-cara shalat dan memperbaiki bacaan Al-Qur`an. Ali mengabsen setiap peserta. Semuanya selesai. Tapi dia tidak mendapatkan nama Farida Yurindian.
“Nadine Setya Kamboja”
“Iya.”
“Kemari!” Oja menghampiri Ali. “Mana temanmu?”
“Eeee..” Oja tampak bingung, haruskah dia menjawab tentang rencana Ririn bahwa dia akan menghabiskan waktu sejam di kamar mandi setelah itu keluar dalam keadaan menggigil kemudian beralasan nggak kuat keluar kamar dan kemudian memanfaatkan waktu untuk SMS ke Ryan di kamar?
“Kenapa? Mana temanmu?”
“Itu..eee..nggak tahu, ya. Tadi waktu aku pergi ke sini dia barusan ada di kamar mandi.”
Ali diam dan membiarkannya pergi. Bukan karena dia puas dengan jawaban Oja. Tapi, dia tak tega melihat Oja kebingungan dengan sebuah pertanyaan yang dia sendiri sudah menyangka jawabannya; Ririn melarikan diri dari acara itu untuk bertemu seseorang.
Acara selesai. Ali menyuruh Firman dan Andy menuju komplek perempuan. Satu tujuannya memanggil seorang cewek bernama Farida Yurindian untuk diinterogasi.
“Assalamu’alikum.” Sebentar kemudian Fira keluar.
“Ada apa?”
“Ririn sama Oja dipanggil ketua.“ Kata Firman tegas.
Fira masuk ke dalam. “Rin, Ja! Ada Firman sama Andy tuh di luar. Katanya kalian dipanggil Ali. Kayaknya ada masalah serius, deh.”
Oja bergidik. “Jangan takut! Kita hadepin aja.” Kata Ririn mencoba menenangkan Oja.
Mereka pergi menghadap Ali. Firman menyuruh Ririn dan Oja masuk ke ruangan khusus panitia tadabbur alam. Hanya ada Ali dan Yoga di dalamnya.
“Sekarang cuma ada kita berempat. Aku mau tanya ke Ririn. Dari mana kamu? Kenapa kamu nggak ikut acara barusan?” Tanya Ali serius.
“Kamar mandi.”
“Dua setengah jam di kamar mandi?”
“Ck! Ya tentu nggak sampe selama itu. Kira-kira sejam-lah.”
“Apa? Di kamar mandi sejam? Oke, trus apa yang kamu lakukan setelah itu?”
“Aku kedinginan, ya trus istirahat.”
“Masya Allah! Ayo donk, Rin! Jawab yang jujur!”
“Lu tu aneh, ya. Lu nanya atau maksa gue jawab sesuai keinginan elu? Kenapa sih lu nggak percaya ke gue?”
“Karena aku yakin kamu bohong.”
“Eh ! Udah deh ! Jawaban gue selalu lu anggap salah. Lu selalu anggap gue bohong. Gue capek tahu nggak lu ? Elu teruus terusan aja ikut campur urusan gue. Sebenarnya mo apa sih lu dari gue ? Sudahlah. Untuk apa gue jawab pertanyaan elu kalo akhirnya lu nggak percaya gue ? Lagian gue ini orang merdeka yang bebas ngelakuin apa aja yang gue mau. Kenapa sih lu selaluuu aja ngebuntutin gue ? Selaluuu aja ngasih nilai ke gue. Kenapa cuma ke gue ? Kenapa yang lainnya enggak ? Hidup gue sempit tahu nggak lu ?” Suara Ririn meninggi, matanya berkaca-kaca.
“Oke, aku percaya kamu, tapi satu lagi pertanyaanku kamu kenal pria berambut lurus gondrong pake tindik di telinga ?”
Ririn terkesiap kaget. Batinnya, ‘Gawat, kok si Ali bisa tahu Ryan ?’ Tapi bukan Ririn kalo tidak pandai berhelah. “Pria seperti itu di dunia banyak. Dunia ini luas, nggak cuma selebar daun waru.” Kata Ririn setengah tak peduli dengan pertanyaan Ali.
