Oleh: hafmin | Juni 7, 2013

JALAN PINTAS MENUJU AMPUNAN DAN JANNAH ALLAH

JALAN PINTAS MENUJU AMPUNAN DAN JANNAH ALLAH

Dari hamba Allah yang fakir akan ampunan-Nya
Abdulah Muridusy Syahadah
Kepada Kaum Muslimin Di mana Saja Berada, semoga dirahmati oleh Allah
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله , والحمد لله و الصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين , محمد وعلى آله وصحبه الأحرار , ومن تبعهم وسار على نهجهم من المسلمين الأبرار ….وبعد:

Semoga antum semua dalam kebaikan selalu, dan semoga Allah teguhkan hati kita di atas prinsip hingga ajal menjemput kita. Dua kebaikan yang hendak kita raih “Kemenangan atau Kesyahidan” menjadikan kita bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Walau kita harus menghabiskan semua waktu kita untuknya, semua potensi kita kerahkan demi menggapainya, dan kita bawa IRODAH serta QUDROH kita untuk menapakinya. Maka orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang yang diambil oleh Allah dalam keadaan syahid. Fa’tabiruu yaa Ulil Abshor “Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan”!!!!!
Ikhwah fillah …..
Kecintaan ana kepada antum karena Allah mendorong ana untuk menorehkan pena ini dan melayangkan risalah ini kembali kepada antum sekalian. Risalah yang berisi seruan untuk beramal sholih, risalah yang berisi ajakan untuk menggapai kebahagiaan hidup di dua negeri “Negeri Dunia dan Negeri Akhirat”. Walau harus ana telan rasa pahit berbagai ujian, dan walau harus ana tapaki jalan yang berduri dengan cercaan dan ancaman. Namun tidak ada yang ana harapkan kepada antum semua kecuali kebaikan.
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (88)
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Hud: 88)
Ikhwah fillah …..
Allah Ta’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133)
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imron : 133).
Di dalam ayat ini Allah menggunakan “Fi’il Amr (Kata Kerja Perintah)”, yaitu وَسَارِعُوا (Dan bersegeralah kalian). Yang maknanya Allah memerintahkan kita untuk bersegera melakukan sesuatu. Apakah sesuatu yang kita harus besegera di dalamnya? sesuatu itu adalah “Ampunan dan Jannah-Nya”.
Mengapa kita harus bersegera kepada Maghfiroh-Nya sebelum Jannah-Nya? karena kita tidak akan dapat masuk jannah kecuali setelah Allah ampunkan kesalahan kita. Dengan maghfiroh Allah maka kita dapat di masukkan ke dalam jannah-Nya.
Banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan menuju Surga. Namun tahukan antum, “Apakah jalan pintas yang akan menyampaikan kita kepada Ampunan dan Jannah Allah?” jalan pintas itu adalah “Jihad Fie Sabilillah”.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12)
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar”. (QS. Ash Shoff: 10-12).
Pada ayat ke-10-11 Allah menerangkan perdagangan yang tidak pernah rugi, yaitu “Jihad Fie Sabilillah”, lalu Allah menerangkan buah dari berjihad dalam ayat yang ke-12 adalah “Diampunkan dosa dan dimasukkan ke dalam Jannah”.
Allah Ta’ala berfirman:
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (95) دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (96)
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[340] satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[341] dengan pahala yang besar. (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nisa`: 95-96)
Diriwayatkan oleh Al Bukhori dari Abi Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa salam, bersabda:
مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا
فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُبَشِّرُ النَّاسَ
قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan rosul-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan shoum romadhon, maka Allah berhak memasukkannya ke dalam Jannah. Dia berhijrah di jalan Allah atau duduk di tanah kelahirannya.”
(Para shahabat) bertanya : Wahai Rasulullah! Bolehkah kami ceritakan hal tersebut kepada manusia?
Beliau bersabda: “Sesungguhnya di dalam Jannah itu ada seratus derajat (tingkat), disediakan buat mujahidin di jalan-Nya, jarak antara dua Jannah seperti antara lagit dan bumi. Maka jika kalian meminta Jannah mintalah Al Firdaus. Karena (Jannah Al Firdaus) adalah pertengahan dan paling tingginya Jannah, dan darinya mengalir sungai-sungai Jannah, dan di atasnya adalah Singgasana Ar Rahman”. (HR. Bukhori: 2790).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Abi Sa’id Al Khudhri rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ
فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالَ وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Baransiapa ridho Allah sebagai Rob, Islam sebagai Dien, Muhammad shollallahu „alaihi wasallam sebagai Rosul, maka wajib baginya Jannah”. Abu Sa’id heran, lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Ulangilah itu untukku!, lalu (Rasulullah mengulanginya), kemudian beliau bersabda: “Dan (nikmat) yang lain adalah bahwa Allah mengangkat (derajat) bagi seorang hamba itu seratus derajat, jarak antara kedua jannah itu seperti antara langit dan bumi. (Abu Sa’id) bertanya: Apa itu wahai Rasulullah?! beliau bersabda: “Jihad Fie Sabilillah”. (HR. Muslim. 1884).
Ikhwah fillah …..
Subhanallah ….. tidakkah kita ingin menggapai jannah tertinggi? tidakkah kita ingin mendapat kemuliaan dari Allah dengan predikat “Mujahid”?
Allah Ta’ala menempatkan para syuhada di Jannah bersama para nabi, shiddiqin, dan sholihin.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69)
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An Nisa`: 69).
Dan Allah juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)
“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah: 111).
Dan firman Allah:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (171)
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[249], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imron: 169-171).
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سِتَّ خِصَالٍ: أَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ وَيُزَوَّجَ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُجَارَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنَ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُوضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعَ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ
“Sesungguhnya bagi orang yang syahid mendapatkan enam bagian (keutamaan):Diampuni dosanya sejak tetes darah pertama, diperlihatkan tempat duduknya di Jannah, Dihiasi dengan perhiasan Iman, Dinikahkan dengan Bidadari, dihindarkan dari adzab kubur, selamat dari goncangan yang dahsyat, dipakaikan mahkota di atas kepalanya dari Al Yaqut yang lebih baik dari dunia dan seisinya, dan memberi syafaat tujuh puluh kerabatnya”. (HR. Ahmad, At Turmudzi, At-Thobroni dan Ibnu Majah dengan lafazh berbeda)
Ikhwah fillah …..
Ternyata jalan pintas untuk segera sampai kepada Ampunan dan Jannah Allah adalah Jihad fie sabilillah!!!!!
Mungkin antum belum jelas bagaimana hendak berjihad? Dan dimana kita akan berjihad? Siapa yang akan kita jihadi? Dan bersama siapa kita akan berjihad?
Kita berjihad fie sabilillah, dalam rangka meninggikan kalimat Allah yang tinggi, dan dalam rangka membela Islam dan kaum muslimin. Kita berjihad di mana saja bumi kita pijak yang disitu ada orang kafir harbi, terutama yang di situ ada Amerika dan sekutunya (antek-anteknya). Merekalah sasaran utama jihad kita hari ini. Adapun jika antum mampu melakukan amaliyat jihadiyah sendirian maka lakukanlah. Dan jika antum tidak mampu sendirian maka bergabunglah dengan tandzim jihad di mana antum berada, atau antum membuat kelompok kecil sendiri dalam rangka melakukan amaliyat jihadiyah.
Syekhul Mujahid Abu Abdillah Usamah bin Ladin hafidzohullah berkata :
لا تشاور أحدا في قتل أمريكان امض على بركات الله فتذكر موعدك الجنة
“Janganlah kalian (mengajak) musyawarah (persetujuan) pada siapa pun di dalam memerangi Amerika, berjalanlah di atas barokah Allah. lalu ingatlah bahwa janji untukmu adalah Jannah”.
Kejarlah kematian niscaya akan antum dapatkan kehidupan. Sebagaimana yang dikatakan oleh shahabat Abu bakar rodhiyallahu ‘anhu:
أطلبوا الموت توهب لك الحياة
“Carilah kematian! niscaya akan engkau dapatkan kehidupan”.
Syekh asy syahid –insya Allah- Kholid al Islambuli rohimahullah berkata:
كثير من الناس من يتخذ الحياة طريقا إلى الموت وأنا اخترت الموت طريقا إلى الحياة
“Mayoritas manusia menjadikan kehidupan sebagai jalan menuju kematian, dan aku jadikan kematian sebagai jalan menuju kehidupan”.
Kenapa harus mengejar kehidupan dengan kematian wahai ikhwah????….. Karena Allah berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ (154)
“Dan janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup , tetapi kalian tidak menyadarinya”. (QS. Al Baqoroh : 154). 
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (171)
“Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[249], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imron: 169-171).
Ihwah fillah …..
Marilah kita lepaskan belenggu-belenggu yang menjerat leher-leher kita dari berjihad fie sabilillah. Belenggu-belenggu itu sangatlah banyak sekali. Diantaranya: Jabatan, profesi, pekerjaan, ikatan dinas, kelompok, tokoh, keluarga, tempat tinggal, harta dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (24)
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan RasulNya serta dari berjihad di jalanNya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan KeputusanNya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (QS. At Taubah: 24).
Inilah yang biasa menjadi penjerat leher dan kaki kita untuk berjihad fie sabilillah. Dan inilah yang biasa menjadi penghalang kita untuk tidak berjihad fie sabilillah. Wal ‘iyadzu billah…..
Syekhul Mujahid Abu Abdillah Usamah bin Ladin hafidzohullah berkata:
Demikian juga, seharusnya kita mencari sebab-sebab internal yang pokok yang menyebabkan menyimpangnya perjalanan kita dari shirat al-Mustaqim (jalan yang lurus) dari dalam, dan dari kekuatan aktif di dalam penyimpangan, maka sesungguhnya kita dan tanpa susah payah akan kita dapatkan bahwa faktor yang terpenting di antara mereka adalah;
1. Umara‟
2. Ulama‟ dan Khathib yang jahat .
3. Tokoh-tokoh Gerakan Islam yang cenderung kepada orang-orang dhalim .
4. Juru penerang pemerintah dan orang-orang yang mengikuti jejaknya
Dan hakekat yang pahit yaitu; bahwa para pemimpin telah merasa mantap dengan berbagai macam penyesatan dan hasutan yang dilakukan oleh masing-masing juru bicaranya, kemudian mereka memberangus mulut orang yang menolak mereka, kecuali orang yang dirahmati Allah…. – selesai perkataan beliau-. (bisa dilihat di dalam terjemah taujihat manhajiah 3 hal: 9-12).
Ikhwah fillah …..
Sesungguhnya yang menentukan kita bahagia di akhirat hanyalah diri kita sendiri “Setelah Allah”, karena Allah menganugerahkan kepada kita dua hal: IRODAH (Kemauan) dan QUDROH (Potensi). Tergantung kita bawa kemana IRODAH dan QUDROH kita.
Jika antum hidup dalam suatu kelompok (jama’ah), maka jangan sampai jama’ah antum menjadikan penjerat leher antum untuk berjihad, dan jika antum hidup di bawah kepemimpinan seseorang, maka jangan sampai Sam’u wa Tho’ah kepadanya menghalangi antum untuk berjihad fie sabilillah. Antum boleh saja berpindah dari satu jama’ah kepada jama’ah lain yang lebih baik darinya, antum bisa saja berpindah kepemimpinan dari seseorang kepada orang lain yang lebih baik darinya. Karena jama’ah hari ini hanyalah bagian dari JAMA’ATU MINAL MUSLIMIN (Jama’ah dari jama’ah-jama’ah kaum muslimin), bukan JAMA’ATUL MUSLIMIN (Khilafah). Jika kita keluar dari Jama’atu Minal Muslimin menuju Jama’atu Minal Muslimin yang lebih baik, maka itu tidak melanggar syari’at dan bahkan begitu seharusnya. Tapi jika kita keluar dari Jama’atul Muslimin, maka kita telah MURTAD dan halal darah, kehormatan dan harta kita. Na’udzu billahi min dzalik …..
Ikhwah fillah …..
Ana seru antum untuk fanatik kepada kebenaran, bukan fanatik kepada kelompok dan atau tokoh tertentu. Ana seru antum untuk berlomba-lomba di dalam amal sholih, bukan berlomba-lomba dalam bergabung di dalam suatu jama‟ah. Sesungguhnya keberadaan kita hanyalah menjadi salah satu ASBAB (sebab-sebab) datangnya kemenangan dan pertolongan Allah. jika kita tidak ada maka akan ada orang lain yang akan menjadi ASBAB ini. Lebih baik kita menjadi PENGGANTI orang yang tidak mau berjihad daripada menjadi yang DIGANTI oleh orang-orang yang mau berjihad.