“Yang aku maksud ya yang kamu kenal.”
“Gue kenal banyak”
“Rin ! Please donk jawab yang sejujurnya. Ini juga demi kamu.”
Ririn menatap Ali heran. Dahinya mengernyit.
“Demi gue? Gue nggak butuh rasa peduli elu. Masa bodo’ lu mo peduli mo gini mo gitu. Gue benci elu. Lu musti ngerti itu. Sekarang, gue mo balik. Oja, ayo!” Ririn tak bisa menahan air matanya yang jatuh sebesar jagung.
Ririn berlari sekencang mungkin. Oja mengikuti, seraya memanggilinya. Tapi Ririn tak peduli, sampai akhirnya Oja berhasil menggapai lengan Ririn.
“Brenti, Rin! Brenti!”
Ririn menangis dalam pelukan Oja. “Duduk dulu, yok!” Oja mengajaknya duduk bersandar ke sebuah batu besar. Setelah Ririn agak tenang, Oja memulai pembicaraan. “Lu keterlaluan banget, Rin! Masak lu jawab pertanyaan Ali kayak gitu? Dia nanya lembut-lembut, tapi elu judes banget. Kenapa sih lu benciii banget sama Ali? Dia punya salah apa ke elu?”
Pandangannya Ririn menerawang. “Orang macem dia nggak ada bedanya sama Rey dan komplotannya. Sukanya cari-cari kesalahan gue. Mojokin gue. Orang macem dia tu sok suci. Juga nggak bakal nerima gue, meski misalnya aja gue berubah. Mereka pasti akan nganggep gue seperti dulu.”
“Astaghfirullah, Rin! Lu salah besar. Justru karena dia perhatian banget ke elu tu dia pingin elu brubah. Dia ngasih support ke elu.”
“Bo’ong. Lu jangan sekali-kali belain dia di depan gue.” Ririn mengusap air matanya.
“Gue nggak bela siapa-siapa, Rin. Gue cuma bilang apa adanya.”
“Aaaah, sudahlah…”
Hembusan angin sore itu membuat ujung selendang tipis penutup rambut kucir kuda Ririn berkibar-kibar. Juga membuat kerudung Oja agak berantakan. Tapi mereka tak memperdulikannya.
“Ayo pulang.” Ajak Oja. Mereka beranjak.
***
Pagi ala Parangtritis menawarkan kabut yang amat tebal di sekeliling Arsenal. Kicauan burung-burung berlomba bertasbih kepada Yang Menciptakan mereka. Saat itu, Ali ingin melaksanakan niatnya, menanyai Ririn untuk yang kedua kalinya tentang pria gondrong yang dia lihat beberapa hari yang lalu, meski Ali sendiri yakin siapa sebenarnya dia. Tapi kemudian dia ingat Yoga kemarin mengajaknya lari pagi. Dia tak ingin mengecewakan teman karibnya.
Ali dan Yoga menembus tebalnya kabut dan dinginnya hawa pagi. Pikir mereka, setelah lari-lari, tentu badan akan terasa lebih hangat. Di kejauhan mereka berdua melihat sesosok perempuan berdiri di pinggir jalan.
“Siapa tuh, Yog ?”
“Tahu. Tapi, dilihat dari kerudung biru muda itu, kayaknya Oja. Tadi habis subuh aku lihat dia pake itu. Subhanallah, dia sekarang berubah drastis. Dah nutup aurat, dah nggak pacaran lagi. Alhamdulillah, manfaat tadabbur alam ini jelas terlihat di cewek itu.”
“Iya, aku juga turut bersyukur. Tapi, kira-kira sama Ririn nggak, ya ?.”
Yoga terperanjat. “Ngapain cari Ririn ?”
Ali tersenyum simpul, sudah menyangka Yoga bakal sinis dengan jawabannya. “Jangan su`uzhon dulu, aku cuma mau nanya ke dia soal pria gondrong tadi malam”
“Ah, kayaknya percuma. Dia nggak bakal ngaku.”