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
لا حول ولا قوة إلا بالله والعزة لله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bumi Allah, 13 Maret 2009 M
16 R. Awwal 1430

Dari hamba Allah yang Faqir terhadap rahmat-Nya
Abdullah Muridus Syahadah Hafidzoniyallahu Wa Ro’ani
Kepada para ikhwah mujahidin dan kaum muslimin hafidzokumullah wa ro’akum
سلام الله عليكم ورحمته وبركاته
الحمد لله رب العالمين , الرحمن الرحيم , إله المرسلين , الذي أنزل الكتاب المبين على قلب نبيه ليكون نذيرا للعالمين , مالك يوم الدين , الذي له الحمد في الأولى والآخرة , وله الحكم وإليه ترجعون .
ثم الصلاة على خير من بعث فأدى , وبلغ فأفى , ورادوه المشركون للتنازل عن دينه فأبى , فصلوات الله وسلامه عليه تترى ,حتى يتقبل ويرضى . أما بعد,
Semoga antum semua dalam kebaikan selalu. Dan semoga Allah selalu menyatukan kita di atas kebaikan dan kebenaran. Dan semoga Allah menyatukan hati kita di atas ikatan “Ukhuwwah Fillah”. Walaupun kita berada di dalam kelompok dan jama’ah yang berbeda, namun kita bersatu di atas “MABADI’”. Sesungguhnya ikatan yang paling kuat hanyalah ikatan iman. Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda:
أوثق عرى الإسلام الحب في الله والبغض في الله
“Ikatan yang paling kuat di atas Islam adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah”. (HR. Ibnu Abi Syaibah. Hadits dengan makna serupa juga diriwayatkan at-Thobroni dan al-Baihaqiy)
Sungguh, rasa cinta dan sayang serta pembelaan saya terhadap jihad dan mujahidin menjadikan saya harus menulis risalah ini. Dan karena perihnya perasaan saya, yang melihat jihad dan mujahidin “disisihkan, dimarginalkan, difitnah dan dibiarkan” oleh sebagian kaum muslimin –terkhusus para aktifis Islam-. Sehingga perasaan ini menyisakan lubang yang menganga dan keprihatinan yang mendalam di dalam hatiku.
Andai ana dapat membantu mujahidin lebih dari sekedar menulis risalah ini, insya Allah akan ana lakukan. Seandainya ana dapat melapangkan kesempitan mujahidin yang dialami, insya Allah akan saya lakukan, dan seandainya ana dapat menyembuhkan luka dan sakit para mujahidin yang diderita, insya Allah akan saya lakukan. Namun karena Qudroh (potensi) yang lemah sehingga hanya ini yang bisa ana lakukan. Semoga sedikit menjadi udzur di hadapan Allah nanti ketika ditanya: “Apakah dulu di dunia kamu membantu Mujahidin?”
Risalah ini hanyalah hasil dari sebuah muhasabah dan perenungan yang mendalam mengenai hal ihwal sebagian kaum muslimin, terkhusus sebagian “Abnaul Harokah” (Aktifis Pergerakan) yang hidup di dalam jama’ah-jama’ah tertentu, yang mereka kurang peduli terhadap kepentingan jihad dan mujahidin. Ada diantara mereka yang terikat oleh sam’u wa tho’at kepada Amir (Ketua Jama’ah) sehingga tidak mau memberikan bantuannya kepada jihad dan mujahidin, ada yang beralasan terikat oleh bai’at yang telah diberikan kepada suatu jama’ahsehingga tidak mau menolong mujahidin, dan ada yang beralasan karena para mujahdin itu bukan dari kelompok mereka, sehingga mereka tidak mau menyediakan tempat tinggal buat para mujahidin, atau bahkan yang lebih eronis lagi adalah, mereka menganggap bahwa para mujahidin ini telah merusak tatanan dakwah dan tandzim mereka. Wal ‘iyadzu billah.
حسبنا الله ونعم الوكيل , نعم المولى ونعم النصير
لا حول ولا قوة إلا بالله
Akhie fillah …..
Ana mengajak antum untuk merenungi firman Allah di bawah ini :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2)
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al Maidah: 2).
Tafsir ayat:
“Allah Ta’alamemerintahkan kepada hambanya yang beriman untuk saling MU’AWANAH (Saling tolong menolong) untuk melakukan kebaikan, yaitu Al BIRRU, dan meninggalkan kemungkaran, ini adalah TAQWA, dan melarang mereka dari tolong menolong atas kebatilan dan perbuatan dosa dan haram”.
Ibnu Jarir berkata:
الإثم: ترك ما أمر الله بفعله ، والعدوان : مجاوزة ما فرض عليكم في أنفسكم وفي غيركم
“Yang disebut DOSA adalah meninggalkan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Ta’alauntuk menjalankannya”. Yang dimaksud PERMUSUHAN adalah: “Melampoi ketentuan Allah di dalam Dien, dan melampoi batas terhadap sesuatu yang diwajibkan pada diri kalian sendiri dan pada orang lain”.
Imam Ahmad berkata: “Bercerita kepada kami Husyaim, bercerita kepada kami Ubaidullah bin Abi Bakar bin Anas, dari kakeknya Anas bin Malik, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shollallahu ‘alaihiwasallam:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا أَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ ظَالِمًا قَالَ تَحْجُزُهُ تَمْنَعُهُ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
“Tolonglah saudaramu yang berbuat dholim atau yang didholimi”. Rasulullah ditanya: “Aku tolong orang yang didholimi, lalu bagaimana caranya aku menolongnya jika dia dholim?” Beliau menjawab: “Engkau cegah dia (dari malakukan kedholiman), itulah (bentuk) pertolonganmu kepadanya”. (Shohih Imam Ahmad: 3/99) (Silahkan dilihat di dalam Tafsir Ibnu Katsir: 2/9).
Ikhwah fillah …..
Allah Ta’ala berfirman:
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ (2)
“Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al Hasyr: 2).
Berdasarkan ayat ini ana akan sampaikan kepada antum beberapa kisah yang dapat kita ambil ibroh (pelajaran) darinya. Bukan karena sentiment, sakit hati ataupun ghibah. Dan hanya Allah lah yang tau isi hati para hambanya:
Kisah pertama:
“Suatu hari, akhie As Syahid – وهو حسيبهنحسبه – Jabir rohimahullah shilaturrohim ke salah seorang fulan. Dia bermaksud singgah di rumah tersebut dan mukim beberapa saat disitu. Karena waktu itu akhie Jabir sedang kebingungan mencari tempat escape sehabis amaliyat mubarokah Kedubes Australi Jakarta. Ketika fulan yang punya rumah tahu kalau yang datang akhie Jabir, maka dengan serta merta fulan itu berkata: “Akhie, afwan waktu antum disini cuman satu menit”. Tanpa memberikan solusi dan bantuan, baik moril maupun materiel”. ما شاء الله
Kisah kedua:
Seorang ikhwah mendatangi seorang ustadz senior yang tinggal di satu kota aktivis, ikhwah ini datang mengantarkan risalah seorang ikhwah matlubin (DPO) –yang sekarang sudah ditangkap thoghut-. Ikhwah ini mengucapkan salam dan mengetuk pintu, setelah dibukakan pintu oleh ustadz tersebut, ikhwah ini bertashofah (jabat tangan) dengan ustadz tersebut. Karena belum dipersilahkan masuk, ikhwah itu langsung mengeluarkan sebuah amplop –titipan dari ikhwah matlub- kepada ustadz itu. Surat itu diterima oleh ustadz tersebut. Namun belum sempat surat itu dibawa masuk rumah dan dibaca, tiba-tiba ustadz tersebut bertanya: “Surat ini dari siapa?” sang ikhwah menjawab: “Dari ustadz fulan”. Setelah mendengar jawaban dari ikhwah ini, ustad tersebut dengan serta merta menyerahkan surat itu kembali dan berkata: “Afwan-afwan akhie….. Tolong antum kembalikan surat ini kembali kepada beliau”. Dengan terheran-heran dan bercampur berbagai macam TASAULAT (pertanyaan yang belum jelas) maka dengan bingung akhie ini pergi meninggalkan rumah ustadz tersebut. ما شاء الله
Kisah ketiga:
Ada seorang ikhwah yang ditangkap oleh thoghut –laknatullah ‘alaihim-. Setelah beberapa hari dari hari penangkapan, datanglah seorang fulan ke salah satu orang tua (ortu) ikhwah mujahid yang ditangkap thoghut. Ketika si fulan ini bertemu ortu ikhwah mujahid, dia berkata: “Pak….. si akhie –anak bapak tersebut- sudah bukan orang jama’ah lagi. Jadi tidak perlu dibantu”. Mendengar perkataan si fulan ini bapak ikhwah mujahid ini berkata dengan nada marah: “Seandainya semua orang memusuhi anak saya dan tidak setuju dengan dia, sungguh aku pasti membelanya. Jika ada yang macam-macam dengan anak saya, silahkan langkahi dulu mayatku”. Mendengar jawaban dari ortu ikhwah mujahid ini, maka si fulan tersebut tertunduk dan tidak berani berkata-kata lagi dan akhirnya dia pamit pulang. ما شاء الله
Dan masih banyak lagi kisah-kisah seperti ini.
Ikhwah fillah …..
Ketika seorang da’i dan atau ustadz menyampaikan ayat:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”.
Maka kebanyakan keterangan yang diberikan adalah hanya menyangkut ke dalam urusan yang tidak mengandung resiko. Atau bahkan di dalam mu’awanahtersebut menjadikan orang yang menolong tersebut menjadi orang yang berjasa, terpandang dan bahkan pahlawan. Namun jika mu’awanah itu di dalam urusan yang “beresiko” seperti dalam urusan jihad dan mujahidin, maka ia tidak mau dan takut melakukannya. Bahkan dengan nada dan sikap yang sinis dia menolak serta melarang pengikutnya untuk membantu dan menolong kepada jihad dan mujahidin. Karena jika ia membantu jihad dan mujahidin, maka ia takut akan ditangkap thoghut karena telah membantu tindak terorisme, atau dipenjara, dls. Atau jika dia membantu urusan jihad dan mujahidin, maka hanya dikhususkan dalam kelompoknya saja. Seakan ada kesan bahwa jihad dan mujahid yang di luar kelompoknya tidak perlu dibantu, bahkan terkesan membahayakan. Na’udzubillahi min dzalik.
Apakah para da’I yang seperti ini tidak sadar dengan firman Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara”. (QS. Al Hujurot: 10).
Dan apakah dia lupa dengan sabda Rasulullah shollalhu ‘alaihi wasallam:
المُسْلِمُ أَخُوْ المُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ…
“Seorang muslim adalah saudara seorang muslim. Ia tidak boleh menzholiminya dan tidak boleh menyerahkannya (pada musuh) …” (Muttafaq ‘Alayh)
المُسْلِمُ أَخُوْ المُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ…
“Orang Muslim adalah saudara orang muslim. Ia tidak boleh mendzoliminya, tidak boleh mencuekkannya dan tidak boleh menghinannya…” (HR. Muslim dan yang lainnya).