“Kita lihat aja.”
Mereka mempecepat lari. Setelah mereka dekat, Ali mengucapkan salam. Oja menjawab salam Ali. Tapi wajahnya yang semula riang, kini berubah memerah.
“Kok sendiri ? Nggak sama Ririn ? Biasanya kan kamu bareng dia ?”
Oja menunduk. Dia terlihat bingung. Di tengah keadaan yang seperti ini, mereka mendengar suara seseorang dari arah pohon di depan mereka.
“Heeeeiii, Jaaaaa ! Gue dapet banyak niiih !” seru Ririn tanpa melihat ke arah Oja, tampaknya dia tidak tahu di bawah ada Ali dan Yoga.
Kontan Ali, Yoga dan Oja menoleh ke arah pohon. Bukan main terkejutnya Ali dan Yoga ketika melihat Ririn berada di puncak pohon jambu air. Jaket merah jambunya menggelembung besar, yang tidak lain dan tidak bukan dia pakai untuk mengantongi jambu air yang dipetiknya.
“Astaghfirullaaah.” Desis Ali seraya memalingkan wajah. Yoga menggeleng kepala. Oja hanya menunduk saja, Sorry, aku udah ngingetin dia tadi. Tapi dianya bandel banget.”
“Riiiiiin, turun Riiin” Teriak Oja.
“Bentar, gue belum puas, niiih.”
“Udah aja, Riiiin !”
Sebentar kemudian terlihat sosok Ririn muncul dari balik dedaunan yang amat rindang. Dilihatnya Yoga dan Ali yang memandangi sosoknya yang menggelikan. Ranting-ranting dahan yang telah kering menempel di rambut, dan semua bajunya. Bagian bawah celana panjangnya sobek sedikit. “Duuh, ngapain tuh cowok ada di sini ? Pake melotot lagi !” Kata batinnya. Sebenarnya Ririn tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Pikirnya masak gue mau merambat turun pas di sana ada dua orang cowok ? Ya nggak pede, laah ! Mana mereka pentolan rohis, lagi. Celana panjang yang aku pakai juga robek sana-sini…duuuh gimana, ya ? Dia masih berdiri tergugu di tengah-tengah rindangnya pohon jambu.
“Ayo, Rin ! Ngapain diam di situ ?”
“Jaa ! Sini Ja !” Seru Ririn sambil melambaikan tangan ke arah Oja. Oja mendekat. “Gue mau turun. Tapi suruh mereka pergi duluan.” Kata Ririn sedikit berbisik.
Oja mengerti. Dia langsung memberi isyarat kepada Ali dan Yoga untuk pergi sebentar. Mereka berdua bersembunyi.
“Udah, ayo turun !”
“Oke !” Ririn bersiap-siap merambat turun. Tapi matanya tertuju ke beberapa ekor makhluk berbulu yang lebih dulu merambat di sekitar pohon yang akan dia rambati. Seketika bulu kuduknya berdiri. Ririn memang paling jijik dengan ulat. Tak tanggung-tanggung dia langsung menjerit.
“Ada apa, Rin ?”
“Itu…itu… uletnya banyak banget…hiiiih..Ja..badan gue gatel semua, niih.. mrinding. Gimana, donk ? Kamu nggak jijik kan sama ulet ?”
“Aduuh, gue juga jijik.”
““Waah, tamatlah riwayat guee..”
“Minta tolong sama mereka aja, ya ?”
Ririn langsung mengiyakan meski hatinya tetap tidak terima. Ali dan Yoga datang setelah dipanggil oleh Oja.
“Ulet-ulet ini kalo dipindah, bulunya akan menyebar. Nanti kita bakal gatalan semua. Kamu loncat aja, deh !” Kata Yoga. YOGA ORANGNYA MUNTAMI, TAPI AGAK KONYIL.
“Apa ? Loncat ? Duuuh, ini tinggi banget. Cari tangga, donk !”