Apakah dia tidak sadar ketika dia menolak ikhwah mujahid yang matlub untuk singgah di rumahnya tanpa memberi solusi kepadanya, itu pada hakikatnya dia telah menyerahkan ikhwah mujahid matlub tadi kepada musuh? Apakah ketika dia tidak menginfaqkan hartanya kepada jihad dan mujahidin, dia tidak sadar bahwa pada hakikatnya dia telah mendholimi mujahidin? Jika dia telah mendholimi, menghinakan dan menyerahkan ikhwah mujhaid kepada thoghut, bukankah ini merupakan tindak kekufuran? Wallahu a’lam bish showab.

Kadang mu’awanah itu dilihat oleh sebagian orang dari kacamata kelompok, kadang munashoroh itu dilakukan oleh sebagian orang atas dasar jama‟ah, kadang mukafalah itu dilakukan oleh sebagian orang dengan timbangan satu kepentingan. Bukannya mu’awanah, munashoroh dan mukafalah itu dilakukan atas dasar Islam dan Iman. Bukankah kita disebut bersaudara dikarenakan kita muslim? Bukan ikatan kelompok dan jama’ah tertentu!!!!! Rasulullah shollallahu ‘alaihiwasallam melarang keras dari sikap ashobiyyah ini, dan menjuluki orang yang mati dalam ashobiyyah maka kematiannya dalam jahiliyyah. Na’udzu billahi min dzalik
Apakah kita tidak tahu bahwasanya infaq dan bantuan yang kita peruntukkan fie sabilillah (jihad) itu akan dilipat gandakan menjadi tujuh ratus lipat oleh Allah Ta’ala:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al Baqoroh: 195).
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqoroh: 261).
Suatu ketika syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah ditanya: “Disatu daerah ada mujahidin yang membutuhkan dana bantuan. Di satu daerah yang lain ada orang-orang yang kelaparan yang membutuhkan dana bantuan. Manakah yang harus didahulukan? Beliau menjawab: “Berikan kepada jihad dan tinggalkan orang yang kelaparan”.
Karena jika orang yang kelaparan itu mati maka yang mematikan adalah Allah. Tapi jika kita tidak membantu jihad maka sama saja kita membunuh para mujahidin melaui tangan-tangan kita dan akan mencelakakan bagi orang lain.
Apakah tidak pada sadar, bahwa jika orang yang membantu para mujahidin, kemudian setelah ia membantu jihad dan mujahidin, lalu dia diuji dengan penjara, disiksa bahkan dibunuh. Apakah dia tidak sadar bahwa itu akan menghilangkan dosa-dosanya dan menghantarkan dia pada syahadah?
Contoh: Ketika seorang ikhwah menyediakan tempat bagi seorang ikhwan mujahid matlub. Lalu rumah tersebut dikepung dan disergap oleh thoghut. Lalu terjadi baku tembak yang mengakibatkan terbunuhnya ikhwah mujahid dan ikhwah yang membantu menyediakan tempat. Apakah ikwah yang membantu menyediakan tempat ini tidak mati syahaid? Dan bukankah justru keberadaan ikhwah mujahid itu mendekatkannya kepada syahadah dan jannah? Silahkan antum jawab sendiri dan renungkanlah! Maka pada hakikatnya orang yang menyediakan tempat buat mujahid itu mendekatkannya kepada jannah dan syahadah.
Jika anda ingin ringan membantu mujahidin, bayangkanlah di depan anda syahadah dan jannah, bayangkanlah anda akan bertemu dengan Hurun ‘ien (Bidadari), bukan membayangkan dikejar-kejar thoghut dan penjara!
Apakah anda tidak pernah membayangkan jika yang menjadi matlub itu anda, atau saudara anda, atau bapak anda dan atau anak anda!!!! Apakah anda tidak merasakan betapa berharganya bantuan seorang ikhwah kepada anda, walaupun hanya memberikan seteguk air putih, sepiring nasi kucing, dan sehelai baju layak pakai? Atau hanya bisa membantu antum menidurkan di rumahnya yang sempit, beralaskan tikar plastik, berbantalkan tangan dan berlantaikan tanah liat. Maka anda akan merasakan anda seperti tidur di dalam rumah yang megah, luas, tidur di atas kasur yang empuk, bantal yang empuk dan diatas permadani yang indah. Apakah anda pernah membayangkan itu? Sesungguhnya itu tidak akan dapat dirasakan kecuali oleh orang-orang yang merasakannya.
Ikhwah fillah …..
Janganlah kelompok yang mengikat kita dalam berjama’ah menjadi penjerat tangan kita untuk mengulurkan bantuan kepada mujahidin. Janganlah kepentingan pribadi menahan anda untuk tidak menolong ikhwah mujahidin. Janganlah atas nama SAM’U wa THO’AH kepada seorang Amir/Qoid (ketua) Jama’ah anda menjadikan anda tidak mau membantu mujahidin. Jika anda membantu dan menolak membantu mujahidin itu atas dasar perintah dan larangan qoid anda, maka pada saat itu qoid anda menjadi thoghut. Dan anda pada saat itu menjadi penyembah thoghut. Karena apa yang akan anda lakukan bukanlah tindakan kemaksiatan dan dosa. Bahkan menjadi amal yang sholih buat anda. Apakah anda sadar akan hal itu?
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ (165)
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu [106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (QS. Al Baqoroh : 165).
[106] yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah
Renungan Kisah : Setelah ada ketetapan yang bulat untuk menghabisi Rasulullah Saw , Jibril turun kepada beliau membawa wahyu dari Allah, seraya mengabarkan persekongkolan Quraisy dan bahwa Allah sudah mengizinkan beliau untuk pergi serta menetapkan waktu hijrah, seraya berkata : “Janganlah engkau tidur di tempat tidurmu malam ini seperti biasanya”. Pada tengah hari nabi menemui Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu agar menyertainya dalam hijrah. ‘Aisyah menuturkan kejadian ini dengan berkata: “Tatkala kami sedang duduk-duduk di rumah Abu Bakar pada pagi hari, tiba-tiba ada seorang yang berkata kepada Abu Bakar. Ini adalah Rasulullah yang mengenakan kain penutup wajah. Tidak biasanya beliau menemui kita pada saat-saat seperti ini”.
Abu Bakar berkata: “Demi ayah dan ibuku menjadi jaminannya. Demi Allah, beliau tidak menemuiku pada saat-saat seperti ini kecuali karena ada urusan yang penting”.
Setelah tiba di depan rumah Abu Bakar, beliau meminta izin, lalu masuk rumah setelah Abu Bakar mengizinkannya. Rasulullah Saw. bersabda kepada Abu Bakar: “Pergilah dari tempatmu ini”.
“Ini adalah sesuatu yang bisa menyebabkan suatu kematian. Demi ayahku menjadi jaminanmu wahai Rasulullah”. Kata Abu Bakar.
Beliau bersabda: “Aku sudah diizinkan pergi”.
“Demi ayahku menjadi jaminanmu wahai Rasulullah, apakah aku harus menyertai engkau? Tanya Abu Bakar.
“Ya”, jawab Rasulullah.
Setelah merancang langkah-langkah untuk hijrah, maka beliau kembali lagi ke rumahnya, menunggu datangnya malam. (Bisa dilihat di dalam SIRAH NABAWIYAH. Terjemahan dari kitab ROHIQUL MAKHTUM. Karya : Syekh Shofiyurrahman Al Mubarokfuri. Cet. Pustaka Al Kautsar. Halaman : 221).
Ibroh yang dapat kita ambil :
1. Pada saat itu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam hanya mempunyai sedikit pengikut. Selain pengikut beliau maka semua kafir dan musyrik
2. Abu Bakar dengan rasa berani dan tawakkal kepada Allah, siap dan teguh menemani Rasulullah shollalahu ‘alaihi wasallam. Sementara pada saat itu kafir Quraisy sudah bersatu padu ingin menangkap dan membunuh Rasulullah.
3. Abu Bakar sadar dan tahu resiko yang akan dialaminya jika beliau menemani hijrah dan melindungi Rasulullah Saw . Resikonya adalah “KEMATIAN”.
4. Pembelaan yang diberikan oleh Abu Bakar kepada Rasulullah, walaupun taruhannya nyawa
5. Bantuan yang diberikan oleh Abu Bakar kepada Rasulullah, baik moril maupun materiel
6. Pertolongan yang diberikan oleh Abu Bakar kepada Rasulullah, walaupun resikonya adalah kematian
7. Dll
Ketika Abu Bakar menerima kedatangan Rasulullah Saw. , dan ketika Rasulullah Saw. mengajak beliau pergi untuk hijrah, Abu Bakar dengan senang hati menyanggupi ajakan Rasulullah Saw . Dan Abu Bakar siap menemani beliau untuk pergi hijrah. Padahal beliau sadar bahwa sikap yang diambil Abu Bakar ini penuh resiko. Diantara resiko yang akan dialami dia adalah: Dikejar-kejar musuh, disakiti, dipenjara, dan dibunuh.
Kenapa Abu Bakar mau menemani Rasulullah? Dan kenapa Abu Bakar berani menghadapi segala tantangan dan resiko yang sekiranya akan mengancam dia? padahal dia sadar bahwa semua orang yang ada di bumi ini adalah kafir dan musyrik. Dan pada saat itu jumlah kaum muslimin tidak lebih dari hitungan jari-jemari kita.
Silahkan antum jawab sendiri…..!!!!!

MUHASABAH :
Bagaimana dengan kita?????
Jumlah kita banyak….. Pengikut kita banyak ….. Dana kita banyak …. Tempat tinggal kita banyak ….. Kalangan da’I dan ustadz kita banyak ….. Lalu kenapa kita takut dan tidak mau memberikan bantuan kepada jihad dan mujahidin? Hanya antum yang tahu jawabannya setelah Allah Ta’ala.
Apakah antum tidak yakin dengan firman Allah:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40)
“Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah Telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia Berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kalian tidak melihatnya, serta Dia jadikan kalimat orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang Tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [643]. (QS. At Taubah: 40).

[643] Maksudnya: Orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi , Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi . Karena itu Maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu Bakar dari Mekah dalam perjalanannya ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur. (Lihat dalam Al Qur’an dan Terjemahnya). Jika anda tidak mau menolong mujahidin maka Allah pasti menolong mujahidin. Dan jika anda menolong mujahidin maka Allah akan menolong anda dan mujahidin. Jika anda tidak mau menjadi penolong mujahidin maka Allah akan menggantikan posisi kalian dengan orang lain, yang mungkin secara lahiriah orang pengganti anda itu lebih sedikit ilmunya, lebih lemah fisiknya, lebih miskin hartanya, lebih jelek rumahnya, dan lebih lemah kemampuannya dibanding anda. Tapi bukankah Allah akan menolong mujahidin itu justru dari tangan orang-orang lemahnya?
Ya akhie…..
Marilah kita berlomba-lomba mengejar Jannah….. Marilah kita bersama-sama berlari menuju jannah yang luasnya seluas tujuh langit dan tujuh bumi. Dan marilah kita pinang Hurun ‘iennya, marilah kita terbang di dalam tembolok Burung Hijau di dalam Jannah, marilah kita angkat tangan sambil meneriakkan takbir “ALLAHU AKBAR”. Bahwa mujahidin akan menang dan kafirin akan kalah. “MUJAHIDIN ZINDABAD. KAFIRIN MURDABAT”.
Marilah bergabung dalam kafilah jihad, karena jihad adalah amalan yang paling mulia di dalam Islam. Marilah bergabung bersama mujahidin, karena mujahidin adalah orang yang paling mulia dikalangan hamba Allah yang mulia. Dan marilah kita bersatu padu di dalam amal jihad demi menegakkan kalimah Allah yang tinggi.
Akhie fillah …..
Sedikit harta yang antum sumbangkan fie sabillah akan menjadi peluru untuk menembus musuh.
Sederhananya rumah yang antum persembahkan buat menolong mujahid akan diganti dengan rumah di Jannah oleh Allah
Dan bantuan yang antum berikan kepada mujahidin akan memperkuat jihad dan menghancurkan musuh-musuh Allah dan kaum muslimin.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (73)
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. Al Anfal: 73).
Tidak ada kerugian di dalam jual beli ini. Jika kita mati maka kita mendapat syahadah, jika kita dikejar-kejar maka kita rihlah, dan jika kita dipenjara maka kita akan berhalwat dengan KEKASIH kita Allah ‘Azza Wa Jalla.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11)
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui”. (QS. As Shoff: 10-11).
Akhie fillah …..
Semoga ini bermanfaat buat kita semua. Terkhusus buat jihad dan mujahidin. Dan semoga Allah melapangkan hati kita untuk membantu jihad dan mujahidin.