“Sudah loncat saja. Jarak antara Arsenal dan tempat ini lebih jauh daripada jarak ulet-ulet yang mo naik ke atas. Sudah cepat ! Aku tolong kamu.” Kata Ali tegas.
“Lhoh bukannya nggak boleh bersentuhan ?” Oja tampak heran.
“Di sini nggak ada orang yang bisa bantu dia kecuali kami. Insya Allah, ini darurat. Atau kamu kuat nerima tubuh Ririn ?” Tanya Ali tegas. Oja menggeleng. “Ayo cepat ! Satu dua tiga !” Ali memberi aba-aba. Oja menutup mata……
Beberapa detik kemudian Ririn sudah berada di bawah. Badannya yang ramping membuat dada Ali terasa ampek. Cepat-cepat Oja membantu Ririn berdiri dan membantunya membersihkan tubuh yang penuh ranting-ranting kering. Jambu-jambu yang dipetiknya berlarian ke mana-mana. Satu dari jambu itu berada tepat di depan sebuah sepeda. Ali mendengar dehem seseorang. Dia memaksakan diri untuk segera bangun meski punggungnya terasa nyeri. Yoga membantunya. Sambil membersihkan bajunya yang kotor terkena tanah, dia melihat sosok Rey dan tiga kawannya berdiri tergugu. Sebenarnya Ali merasakan perih di betis, tapi dia tak mau memperhatikannya.
“Ow, jadi pada pacaran di sini ?” Rey mendekati Ali. “Kamu ? Apa yang kamu lakukan di sini ? Nggak sadar kamu tu siapa ? Kamu ketua rohis. Lupa, ya ?”
Setenang mungkin Ali menghadapai situasi. Dia mengerti Rey sangat percaya padanya. “Rey, Jangan salah paham ! Denger dulu, tadi aku dan Yoga lari pagi. Kebetulan kita ketemu Oja. Ternyata Ririn udah ada di pohon itu. Nggak bisa turun gara-gara banyak ulat. Keadaannya darurat, nggak ada yang bisa nulungin dia kecuali kita. Suer nggak ada unsur kesengajaan.”
Rey tersenyum. “Aku percaya kamu.” Kemudian dia mendekati Ririn. “Sebelum berangkat, gue dah punya perasaan kalo kamu tu cuma bakal bikin orang susah !” Ujarnya kepada Ririn. “Lihat !” Rey menunjuk ke arah betis Ali. Celana panjang yang dipakainya berlumuran darah. “Puas kamu bikin susah orang ?”
Ririn hanya menunduk. Di balik sanubarinya yang dalam sebenarnya dia merasa bersalah dan berhutang budi.
“Kapan, sih lu mo tobat ? Mo jadi apa lu di dunia ini ? Brandal ? Dari dulu kerjanya usil mulu, nyusahin orang mulu, buat onar mulu. Kapan lu tobat ?” Rey memberondong Ririn dengan kata-kata pedas.
“Heh ! Jangan lu sangka gue nggak bisa jawab kata-kata elu. Kalo bukan gara-gara gue capek dan mo ngebersiin nih badan, lu udah gue abisin. Tau nggak lu ? Ayo, Ja.” Ririn mengajak Oja kembali ke wilayah Arsenal. Sebelum pergi, Oja menghampiri Ali, “Li, Jazakallah khair, ya..” Kata Oja, kemudian pergi sambil berlari kecil menyamakan langkah dengan Ririn. Ali tersenyum tipis. Batinnya, rencana yang dibuatnya batal sudah…
***
Di sebuah gubuk kumuh tampak seorang pria berambut lurus gondrong bercakap-cakap dengan temannya di HP. Kepulan asap rokok memenuhi gubugnya yang kecil.
“Sorry, gue belum bisa ketemuan lagi sama Ririn. Jadi, gue belum bisa kasi ke elu. Besok lusa, gue ada janji sama dia. Mau ketemuan di kebun kelapa.”
“Oke, beres deh. He Yok! Lu bisa jamin kan dia cantik n cakep?”
“Ow..suer, deh. Yang ini mah paling cantik. Kalo lu nggak kasih ke gue tujupuluh juta, gue nggak akan serahin ke elu. Gue santap sendiri.”
“Tenang aja, Yok! Masalah uang, kecil bagi gue.”
“Oke. Besok lusa lu pergi ke kebun kelapa jam delapan malem sambil ngebawa uangnya dan gue bawa ceweknya.”
“Oke. Sampe ketemu lusa.”
HP mereka terputus. Tawa pria gondrong itu menggelegar.
***
Sore itu, Ririn berdiri di tepian pantai. Tak peduli dengan air asin yang berulang kali menyapa kakinya. Pandangan matanya lurus, mengamati cakrawala yang sedang mengiringi kepergian matahari. Desiran angin membuat rambut panjangnya menari-nari. Dikuatkannya dekapan tangan ke dadanya, berharap tubuhnya akan menjadi lebih hangat. Pikirannya jauh menerawang, memikirkan Ryan, pacarnya. Dua hari yang lalu, sesudah menikmati pemandangan pantai bersama kawan-kawannya untuk bertadabbur, dia melihat sosok Ryan di antara para pembeli ikan bandeng. Ingin ia memanggil untuk memastikan, tapi tak mungkin. Kawan-kawannya pasti akan tahu. Dan yang paling membuat dia gusar, orang yang mirip Ryan itu sedang bersama seorang cewek. Dia mendekapnya erat. Ah, nggak mungkin dia Ryan. Tapiii, rambut itu..kemeja yang dipakainya itu…
Sesudah shubuh tadi Ririn kebagian piket masjid. Dia menemukan buku Ali yang tertinggal. Iseng-iseng dibukanya buku itu. Matanya tertumpu pada sebuah tulisan yang bersumber dari sebuah surat kabar, “Dicari ! Seseorang bernama Yoyok, ciri-ciri memakai tindik di telinga, berambut gondrong dan memakai tato naga besar berwarna biru tua di sekitar dada sampai lengan atas. Tinggi sekitar 185 cm. Tertuduh telah menjual banyak wanita ke luar negeri. Dan sebelum wanita-wanita tangkapannya dijual, dia merenggut kehormatan mereka dulu….”
“Nggak mungkiiiin !” Ririn memekik keras. Sebentar kemudian dia mendengar pantulan suaranya sendiri. “Nggak mungkin Ryan seperti itu. Dia sayang gue…” Diingatnya pula dulu Ryan pernah mengajaknya pergi ke London. Tapi itu untuk menonton turnamen sepakbola. “Bukan untuk menjual gue..” Bisiknya.
Sayup-sayup didengarnya suara langkah kaki dari arah belakang. Tapi dia enggan menoleh.
“Assalamu’alaikum”
Suara itu, suara Andy, bekas pacar Oja. Hari ini, dia bertugas memeriksa daerah sekitar Arsenal. Barangkali ada dari kalangan peserta yang belum balik. Ririn tidak menjawab juga tidak berpaling. Dia masih di tempatnya seperti tadi.
“Sudah jam lima lebih seperempat. Sebentar lagi maghrib. Kamu harus pulang.”
Ririn melangkah tanpa berkata apapun. Andy ingat betapa Oja kebingungan mencarinya. Ternyata dia ada di tepian pantai. Andy segera menelpon Oja.
“Ya Allah, Riin. Kenapa elu nggak bilang-bilang kalo pergi ke tepi pantai ? Aku kan bisa temenin elu.”
Ririn diam seribu bahasa, seakan tak mendengar apa yang Oja katakan.
“Kamu kenapa ?”
Ririn tetap diam.
Malam itu, Ririn tak bisa memejamkan mata. Dia ingin bertemu Ryan dan membuktikan bahwa dia bukan penjahat itu. Diraihnya Nokia untuk menghubungi Ryan.
“Ryy..ini Ririn.”
“Ow, hey, Rin.. Apa kabar, Sayang ? Kenapa telpon malem-malem ?”