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير
لا حول ولا قوة إلا بالله
وصلى الله على رسولنا محمد صلى الله عليه وسلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

OASE
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11)
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui”. (QS. As Shoff: 10-11).

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

RISALAH BUAT PARA IKHWAH MUJAHIDIN YANG SUDAH BEBAS DARI PENJARA THOGHUT


Dari hamba Allah yang Faqir terhadap rahmat-Nya Abdullah Muridus Syahadah
Kepada para ikhwan mujahidin yang sudah bebas dari penjara thoghut hafidzokumullah.
سلام الله عليكم ورحمته وبركاته
الحمد لله معز الإسلام بنصره , ومذل الشرك بقهره , ومصرف الأمور بأمره , ومستدرج الكافرين بمكره , الذي قدر الأيام دولا بعدله , والصلاة والسلام على من أعلى الله منار الإسلام بسيفه , أما بعد:
Bagaimana kabar antum sekalian wahai para ikhwah mujahidin yang sudah keluar dari penjara thoghut? Semoga antum semua dalam kebaikan dan keistiqomahan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30)
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepadamereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat: 31).
Dalam menerangkan ayat ini syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata tentang istiqomah:
استقاموا على محبة الله وعلى عبادته ولا يلتفتوا منه يمينة ولا يسرة
“Teguh (tegar) diatas kecintaan kepada Allah dan diatas ibadah kepada-Nya, dan tidak menoleh (berpaling) ke kanan danke kiri”.
Itulah hakikat Istiqomah yang benar. Semoga kita semua tetap istiqomah fie sabilillah ini walau pun kita sudah dipenjara dan mengalami berbagai macam siksaan dari thoghut. Penjara bukanlah pengakhir dari ibadah kita fie sabillah, akan tetapi penjara adalah titik tolak awal untuk melangkah lagi dalam perjalanan fie sabilillah demi menggapai salah satu dari dua kebaikan “Kemenangan atau Kesyahidan”. Karena dengan inilah Allah akan mengetahui orang-orang yang benar dan dusta. Sebagaimana firman Allah:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al Angkabut: 2-3) Dan Allah Ta’ala berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ (142)
“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imron: 142).
Maka jika kita berhenti dari jalan sabilillah ini maka sama saja kita telah berhenti untuk berjalan menuju Jannah. Bukankah begitu?
Ikhwah fillah yang ana cintai …
Kita pernah sama-sama merasakan pahitnya hidup dibawah cengkraman thoghut, kita telah sama-sama merasakan sakitnya disiksa oleh thoghut, dan kita telah sama-sama mengalami suasana tegang saat diintrogasi thoghut, kita pernah sama-sama mengalami pengapnya dan sempitnya hidup di dalam sel terali besi thoghut.
Kita telah sama-sama merasakan perasaan tertekan, takut dan bahkan hampir-hampir murtad dari Dien ini lantaran menghadapi ujian ini. Memang … ana rasakan ujian ini cukuplah berat dan sakit. Yang terkadang menjadikan hati kita lemah dan loyo.
Dalam salah satu nasihat yang disampaikan oleh ustadz Asy syahid –نحسبه وهو حسيبه- Mukhlas Abu Zaid rohimahullah dalam salah satu ceramahnya ketika di LP Batu Nusakambangan Cilacap Jawa Tengah, beliau mengatakan dengan menyitir kesimpulan yang diambil dari nasehat syekh Al-Maqdisi hafidzohullah: “Orang yang dipenjara itu akan terbentuk menjadi tiga kelompok:
Pertama: Orang yang tetap istiqomah dan semakin kuat imannya dengan ujian ini. Dan ia akan melanjutkan jihad fie sabilillah setelah ia bebas nanti
Kedua: Orang yang futur (loyo/patah semangat) untuk berjihad kembali. Karena takut ujian ini menimpanya kembali
Ketiga: Orang yang murtad karena menjadi Anshorut Thoghut (Antek-antek Thoghut) dan berbalik memusuhi jihad dan mujahidin. –Habis perkataan beliau rohimahullah-. Wallahu a’lam bish showab kita termasuk dalam kelompok yang mana? Yang mengetahui jawabannya adalah kita sendiri setelah Allah Ta’ala. Bukankah begitu? Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang pertama. Amien
Ikhwah fillah yang ana cintai …
Ibarat kita sedang mendaki gunung yang tinggi lagi terjal, maka kita baru berjalan sampai di pertengahan jalan, lalu jalan setapak yang kita lalui itu longsor dan kita terbawa oleh longsoran tanah tersebut dan harus tersungkur ke dalam jurang yang amat dalam. Pasti hati kita cukup melemah dan bimbang antara dua pilihan “Apakah terus melanjutkan pendakian ke puncak, ataukah turun dan pulang?” Apalagi perbekalan dan akomodasi semakin menipis.
Begitu juga dengan kita, setelah kita bebas dari penjara, orang di sekitar kita membiarkan dan atau mencuekkan kita, bahkan tidak sedikit diantara kita mendapatkan sambutan dengan muka masam dan senyum kecut dari kalangan sebagian kaum muslimin terhadap kita, bahkan dari kalangan para ikhwah yang dahulu kenal baik dengan kita. Sementara dari pihak thoghut semakin mengawasi dan memantau kegiatan kita, apalagi bagi para ikhwah yang bebas dengan jalan PB (pembebasan bersyarat), dan di antara ikhwah kita ada yang terfitnah dengan embel-embel menjadi “Bani Abbas (Anak buah Nashir Abbas)” dan menjadi “Anak buah Thoghut”, dan lain sebagainya. Tidak sedikit yang diuji dengan ekonomi yang pas-pasan, bahkan malah sempit dan kekurangan, sementara tuntutan kebutuhan hidup mendesak dan menuntut setiap hari untuk dipenuhi. Dan berbagai macam lagi romantika dan riak-riak ujian menerpa kita sehingga membuat hati kita sedikit kendur semangat untuk melanjutkan jalan sabilillah ini.
Dan di antara ikhwah ada yang mempunyai perasaan bahwa setelah dia keluar dari penjara dia tidak akan dipercaya lagi dan atau tidak akan dipakai lagi oleh para ikhwah yang masih tetap berjalan fii sabilillah ini, karena dianggap sudah kotor dan tidak steril. Dan berbagai macam perasaan yang dapat melemahkan keyakinannya. Yang pada akhirnya menjadikan sebagian ikhwah itu pasif dalam urusan sabilillah ini. Wallahu a’lam bish showab dengan kondisi antum?
Ikhwah fillah …
Ana bukanlah orang yang terbaik di antara antum sekalian, dan ana bukanlah orang yang paling kuat menghadapi siksaan dan introgasi thoghut, dan ana bukanlah orang yang paling berani dalam urusan fie sabilillah ini. Ana hanyalah sebagai salah satu dari saudara-saudara antum yang ingin mengamalkan firman Allah Ta’ala: 
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman danmengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-‘Ashr: 1-3).
Dan ana hanyalah salah satu dari kalangan ikhwah antum yang ingin mengajak antum untuk tetap menyambung perjalanan ini dan masuk di dalam kelompok orang-orang yang menunggu-nunggu salah satu dari Dua kebaikan. Sebagaimana firman Allah:
قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ (52)
“Katakanlah: “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan . Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Allah akan menimpakan kepada kalian azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau melalui tangan kami. Sebab itu tunggulah, Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersama kalian.” (QS. At Taubah: 52).
Dan firman Allah Ta’ala:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا (23)
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS. Al Ahzab: 23).
Imam Ahmad rohimahullah berkata: “Telah bercerita kepada kami Hasyim bin Al Qosyim, bercerita kepada kami Sulaiman bin Al Mughiroh dari Tsabit, ia berkata: “Pamanku Anas bin Nadhir rodhiyallahu diketahui tidak ikut dalam perang Badar bersama Rasulullah Saw. Maka risaulah hati Anas bin Nadhir, dan beliau berkata: “Pertama kali (peperangan) yang disaksikan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam aku telah absen darinya, seandainya Allah mempertemukan aku pada peperangan nanti bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, sungguh benar-benar Allah ‘Azza Wa Jalla akan melihat apa yang akan aku perbuat. Maka beliau pun ikut serta dalam peperangan Uhud bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menjumpai Sa’ad bin Mu’adz rodhiyallahu ‘anhu kemudian Annas rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada Sa’ad: “Wahai Abu Amru! Di manakah aroma Jannah itu? Sesungguhnya aku menciumnya ada di balik Uhud. Sa’ad Berkata: “Kemudian (Anas) membunuh mereka –musuh-” Sa’ad berkata: “Terdapat di jasad –Anas- delapan puluh Sembilan sabetan pedang dan tusukan panah”. Maka berkatalah saudara perempuan Anas yaitu bibiku yang bernama Robi’ binti Nadhir: “Aku tidak dapat mengenali saudara laki-lakiku kekuali ujung jari-jemarinya”
Tsabit berkata: “Maka turunlah ayat ini “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/575-576).
Akhie fillah …
Jika Anas bin Nadhir sangat menyesal atas ketertinggalan beliau pada perang Badar sehingga beliau ingin sekali berperang pada peperangan yang selanjutnya. Maka bagaimana dengan kita? Kita sudah ikut bersama-sama dalam amaliyah jihadiyah ini –yang menyebabkan kita dipenjara-, tidakkah kita ingin melanjutkan amaliyat-amaliyat jihadiyah kembali seperti shahabat Anas bin Nadhir rodhiyallahu ‘anhu, hingga kita mendapatkan syahadah? Ibarat kita sedang mengarungi lautan, maka kita sudah berada di tengah-tengahnya, apakah kita hendak kembali ke belakang? Ataukah kita tetap akan melanjutkan perjalanan?
Akhie fillah …
Seperti telah kita fahami bersama bahwasanya makna jihad dimaksud adalah قتال الكفار لإعلاء كلمات الله “Memerangi orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimah Allah”. Kalau para mujahidin memberikan pengertian Jihad dengan keterangan yang simple “Menghilangkan nyawa musuh dari raganya” atau “Memisahkan leher musuh dari badannya”. Itulah jihad yang kita maksud di sini.
Adapun hukum jihad hari ini telah sama-sama kita fahami juga, bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain. Yaitu satu kewajiban yang setiap indivudu mukmin harus melaksanakannya, dan bagi yang meninggalkannya maka ia berdosa. Oleh karena itu kita semua dituntut untuk berjihad sesuai kemampuan kita. Maka barangsiapa yang mampu melakukan amaliyat jihadiyah dengan sendirian maka silahkan ia beramal dengan ayat:
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا (84)
Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri[@]. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)”. (QS. An-Nisa’: 84).
Keterangan ayat :
[@] Perintah berperang itu harus dilakukan oleh Nabi Muhammad . Karena yang dibebani adalah diri beliau sendiri. Ayat Ini berhubungan dengan keengganan sebagian besar orang Madinah untuk ikut berperang bersama Nabi ke Badar Shughra. Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan supaya Nabi Muhammad Saw. pergi berperang walaupun sendirian saja.
Jika antum merasa mampu malakukan amaliyat jihadiyah dengan sendirian, dan target serta jalan yang ditempuh dibenarkan oleh syari’at, maka lakukanlah jihad itu dengan sendirian di bawah barokah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak ada yang mengetahui apa yang antum lakukan kecuali Allah Ta’ala. Dan ini akan lebih mensukseskan kepada program dan menjaga keamanan.
Namun jika kita tidak mampu melaksanakan faridhoh ini dengan sendirian, maka kita harus menggabungkan diri dengan Tandzim (Jama’ah) Jihad. Yang ana maksud Tandzim Jihad di sini adalah satu tandzim yang programnya 100% untuk melaksanakan amaliyat jihadiyah, bukan hanya membuat program amaliyat jihadiyah dikarenakan menyambut serangan yang dibuat oleh musuh di daerah yang di situ terjadi konflik. Maka dengan itu kita beramal sesuai dengan firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ (4)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. Ash Shoff: 4).
Ana tidak menentukan tandzim tertentu sebagai tandzim jihady yang harus kita ikuti dan bergabung di dalamnya, akan tetapi tandzim mana saja yang memang secara riel programnya 100 % adalah jihad maka kita boleh bergabung di dalamnya. Baik tandzim itu masih kecil keberadaanya, maupun sudah besar seperti Al Qo’idah dan Thaliban. Namun jika kita ingin lebih menguatkan lagi gelora jihad dan meng-erhab musuh, maka hendaknya kita bergabung dengan Tandzim Jihad Al Qo’idah dan atau Thaliban.
Keberadaan kita di dalam tandzim jihady itu adalah menjadi bagian dari “Mata Rantai Jihad”, yang mana “Mata Rantai Jihad” sangat banyak bentuk dan perannya. Ibarat Tandzim Jihady itu seperti halnya MOBIL, maka kita menjadi salah satu onderdil mobil yang dapat menjadikan perjalanan mobil ini lancar. Walaupun keberadaan kita di dalam mobil itu sebagai pentil di dalam ban, atau menjadi spion, dan atau menjadi bagian-bagian mobil yang lainnya.
Dalam rangka mensukseskan teraplikasinya jihad, maka ada beberapa hal yang harus dipenuhi:
1. Target
2. SDM (Sumber Daya Mujahid)
3. SDJ (Sumber Dana Jihad)
4. Sarana dan prasarana
5. Modus
6. Target Waktu

Keterangan:
1. Target.
Yang dimaksud Target disini adalah Obyek yang akan kita Jihady.
Kenapa kita harus menentukan Target dalam jihad? Karena jika kita mau jihad tanpa adanya target yang hendak dituju, maka amaliyat jihad itu tidak akan teraplikasi. Ibarat mau melakukan perjalanan tanpa ada arah dan tujuan yang jelas yang hendak dituju. Maka orang tersebut akan bingung.
2. SDM (Sumber Daya Mujahid)
Yang dimaksud SDM di sini adalah personal yang akan melakukan amaliyat jihadiyah. Tentunya ini adalah personal-personal mujahid yang militan. Jika belum ada personal yang siap maka wajib bagi kita untuk mengkader calon-calon mujahid yang siap jadi pelaksana jihad.
Di dalam SDM ini meliputi minimal tiga hal:
Pertama: Pengkaderan
Maksudnya adalah pengkaderan dan pembinaan dalam rangka mencetak mujahid. Bisa dilakukan di dalam majlis-majlis ta’lim, halaqoh, balai pendidikan formal seperti ma’had, dls. Maka keberadaan seorang ustadz yang membina kader mujahid adalah merupakan bagian daripada mata rantai jihad.
Ibarat Tandzim Jihad ini sebagai senapan M 16, maka majlis ta’lim dan Ma’had itu sebagai Magazinenya, dan para muta’allim (binaan) dan para santri menjadi Pelurunya yang siap untuk ditembakkan. Maka para pengkader mujahid ini telah masuk ke dalam mata rantai jihad. Berbeda ketika majlis ta’lim dan atau ma’had diadakan bukan untuk mengkader mujahid. Bahkan melarang para muta’allim dan santri untuk melakukan amaliyat jihadiyah. Dengan alasan belum waktunya, dan atau bisa membahayakan kelompok dan ma’hadnya. Dan lain sebagainya yang dijadikan alasan untuk tidak berjihad. Na’udzu billahi min dzalik.
Kedua: Anshor
Maksudnya adalah para personal yang siap menjadi kantong-kantong jihad dan mujahidin, yang siap menjadi anshor yang menyediakan tempat berteduh dan bersembunyi dari kejaran musuh, juga menjadi tempat untuk mengatur strategi jihad selanjutnya. Maka jika kita tidak mampu menjadi pelaku langsung dalam jihad ini, maka keberadaan kita dalam anshor ini menjadi mata rantai jihad ini.
Oleh karena itu, kita buat barometer dalam pentamhisan (penyaringan) orang untuk masuk ke sebuah Tandzim itu bukan karena telah menyelesaikan materi taklim yang ditentukan, dan atau telah mensepakati untuk masuk ke tandzim tersebut. Akan tetapi tamhis yang dilakukan adalah salah satunya dengan menjadikan ikhwah tersebut menjadi anshor. Jika dia siap maka dia lulus, dan jika dia belum siap maka dia belum lulus. Sehingga neraca lulus dan tidak dalam tamhis adalah dalam amal jihad, bukan dalam lulus test tertulis. Wallahu a’lam bish showab
Ketiga: Tim I’lam (Media)
Maksudnya adalah Tim Media yang membantu menyebarkan kabar mujahidin, yang membela mujahidin melalui media, baik media cetak maupun media elektronika. Media yang mengangkat moral dan harkat martabat mujahidin, serta media yang menyebarkan kedzoliman musuh dan kelemahannya. Maka keberadaan ikhwah yang di Media ini akan menjadi bagian mata rantai jihad.
3. SDJ (Sumber Dana Jihad)
Yang dimaksud SDJ disini adalah dana yang diperuntukkan untuk mensukseskan program jihad. Karena tanpa dana maka jihad tak akan mungkin dapat terlaksana. Karena akomodasi mujahid, sarana dan prasarana itu semua membutuhkan dana.
Bagi ikhwah yang belum mampu berjihad dengan jiwanya –disebabkan karena kelemahan dan kemampuan-, sementara dia mempunyai kelebihan di dalam masalah harta, maka hendaknya hartanya disalurkan kepada jihad dan mujahidin. Karena jihad dengan harta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pada urusan jihad. Maka ketika dia telah menyalurkan hartanya tersebut ke dalam jihad maka ia telah masuk dalam mata rantai jihad.
4. Sarana dan Prasarana
Yang dimaksud Sarana dan Prasarana di sini adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam operasi jihad. Seperti silah (persenjataan) dan barang-barang jihad lainnya (seperti barang peledak), alat transportasi, dls. Maka jika kita ada kemampuan untuk membeli dan mengumpulkan sarana dan prasarana tersebut, maka kita wajib melakukannya. Jika kita telah melakukan hal ini, maka kita telah masuk dalam bagian mata rantai jihad.
5. Modus
Yang dimaksud modus di sini adalah bentuk amaliyat yang akan dilakukan itu apa? Apakah dengan cara ightiyalat, ambus, ataukah pengeboman? Karena jihad itu tidak akan terlaksana tanpa adanya modus yang dibuat.
6. Target waktu
Yang dimaksud target waktu di sini adalah penentuan jangka waktu yang jelas dalam pemograman jihad. Karena tanpa ada penentuan batasan waktu, maka akan menjadikan pekerjaan kita tidak fokus. Pembatasan waktu tidaklah harga mati. Contoh: Kita mentargetkan waktu pada amaliyat jihad yang akan kita lakukan itu membutuhkan waktu dua bulan, ternyata waktu dua bulan kurang mencukupi, maka kita undur sampai tiga bulan, dan selanjutnya hingga benar-benar kita siap untuk melakukan amaliyat jihadiyah. Tapi jika kita tidak pernah mentargetkan waktu dalam amaliyat jihad, dan atau mentargetkan waktunya itu menyesuaikan jumlah yang banyak dan persenjataan yang lengkap, maka sampai kepala kita beruban belum ada satu kepala orang kafir pun yang tumbang. Wallahu a’lam bish showab.
Inilah beberapa hal yang minimal kita siapkan dalam program jihad kita. Insya Allah jika kita jujur dan tapaki program ini, insya Allah amaliyat Jihadiyah ini akan dapat kita lakukan. Amien
Ikhwah fillah …
Adapun nasehat ana yang selanjutnya adalah marilah kita sama-sama Ta’liful Qulub (Penyatuan Hati) sebelum adanya Ta’liful ‘Amal (Persatuan Amal), karena kita tidak mungkin dapat bersatu di dalam amal jika hati kita belum bersatu. Karena Ta’liful Qulub itu lebih penting daripada Ta’liful Amal, Atau kalau kita bawa kepada amal jama’ie (berjama’ah), maka bersatunya hati itu lebih baik daripada bersatunya dalam satu Jama’ah –maksudnya adalah jama’ah minal mislimin, bukan jama’atul muslimin (Khilafah)-. Karena hari ini tidak mungkin kita bisa bersatu dalam satu jama’ah tertentu, kecuali jama’atul muslimin nanti yaitu Khilafah Islamiyah. Kenapa kita harus menyatukan hati kita sebelum bersatu di dalam amal? Karena hati adalah penyatu amal. Bagaimana mungkin kita dapat berkumpul dalam satu program jihad dengan baik jika hati kita berselisih, dan bagaimana kita bisa berkumpul dalam satu shoff dengan rapi jika hati kita bercerai-berai. Yang muncul hanyalah Su’udhon, perpecahan dan permusuhan.
Bersatunya hati yang ana maksud adalah saling mencintai, saling menyayangi, saling melindungi, saling membantu, saling menolong dan saling merasa senasib dan sepenanggungan dalam urusan Dien, terkhusus dalam urusan sabilillah. Walaupun kita tidak berada dalam satu program dan tandzim, namun jika hati kita telah terikat maka yang muncul adalah rasa Mu’awanah (Saling tolong menolong), Munashoroh (saling menolong) dan Mukafalah (saling memenuhi satu sama lainnya). Jika ada kekurangan di fihak satu maka yang satunya saling memenuhi, jika ada kelemahan di satu fihak maka satu fihak yang lain menguatkan, jika satu ikhwah ada yang salah maka ikhwah yang lainnya mengingatkan dan menasehati.
Hal yang seperti ini telah diterangkan oleh Allah Ta’ala:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10)
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurot: 10).
Dan Rasulullah Saw. menggambarkan hubungan orang mukmin dengan orang mukmin yang lain:
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكي منه عضو تداعي له سائر الجسد بالسهر والحمي
Perumpamaan kaum mu’minin dalam hal kecintaan, kasih sayang dan rasa simpati mereka, bagaikan satu tubuh. Apabila satu organ mengeluhkan (rasa sakit), seluruh tubuh yang lain juga merasakannya dengan begadang di malam hari dan demam (yang diderita).” (HR. Muslim, Ibnu Hibban, Ahmad dan yang lain dengan lafazh yang sedikit berbeda)
المُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ….
“Seorang muslim adalah saudara seorang muslim. Ia tidak boleh menzholiminya dan tidak boleh menyerahkannya (pada musuh) …” (Muttafaq ‘Alayh)
المُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ…
“Orang Muslim adalah saudara orang muslim. Ia tidak boleh mendzoliminya, tidak boleh mencuekkannya dan tidak boleh menghinannya…” (HR. Muslim dan yang lainnya).
Dalam urusan amal jihadi ini dibutuhkan mu’awanah antar mujahidin, dan menuntut adanya Munashoroh antar mujahidin. Berbilangnya tandzim jihad hari ini tidaklah menjadi persoalan, karena justru itu akan menyulitkan musuh dalam mendeteksi dan menengarai tandzim tersebut. Bersatunya kita adalah di dalam satu kepentingan, yaitu kepentingan “لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللهِ” hingga runtuhlah kekuasaan musuh dan hancurlah mereka berkeping-keping. Karena kita tidak mungkin bisa mengumpulkan manusia dalam satu kelompok kecuali di bawah satu bendera, yaitu Bendera “Daulah Islamiyah” atau “Khilafah Islamiyah”. Maka barangsiapa yang tidak mau tunduk di bawah Amirul Mukminin (Kholifah) maka ia diperangi.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118)
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. (QS. Huud: 118).
Kita akan bersatu dengan karunia Allah di bawah kepemimpinan seorang Amirul Mukminin (Kholifah) insya Allah.
Oleh karena itu hari ini menuntut adanya sel-sel jihad, satu sel dengan sel yang lain tidak saling mengetahui program dan personalnya. Yang menyatukan mereka hanyalah ikatan Iman dan Amal. Semua berbuat sesuai kemampuan masing-masing di bawah bimbingan wahyu Ilahy. Karena strategi jihad hari ini adalah “Harbul ‘Ishobat” (Perang Gerilya), yaitu perangnya orang lemah melawan orang kuat, perangnya semut melawan Gajah. maka dibutuhkan pekerjaan yang serapi mungkin dan se-silent mungkin. Maka tidak ada jalan lain kecuali dengan sel-sel jihad.
Kembali kepada urusan Ta’liful Qulub. Dalam perjalanan jihad ini hendaknya sel jihad satu dengan sel jihad lainnya saling menguatkan, bukan saling melemahkan dan mencari-cari cacat sel yang lain. Karena dengan kita mencari-cari cacat sel lain, apalagi kita sebarkan cacatnya, maka dengan sendirinya kita telah menelikung mujahidin dari belakang dan membuka pintu fitnah antar mujahidin. Jika kita melihat sel lain ada cacat maka marilah kita nasehati, dan jika ada kelalaian maka marilah kita ingatkan. Jangan sampai perbuatan yang kita lakukan menyebabkan lemahnya mujahdin dan menjadikan kuatnya musuh.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46)
“Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Anfal: 46).
Jika ada permasalahan antar mujahidin maka hendaknya dikembalikan kepada Allah dan Rosulnya (Kembali kepada syari’at Islam).
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa’: 59).
Jangan sampai karena satu kepentingan program dan tandzim menjadikan kita mencacat ikhwah kita mujahidin yang lain dan atau tandzim jihad yang lain. Karena tidak ada mujahid yang sempurna, dan tidak ada tandzim jihad yang sempurna. Yang ada kita hanya berlomba-lomba dalam kebaikan.
Ikhwah fillah …
Banyak hal sebenarnya ingin ana sampaikan kepada antum semua. Insya Allah dalam risalah-risalah yang selanjutnya aka ana sambung.
Tidak ada kepentingan dalam penulisan risalah ini kecuali hanya kebaikan.