“Kamu lagi ngapain ?”
“Aku dah tidur.”
“Oh, aku ngebangunin kamu, ya ? Sorry…”
“Oooh, nggak papa. Buat Ririn aku mau ngelakuin apa aja.”
“Ryy, aku pingin ketemuan, nih.”
“Sekarang ?”
“Iya. Kenapa ? Kamu nggak bisa, ya ?”
“Oooo, bisa-bisa. Aku jemput kamu di mana ?”
“100 meter dari Arsenal. Eee..Ryy, aku tidur di tempatmu aja, ya.”
“Apa ? Di tempatku ? Tapi tempatku jelek banget, berantakan lagi. Aku nggak yakin kamu betah.”
“Ke manapun kamu bawa aku, Ryy…Asal kamu ada di sampingku,… Aku pasti betah.”
“Oke, deh ! Sabar, ya sayang…”
Ryan menutup HP-nya dan menghubungi teman bisnis yang menelponnya kemarin.
“Sekarang juga elu kudu dateng ke kebun kelapa. Kalo enggak, lu nggak bakalan dapet cewek manis.”
***
“Jangan ! Jangan ! apa yang akan kau lakukan padanya ? Kurang ajar! Lepaskan dia ! Pergi ! Pergiiii !”
“Astaghfirullaaah..Ali ! Ali ! Sadar, Li ! Sadaaaar !” Yoga mengguncang tubuh Ali yang mengejang. Sebentar kemudian Ali terbangun cepat.
“Astaghfirullah.. A’udzubillahi minasy Syaithonir Rajiiim…” Setelah Ali meludah ke arah kiri tiga kali, Yoga memberinya air putih.
“Tenang… tenang, Lii…Ya Allah, apa kamu belum doa, Li, sebelum tidur ?”
“Udah..aku dah doa.. Aduuh, aku pingin pipis, nih ! Temenin, donk !”
“Oke. Ayo.”
Malam dingin begitu mencekam. Hening begitu kelam. Awan yang terlihat putih menggelantung di langit pekat semakin larut dalam kepekaan. Sinar lampu 10 watt mengurangi kegelapan malam. Samar-samar Ali melihat sosok seorang gadis berjalan beberapa meter darinya. Rambutnya yang panjang sepunggung menari diterpa angin.
“Yog ! Lihat, siapa tuh ?”
“Mana ?”
“Itu ! Cewek di depan.”
“Oooh..nggak tahu.”
“Perasaanku nggak enak, Yog. Kita ikutin, yuk.”
“Tapi katanya kamu pingin pipis.”
“Udah enggak.”
“Oke, deh.”
Mereka mempercepat langkah, karena gadis itu pun semakin cepat langkahnya. Gadis itu berhenti di depan sebuah sepeda motor.
“Astaghfirullah, Yog ! Itu Ririn, Yog ! Dan pria itu.. Allahu akbar..Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
“Iya.. itu Yoyok ! Buronan polisi. Ternyata Ririn jadi targetnya.”
“Yog, kita musti buntutin dia. Kita musti selametin Ririn.”
“Iya gue ngerti. Tapi, kalo kita jalan kaki, kita akan terlambat jauh.”
“Nggak ada jalan lain, Yog. Kita musti lari. Kamu hubungi Firman dan kawan-kawan lain. Suruh panggil polisi.”
“Oke.” Yoga segera menghubungi Firman.
Sepeda motor itu melaju lambat. Ririn meminta Ryan melambatkannya. “Dingin.” Kata Ririn. Hal itu mempermudah Ali dan Yoga membuntuti mereka. Tapi selambat apapun sepeda motor, masih lebih cepat bila dibanding dengan dua kaki. Sepeda motor Ryan memasuki sebuah gang. Ali dan Yoga kehilangan jejak.
“Ini gubugku. Aku sengaja memilih tempat ini supaya aku bisa lebih konsen pada pekerjaan.” Kata Ryan begitu sampai di depan gubugnya.
Ririn hanya tersenyum. Mereka masuk. Ryan mengunci pintu rapat-rapat.
Pandangan Ririn menyapu seluruh isi gubug. “Nggak begitu jelek dan nggak begitu berantakan.” Katanya.
“Ah, masa ? Tentu kalo dibanding dengan kamar Ririn yang bagus, gubug ini di bawah jelek, bukan ?”
Ririn tersenyum.
“Oh, ya Rin. Besok kalo kamu dicari temen-temen kamu gimana ?”
“Ah, masa bodo dengan teman-teman. Aku bosan sama mereka, Ryy. Aku hidup sama kamu aja.”
“Oke, deh. Hidup sama Ririn, cowok mana yang nggak mau ? Tidurlah, Rin !”
Rasa kantuk memang sudah menguasai mata Ririn. Sebenarnya dia tak kuasa lagi membuka mata. Tapi, dia masih berusaha menunggu Ryan yang sibuk dengan HP-nya. Ryan merasa yakin Ririn sudah tertidur pulas. Dia mulai membuka kemejanya dan meminum minuman serbuk. Ririn melihat tubuh Ryan yang sangat kekar dari belakang. Dia kagum pada pacarnya itu.
Ryan berbalik. Spontan Ririn terkejut setelah melihat lengan atas dan dada Ryan penuh dengan tato naga besar berwarna biru tua. Teringat apa yang dibacanya dari potongan surat kabar dari buku Ali. Dia terduduk cepat. Ryan terkesiap.
“Kamu ? Kamu Yoyok bukan Ryan…”
“Ow..kamu belum tidur rupanya. Dan kamu sudah tahu semuanya, sekarang. Aku Ryanmu juga Yoyok yang jadi buronan polisi. Karena kamu sudah tahu semuanya, kamu tak akan aku lepaskan.” Ryan mendekat dan semakin dekat.
“Jangaaan..jangaaaan…”
BRRRUAAAK !!!! Pintu gubug Ryan terbuka dengan paksa oleh tendangan Ali yang jago karate. Ryan terlihat kebingungan dan segera meraih belati di atas meja. Ririn tak henti-hentinya menangis.
“Ririn ! Kemari !” Ririn berhasil lari ke arah Ali.
“Dasar laki-laki nggak tahu malu ! Beraninya jual perempuan ! Nih kalo kamu bisa, jual laki-laki macem aku !”
Ryan mengacung-acungkan belati ke arah Ali. Mereka berduel. Dan seeet..belati itu mengenai lengan Ali…Darah segar mengucur keluar…tapi Ali tetap kokoh.
“Aliii !!!” Ririn memekik.
Tiba-tiba Ririn mendengar suara-suara langkah kaki juga suara-suara ramai orang-orang. “Di mana ? Di mana ?”. Begitu suara yang didengarnya. Segera dia keluar. “Tolooong…Toloooong !” Ririn berteriak memberi tanda.
“Ririn, bilang Allahu Akbar keras-keras ! Teman-teman kita sudah dekat.” Perintah Ali.
“Allahu Akbar ! Allahu Akbar !”
“Dari arah sana !” Suara langkah-langkah itu semakin dekat.
Ririn melihat ikhwan dan akhwat dari kejauhan. Juga para polisi yang membawa senjata lengkap. ‘Alhamdulillaaah’ Pekiknya, senang.
“Ririiiiin, Alhamdulillaaaah !” Oja, Fira, dan teman-teman Ririn yang lain berlari ke arah Ririn. Mereka memeluknya erat-erat. Begitu pula Ririn. Para polisi segera menangkap penjahat itu. Sementara Ali… Dia terkapar.
THE END
peRmiSi…..
iT’s gOOd… bWt lg zuAw… aq TgGu….
bkin zk K rya N dIRI.. oKey
Juli 22, 2009 pada 10:35 am
subhaanalloh…..
bgUs… ne bKinAn dw atOw g?
cOz kyE Q ud dPt CRit ne..
BtW, BKin Lgi Yuaw…..