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم الولى ونعم النصير
لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
نصر من الله وفتح قريب
اللهم ألا هل بلغت اللهم فاشهد
اللهم ألا هل بلغت اللهم فاشهد
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bumi Allah, 5 Februari 2009 M
9 Shafar 1430 H

Oase
Syekh Mujahid Usamah bin Ladin Hafidzohullah berkata: “Janganlah (engkau anggap) besar keberadaan Amerika.Sungguh Demi Allah kami telah pukul mereka berulang kali, dan mereka diserang berkali-kali. Mereka adalah kaum yang paling pengecut ketika berhadapan (dengan lawannya).”

Oleh: hafmin | Mei 29, 2012

Media Al-Qaeda Menebar Kebohongan ?

Shoutussalam.com – Sebuah pertanyaan dari seorang muslim kepada redaksi majalah Inspire yang dimuat di volume ke 5

Pertanyaan Email:

Assalamu’alaikum. Saya sangat berterima kasih atas waktu yang anda berikan untuk menanggapi pertanyaan yang saya miliki terhadap media anda, gerakan anda dan sikap ideologi anda. Saya adalah seseorang yang sedang mempelajari perkara anda dan berusaha untuk memahami pandangan hidup anda.

Harap dimengerti bahwa saya tidak setuju, dengan anda menggunakan sensasi publikasi media massa dan terhadap tindakan kelompok yang anda dukung yakni Al Qaeda. Namun, saya berharap bahwa anda menghormati rasa ingin tahu saya dan semangat untuk belajar saya. Dengan cara memberikan respon terhadap pertanyaan saya.

Saya memiliki 3 garis besar pertanyaan yang saya berharap anda mempertimbangkannya. Dan menjawab dengan jawaban yang masuk akal dan dapat mewakili pemikiran organisasi anda.

1. Dapatkah kantor berita anda seimbang dalam kebutuhan menyajikan berita yang sensasional dengan kejujuran dalam pelaporan kebenaran terhadap masyarakat ? Dengan kata lain, apakah yang membuat anda mendistorsi (dan tidak percaya pada media -pent) berita dan pandangan, dari Barat terhadap sebuah peristiwa ? Apakah anda yakin bahwa yang anda laporkan adalah kebenaran ?

Atau karena kebencian anda terhadap Barat yang berpotensi memperkeruh penilaian anda dalam pelaporan? Misalnya, isu terakhir di Inspire yang mengutuk kebohongan dalam berita media Amerika. Disamping itu laporan anda juga membingungkan, pada tulisan “ Obama menipu atas klaimnya bahwa perang yang dia lakukan adalah untuk melawan Al Qaeada bukan Islam.” Ini adalah kebohongan anda yang terbesar. Perlu diketahui Amerika mempunyai 7 juta muslim yang tinggal di sana dengan damai tanpa ada konflik baik dengan pemerintah maupun masyarakatnya. Ini membuktikan Amerika tidak memerangi orang-orang Islam.

2. Apakah anda setuju bahwa ada kontradiksi, tidak hanya pada berita tapi juga karakteristik ideologi organisasi anda? Anda bermain video game kami, menonton film kami, menikmati hiburan dari kami, menggunakan produk-produk komunikasi Barat (termasuk majalah anda ini) dan membolehkan peradaban kami menyusup ke anda melalui cara ini. Apakah ini bukan termasuk kontradiksi? Penyerangan terhadap militer kami yang hadir di Timur Tengah adalah satu hal, tetapi pembersihan pengaruh kebudayaan kami dalam kehidupan anda adalah hal yang lain (misalnya teknologi). Lalu bagaimana anda mengkompensasi hal ini ?

3. Dalam hal ideologi pribadi anda. Bagaimana anda menjelaskan kenyataan bahwa legitimasi ideologi anda, oleh komunitas Islam dipertanyakan bahkan tidak dikenal.

Kebanyakan muslim mengutuk tindakan yang anda komitmen terhadapnya, Alhamdulillah. Saya memahami ideologi takfiri anda, tetapi apa yang memberi anda hak untuk menilai setiap muslim ? Menurut saya itu sama saja anda menggunakan kekuasaan yng harusnya hanya dimiliki Alloh dalam menentukan siapa yang baik dan yang jahat. Tidak ditemukan dalam al Qur ‘an untuk melakukan hal itu yakni memberikan wewenang kepada manusia untuk menilai dan menentukan kehidupan manusia.

Terakhir, saya berharap untuk menjalin kontak dengan anda lebih banyak untuk menjawab pertanyaan yang saya miliki lebih lanjut. Saya telah mempelajari organisasi anda selama bertahun-tahun dari buku, jadi saya berharap dapat mendengar langsung dari anda -dari sumber.

Saya menunggu jawaban dari anda.

Imran Khan.

E-mail Respon.

Dear Imran, wa ‘alaikumus salam.

Kami menghargai atas waktu yang anda luangkan untuk menulis pertanyaan-pertanyaan anda kepada kami. Jika anda memiliki pertanyaan lebih lanjut silahkan tanyakan. Lebih baik berbicara langsung dengan sumber daripada bergantung pada perkataan orang lain.

1. Jika kami tidak salah dalam memahami pertanyaan anda, anda bertanya kenapa kami menyebarkan kebohongan, terutama tentang Obama yang memerangi Islam padahal ada penduduk Muslim di negaranya. Ini adalah bukti bahwa dia tidak memerangi Islam. Disana juga tidak ada konflik utama antara komunitas muslim Amerika dengan pemerintah.

Pertama, berita adalah sesuatu yang berkaitan khusus dengan peristiwa seperti politik, ekonomi dan semacamnya. Untuk pernyataan kami bahwa Obama melancarkan perang terhadap Islam, ini juga tidak jauh dari berita; itu adalah sudut pandang kami, yang sebenarnya juga merupakan bagian pendapat jutaan Umat Islam di dunia. Dimana mereka itu tidak terkait dengan Al Qaeda ataupun kelompok-kelompok jihad.

Ada perbedaan antara apa yang seseorang percayai dan apa yang mereka laporkan sebagai berita. Jadi dalam laporan berita kami – yang sebenarnya terbatas pada kejadian-kejadian setempat yakni di Yaman (yang dirilis via statemen Arab melalui internet) -. Kami menyajikan berita-berita operasi maupun kejadian-kejadian lokal. Adapun yang kami yakini (imani), anda dapat menemukannya di hampir setiap halaman dari majalah ‘inspire’.

Adapun klaim bahwa jutaan Muslim tinggal di Amerika dan bahwa Obama tidak melancarkan perang terhdap Islam. Jika anda menyiratkan perang tidak dilakukan kepada umat Islam, karena Umat Islam di Amerika hidup dengan damai dan tidak dibantai oleh Obama. Maka berarti anda gagal dalam melihat hubungan itu (antara perang yang dilakukan Obama –pent). Maka kami katakana pada anda:

“Obama tidak harus membunuh seluruh Muslim di Amerika atau bahkan seorangpun untuk dapat dikatakan bahwa dia memerangi Islam. Tapi cukup dengan perkataannya seperti, ‘Para teroris ingin menerapkan syariat Islam’, ‘Mereka ingin mendirikan kekhalifahan di dunia.’ ,‘Mereka tidak mempelajari Islam dengan benar, mereka bukan Islam.’ Dan perkataan lainnya. Maka hal itu menempatkan dirinya pada posisi memerangi Islam. Karena dia menginginkan sebuah tipe Islam yang baru (yang sesuai dengan keinginan Obama-pent), Islam yang tidak pernah diajarkan oleh Alloh. Yakni dia ingin sebuah tipe Islam yang kosong dari jihad, syariah, wala’ wal bara’, khilafah dan lain-lainnya. Bahkan dalam faktanya, hal ini (perkataan tsb –pent) tidak hanya dilakukan oleh Obama sendiri, tetapi dilakukan oeleh semua tataran administrasi pemerintahan Amerika mulai dari tingkat rendah sampai tingkat atas.

Oleh karena itu mereka semua menyatakan perang terhadap Islam. Alloh berfirman:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka.” (QS. Al Baqarah; 120)

Kata yang digunakan dalam, bahasa Arab adalah millah. Millah disini berarti jenis agama yang mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) senang terhadapnya.jadi sebenarnya Alloh telah dan selalu mengingatkan kita, semenjak 1400 tahun yang lalu, bahwa orang-orang kafir tidak akan senang kepada kita; Maka, bagaimana mungkin kami akan menyangka bahwa mereka adalah sekutu kami, teman kami, dan penolong kami. Ini adalah taktik orang-orang kafir untuk membodohi kita.

Kami akan berikan contoh yakni kolonialisme Inggris yang tertuang dalam sejarah Islam berada dalam halaman-halaman yang mengerikan. Ketika Inggris menguasai tanah kami (Islam), maka mereka melakukan pembantaian masal terhadap setiap muslim dan tidak ada yang disisakan sama sekali. Ini adalah bentuk perang terhadap Islam.

Ini adalah bentuk perang terhadap Islam. Bagaimana caranya ? yakni dengan bermaksud mengendalikan kita dan akhirnya membagi-bagi kta dalam banyak Negara. Mereka pula yang bertanggung jawab atas kehancuran kekhalifahan Islam yang terakhir pada maret 1924. Dan bagaimana mereka mampu melakukan itu ? Yakni dengan menggunakan bidakdi dunia muslim, para bidak ini adalah orangt-orang yang tidak memiliki kemaluan dan kehormatan terhadap agamanya. Merekalah yang menghancurkan kekhilafahan itu dan menggantinya dengan pemerintahan boneka yang sekuler. Mereka memerangi Islam dengan kedok.

Hari ini, Amerika telah menyerang 2 tanah Muslim dan mengirimkan misil-misilnya kepada orang-orang Islam di Yaman, Somalia dan Pakistan. Lalu apakah anda tidak merasa malu untuk mengatakan bahwa Obama tidak memerangi Islam, ketika Obama membantai saudara laki-laki dan perempuanmu di Pakistan dan menggunakan pesawat Drone –nya untuk menyerang ? hal ini telah terbukti dalam laporan berita-berita di media, bahwa mayoritas orang yang tewas dalam serangan mereka (Amerika) bukanlah pejuang Taliban dan Al Qaeda, tetapi kebanyakan adalah penduduk sipil Pakistan.

Kita sebagai seorang Muslim harus menggunakan sudut pandang agama ketika melihat sesuat, itu jika kita benar-benar ingin sukses di akhirat.

hesatech.wp.com

2. Jika saya tidak salah dalam memahami perkataan anda, anda berkata bahwa jika seorang muslim menggunakan teknologi modern untuk tujuan Islam, maka itu bertentangan dengan ideologi al Qaeada (yang memusuhi Barat, pembuat teknologi) ? Atau jika seorang muslim bermain video game, atau menonton film maka ini bertentangan dengan ideologi al Qaeda ?

Ini adalah salah. Dalam al Qaeda kita tidak membenci Barat karena teknologi mereka, penemuan mereka dan sejenisnya. Kita membenci barat karena kebijakan politik mereka terhadap dunia Islam. Mereka menyerang tanah kami, membunuh dan terus membunuh orang-orang kami dan menundukkan Umat Islam melalui berbagai cara, termasuk dengan media. Jadi kami membenci dan memerangi mereka karena hal itu. Al Qaeda adalah sebuah reaksi atas arogansi Barat terhadap dunia Islam. Dan tidak terbentuk karena kebencian atas kebebasan Barat dan perkembangan Barat. Semua itu bukan apa-apa dalam Islam, sehingga tidak dapat membatasi seorang muslim menggunakan teknologi modern, bahkan teknologi yang diciptakan oleh musuh-musuh mereka. Dalam setiap kasus, Amerika tidak memiliki monopoli atas teknologi. Teknologi tumbuh dari perusahan dan lembaga penelitian dan tidak sepenuhnya dikuasai pemerintah.

3. Mengenai pertanyaan anda seputar ideologi kami yang tidak terkenal di komunitas muslim. Maka kami katakan sebagaimana apa yang dikatakan Rosululloh saw mengenai Ghuroba (orang terasing). Mereka (ghuroba) akan datang kepada orang-orang dengan Islam ketika Islam itu dianggap aneh. Tapi, sebagiamana sabda Nabi saw, “kabar gembira bagi para ghuroba ini.”

Hadits sangat terkenal dan banyak masjid di Barat dinamai Al Ghuroba. Kami tidak peduli apa yang dikatakan orang terhadap kami. Kami akan terus melakukan apa yang menyenangkan Alloh dan apa yang membuat marah syetan. Dan Alloh berfirman, “Mereka tidak takut celaan orang-orang yang mencela.” (QS. Al Maidah ; 54). Mereka adalah orang-orang yang menang.

Untuk masalah takfir, maka saya akan merekomendasikan anda agar meluangkan waktu untuk mencari dan meneliti (masalah takfir ini -pent), karena ini adalah masalah yang sangat penting dan pembahasannya sangat luas. Untuk memulai mencari secara sederhana, anda dapat mencari melalui Google dengann mengetik “Pembatal Syahadat” atau “takfir dalam syariat”. Secara singkat, takfir dilarang jika ditujukan kepada seorang muslim, kecuali dia melakukan hal-hal yang dapat membatalkan keislaman. Misalnya, jika datang seorang Muslim kepada anda lalu berkata, “Saya seorang Kristen sekarang.” Lalu apakah anda akan mengatakan dia seorang Muslim ? Tidak, sebagai seorang Muslim kita wajib menilai sesuatu dari zhohirnya (yang nampak). Yakni bahwa dia bukan seorang Muslim. Selain itu para ulama salaf (pendahulu kita) telah sepakat bahwa ada tindakan jika seseorang muslim lakukan, maka dia telah keluar dari Islam. Yang sekarang ini dikenal sebagai “Pembatal Ke Islaman.”

Adapun masalah menghakimi orang lain, kami akan menyampaikan satu buah hadits. Tapi sebelumnya, penting untuk diketahui bahwa Al Qur ‘an bukan satu-satunya sumber hukum dan petunjuk; yakni disamping Al Qur ‘an juga ada As Sunnah dan keputusan Nabi saw.

“Setelah peperangan Badar, Ibn Abbas yang ikut dalam peristiwa itu (pada waktu itu dia bergabung dalam tentara orang-orang kafir, walaupun dia telah menyatakan keislamannya di Mekah kepada Nabi Muhammad –pent), termasuk orang yang ditawan oleh pasukan Islam, meskipun dia telah masuk Islam ketika di Mekkah. Ketika Nabi saw mendatanginya, dia bertanya kepada Rosululloh saw, mengapa dia yang termasuk orang Islam diikat dan ditawan bersama orang-orang kafir. Nabi saw menjawab, “apa yang dzohir (tampak) dari perbuatanmu yakni bahwa anda menentang kami (Islam). Artinya, Ibn Abbas termasuk dalam golongan orang-orang kafir – meskipun dia pernah bersyahadat dan mengaku Islam, hal ini dikarenakan dia ikut dalam kubu musuh – .

Jadi maksud dari semua ini adalah, « kita menilai seseorang berdasarkan apa yang dia tampakkan dan setiap muslim mempunyai hak untuk ini. Namun dalam takfir terdapat pula penghalang dan pembatasan-pembatasan yang sangat banyak.

Kita tidak boleh mengasumsikan seseorang telah murtad tanpa bukti-bukti yang jelas. Hal lain yang dapat memberikan keputusan bahwa seseorang telah murtad yakni pemimpin Islam. Pada hari ini, tidak ada khalifah / pemimpin kaum Muslimin yang memberikan hukuman Islam. Jadi dalam pembahasan fiqh secara keseluruhan, didapatkan kesimpulan bahwa pengimplementasian hukum hudud hanya dapat dilakukan dengan Negara.

Secara singkat, jika telah mengumumkan kemurtadannya atau telah diketahui umum tentang kemurtadannya secara jelas, maka darah dan harta orang ini tidak terlindungi dari seorang Muslim (boleh dibunuh dan hartanya dijadikan ghonimah), karena dalam hadits Bukhori dikatakan, ‘ Barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.”

Ideologi kami bukanlah takfiriyun; orang-orang kafir beserta pemerintahan boneka mereka mengangkat isu ini dan menuduhkan kepada kami agar manusia mengutuk kami. Ideologi kami adalah Ahlu sunnah wal jamaah, kami secara terbuka menentang takfir yang dilakukan secara serampangan dan kami berusaha pertengahan (berimbang). Kami dikatakan sebagai takfiriyun oleh para musuh Islam karena kami mengimplementasikan Undang-undang Islam (syariat / hukum Alloh -pent) –suatu yang sangat dibenci oleh Barat beserta pemerintahan bonekanya di tanah kami- .

Maka kami merekomendasikan anda untuk membaca buku syeikh Abu Muhammad Al Maqdisi yang berjudul “ Ini Adalah Aqidah Kami” sebuah salinan berbahasa Inggris dan tersedia dalam bentuk PDF dan anda dapat mencari di Google dan mendownloanya.

Saudara anda di Al Qaeda Arabic Peninsula.

[sksd/jahizuna

by pengelolakomaht |

HIZB DAN AQIDAH NABI YANG DIRAGUKANNYA

Bismillah,
Sesungguhnya sebagian aqidah ummat Islam diambil dari hadits ahad yang shohih, aqidah tersebut antara lain :
– Keyakinan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir didalam kubur.
– Keyakinan bahwa para pelaku dosa besar yang bertauhid tidak kekal di dalam neraka.
– Keyakinan akan turunnya Isa di akhir zaman.
– Keyakinan akan fitnah Dajjal di akhir zaman.
– Keyakinan atas syafa’at Nabi yang terbesar di padang Mahsyar.
– Keyakinan atas syafa’at Nabi untuk para pelaku dosa besar dari ummatnya.
– Keyakinan terhadap 10 orang shahabat yang dijamin masuk surga.
– Keyakinan akan masuknya tujuh puluh ribu dari Ummat Islam ke Surga tanpa Hisab.
– Dan lain-lain.
Selain itu pada mushaf al Qur’an (mushaf utsmani) sebetulnya ada juga ayat yang AHAD periwayatannya yaitu QS at Taubah ayat terakhir. Sebagaimana Imam Bukhari menulis dalam shahihnya sebuah riwayat yang panjang dari Zaid bin Tsabit yang diminta abu bakar mengumpulkan al qur’an dst Zaid bin Tsabit berkata : “…. HINGGA AKU DAPATI AKHIR SURAT AT TAUBAH PADA ABU KHUZAIMAH AL ANSHARI DAN AKU TIDAK MENDAPATKAN ITU DARI SHAHABAT YANG LAIN, YAITU AYAT LAQAD JA’AKUM RASULUN …dst”. (lihat al itqann fil ulumil qur’an bab tertib alqur’an dan penghimpunannya)
Sebagian besar aqidah yang disebutkan diatas (seperti Keyakinan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir didalam kubur dan seterusnya), terdapat dalam hadits ahad yang shohih dan semua aqidah yang terdapat dalam hadits ahad yang shohih adalah mutawatir ma’nawiy. Memang aqidah diatas tidak tersurat dalam rukun iman yang enam, namun kesemuanya masuk kedalam butir rukun iman terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa salam, karena semua keyakinan diatas adalah diajarkan dan diyakini oleh Rasulullah.
Misalnya keyakinan kita adanya alam barzakh, ini juga tidak tersurat pada rukun iman yang enam, begitu pula keyakinan adanya surga dan neraka juga tidak tersurat dalam rukun iman yang enam, namun termasuk dalam butir rukun iman terhadap hari akhir.
Maka barangsiapa menolak mengimani aqidah- aqidah diatas jelas telah merusak pondasi keimanan yang terdapat dalam rukun iman.
Selama ini banyak sekali kalangan yang menolak mengimani aqidah- aqidah diatas dengan berbagai alasan yang canggih.
Berawal dari sosok Ibrahim bin Ismail bin Ulayyah (193 H) manusia di zaman tabi’in yang pertama kali mengajarkan pada pengikutnya untuk menolak seluruh hadits ahad sebagai sumber hukum Islam, sehingga ia menuai kecaman keras dari Imam Asy Syafi’ie, bahkan Imam Asy Syafi’ie sampai berkata tentang Ibrahim bin Ulayyah : “Dia orang yang sesat. Duduk dipintu As-Suwal untuk menyesatkan manusia”. (Lihat Lisaanul Mizan Ibnu Hajar I/34 (64) dan Lihat juga Mausu’ah Ahlis Sunnah I/513).
Saat ini beberapa kelompok cendekiawan muslim juga menyatakan penolakannya terhadap hadits ahad meskipun sedikit berbeda dengan Ibnu Ulayyah yang menolak total kandungan hadits ahad, mereka para cendekiawan muslim saat ini hanya menolak sebatas pada kandungan aqidahnya saja.
Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang memiliki cita- cita mulia menegakkan syari’at Islam amat disayangkan ternyata menyimpan dan menyebarluaskan penyimpangan aqidah yaitu meragukan keyakinan yang terdapat dalam hadits ahad meskipun hadits tersebut shohih.
Bahkan pendiri Hizbut Tahrir (Taqiyyuddin An Nabhani) mengharamkan mengambil aqidah kecuali pada riwayat yang mutawatir saja. Hal ini karena Taqiyyuddin menganggap hadits ahad meskipun shohih, hanya membuahkan Dhon dan SEMUA Dhon tidak bisa diimani (HARAM DIIMANI).
Taqiyyuddin mengharamkan meyakini aqidah selain dari riwayat yang mutawatir saja meskipun riwayat tersebut shohih. Taqiyyuddin juga berpendapat bahwa SEMUA Dhon tidak bisa dijadikan aqidah.
Taqiyyuddin berkata : “….Apa saja yang tidak terbukti oleh kedua jalan tadi, yaitu akal serta nash al qur’an dan hadits mutawatir, HARAM baginya untuk mengimaninya (menjadikan sebagai aqidah)…”
(Lihat Peraturan Hidup dalam Islam, Penulis: Taqiyyuddin an Nabhani, Judul asli: Nidzomul Islam, Penerjemah: Abu Amin dkk, Penerbit: Pustaka Thariqul ‘Izzah Indonesia, Cetakan II (revisi), April 1993, halaman 12, paragraf ke-4 , baris ke-7 dari atas, dan lihat juga As-Syakhshiyah al-Islamiyah, Taqiyyudin An-Nabhani, Beirut : Al-Quds, 1953, cet. ke-2, Jilid 1 h.129).
Berikut ini sedikit ulasan tentang sejauh mana penyimpangan aqidah tersebut melekat pada Hizbut Tahrir. Semoga yang sedikit ini bisa memberi pencerahan baik bagi para syabab Hizbut Tahrir maupun untuk kaum muslimin yang saya cintai dimanapun berada :
PERTAMA :
Hibut Tahrir mengharamkan mengimani hadits ahad meskipun shohih dan mengharamkan semua jenis dhon aqidah padahal ayat ayat al Qur’an yang dijadikan dalil oleh Hizbut Tahrir, yaitu : Qs. an-Nisa’ : 157; Qs. al-An’am : 116, 148; Qs. Yunus : 36, 66; dan Qs. an-Najm : 23, 28,
Ayat-ayat ini tidak bisa dijadikan hujjah haramnya semua DHON karena yang diharamkan dalam ayat ayat ini hanyalah DHON lemah kaum kafir, seperti :
Persangkaan bahwa Isa alaihis salam mati dibunuh (an Nisa’ 157), persangkaan bahwa Allah memiliki anak (al An’am 116, 148), persangkaan bahwa Allah tidak melarang kesyirikan (al An’am 148), persangkaan bahwa ada sekutu Rabb selain Allah (Yunus 36, 66 dan an Najm 23,28).
Adapun kaidah Ushul “Al Ibratu bi Umuumil lafdhi la bi khushuushis Sabab” menyebabkan ayat- ayat diatas yang asbabun nuzulnya diperuntukkan hanya untuk kaum kafir saja menjadi diperuntukkan juga bagi kaum muslimin yang mengikuti DHON lemah kaum kafir diatas.
Jadi kaidah tersebut tidak lantas mengubah makna ayat menjadi semua jenis DHON adalah haram diimani, sebagaimana kesimpulan penafsiran Hizbut Tahrir selama ini.
Dalam hal ini Hizbut Tahrir telah menafsirkan ayat secara aneh dengan memelintirkan kaidah “Al Ibratu bi Umuumil lafdhi la bi khushuushis Sabab” secara keliru sehingga sangat berbahaya bagi ummat Islam yang awwam dalam memahami kaidah ini.
Untuk jelasnya dalam memahami kaidah mulia ini mari kita lihat QS al Baqarah : 170,
Allah berfirman yang artinya :
“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang kafir) : “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS al Baqarah : 170).
Ayat ini berdasarkan kaidah “Al Ibratu bi Umuumil lafdhi la bi khushuushis Sabab” berarti peruntukan ayat ini tidak hanya ditujukan pada orang kafir sebagaimana asbabun nuzulnya, akan tetapi juga ditujukan pada kaum muslimin yang mengikuti perbuatan maksiat nenek moyangnya.
Namun tidak lantas ditafsirkan bahwa semua perbuatan nenek moyang adalah haram diikuti, karena yang dimaksud perbuatan nenek moyang dalam ayat ini adalah yang maksiat saja khususnya kesyirikannya. Adapun perbuatan nenek moyang yang sholih (misalnya perbuatan Ibrahim yang berkorban hewan ternak, menunaikan haji, serta mengkhitan anaknya), maka justru wajib diikuti.
Demikian pula tafsir ayat al Qur’an yaitu : Qs. an-Nisa’ : 157; Qs. al-An’am : 116, 148; Qs. Yunus : 36, 66; dan Qs. an-Najm : 23, 28, yang oleh Hizbut Tahrir disimpulkan kandungan ayat-ayat ini adalah “semua jenis DHON haram diimani”, ini adalah kesalahan fatal mengingat maksud DHON dalam ayat-ayat ini adalah terbatas pada DHON lemah kaum kufur saja, seperti misalnya; DHON bahwa Isa alaihis salam mati dibunuh (an Nisa’ 157), DHON bahwa Allah memiliki anak (al An’am 116, 148), DHON bahwa Allah tidak melarang kesyirikan (al An’am 148), DHON bahwa ada sekutu Rabb selain Allah (Yunus 36, 66 dan an Najm 23,28).
DHON lemah seperti inilah yang dilarang untuk diimani, dan bukan berarti semua jenis DHON adalah dilarang untuk diimani.
Bahkan al Qur’an secara jelas menyatakan bahwa DHON kuat yang berasal dari aqidah tauhid ummat Islam WAJIB diimani, berdasarkan ayat ayat al Qur’an berikut :
QS al Baqarah 45-46, QS. at Taubah : 118, QS. al Haaqqah : 21-20 , dan QS. al Baqarah : 249.
Untuk jelasnya simak arti ayat-ayat al Qur’an berikut :
“ Sesungguhnya aku memiliki DHON, bahwa Sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai”. (QS. al Haaqqah : 20-21)
“……. orang-orang yang memiliki DHON bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al Baqarah : 249).
Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, Padahal bumi itu Luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, dan mereka memiliki DHON bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. at Taubah : 118)
“……orang yang khusyu’ adalah orang-orang yang memiliki DHON bahwa mereka akan bertemu dengan Rabb mereka …..”. (QS al Baqarah 45-46)
Semua ayat diatas menunjukkan bahwa orang orang yang beriman memiliki DHON kuat yang rajih yang sesuai dengan ajaran Islam.
Adalah hal yang mengada-ada jika kemudian para syabab Hizbut Tahrir mengatakan bahwa ayat- ayat diatas tidak bisa dijadikan landasan hukum, padahal semua kalimat diatas dari sisi Allah datangnya. Dan secara jelas Allah mencantumkan kalimat “DHON” pada ayat-ayat tersebut. Bahkan para ulama ahli tafsir memaknai kalimat “DHON” dalam ayat- ayat diatas sebagai dhon yang kuat atau bahkan keyakinan.
Bahkan didalam Kamus Arab Indonesia karya Prof. H Mahmud Yunus pada halaman 249 disebutkan :
DHONNUN – DHUNUUNUN (j) berarti : Sangkaan, Dugaan, YAKIN, Syak.
Kamus ini dicetak dan diterbitkan oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Pentafsir al Qur’an yang diketuai oleh Prof. H Bustami Abd. Gani pada tahun 1973 di Jakarta.
Jadi DHON dapat bermakna yakin dan tidak selalu bermakna syak.
Penyimpangan tafsir yang terjadi pada Hizbut Tahrir seperti diatas kemungkinan muncul karena adanya pendapat Taqiyyuddin An Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir), yang tentu saja akan didukung pengikutnya mengingat pendapat tersebut tercantum dalam kitab mutabanat Hizbut Tahrir, yaitu kitab-kitab yang isinya merupakan harga mati bagi pengikut Hizbut Tahrir.
Berkata Taqiyyuddin (pendiri Hizbut Tahrir) :
“Jadi aqidah seorang muslim itu harus bersandar kepada akal atau pada sesuatu yang telah terbukti kebenaran dasarnya oleh akal. Seorang muslim wajib meyakini (menjadikan sebagai aqidah) segala sesuatu yang telah terbukti dengan akal atau yang datang dari sumber berita yang yakin dan pasti (Qath’i), yaitu apa-apa yang telah ditetapkan oleh al Qur’an dan hadits mutawatir. Apa saja yang tidak terbukti oleh kedua jalan tadi, yaitu akal serta nash al qur’an dan hadits mutawatir, HARAM baginya untuk mengimaninya (menjadikan sebagai aqidah)…..”.
(SUMBER : Peraturan Hidup dalam Islam, Penulis: Taqiyyuddin an Nabhani, Judul asli: Nidzomul Islam, Penerjemah: Abu Amin dkk, Penerbit: Pustaka Thariqul ‘Izzah Indonesia, Cetakan II (revisi), April 1993, halaman 12, paragraf ke-4 , baris ke-7 dari atas).
Taqiyudin juga Berkata :
“… Khabar ahad tidak memiliki kedudukan pada masalah aqidah, (maka) sesungguhnya khabar ahad dengan syarat-syarat yang terkandung di dalamnya menurut ilmu ushul al-Fiqh tidak bermanfaat kecuali dhon (praduga), dan dhon tidak diperhitungkan dalam bab aqidah (keyakinan).
(Taqiyyudin An-Nabhani, As-Syakhshiyah al-Islamiyah, (Beirut : Al-Quds, 1953), cet. ke-2, Jilid 1 h.129.)
KEDUA :
Hadits Nabi yang Mutawatir hanya berjumlah 324 buah saja (lihat http://hadith.al-islam.com), dan dari 324 buah hadits yang mutawatir tersebut hanya sekitar 200-an hadits saja yang memuat materi aqidah.
Sementara hadits yang shohih dalam bukhari dan muslim mencapai sedikitnya 13.000 buah (Bukhari+Muslim: Menurut penomoran al-Alamiyah, terdapat 5352 hadits dalam Shahih Muslim. Sedangkan menurut Abdul Baqi, ada 3033 hadits. Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’al-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.)
, dan dari 13.000 buah hadits shohih tadi didalam Shahih Muslim terdapat sedikitnya 650 hadits tentang aqidah begitu pula didalam shahih bukhari lebih dari itu sehingga terdapat lebih dari 1.500 hadits tentang aqidah yang terjamin keshohihannya.
TERNYATA DARI 1.500-an HADITS AQIDAH YANG SHOHIH, HANYA 200-an SAJA YANG MUTAWATIR.
JADI 86,66 % HADITS NABI YANG MEMUAT AQIDAH (dalam Bukhori dan Muslim) ADALAH HADITS AHAD.
Jika mengimani hadits ahad itu haram hukumnya sebagaimana fatwa pendiri Hizbut Tahrir Taqiyyuddin an Nabhani, maka tentunya Nabi pun tidak akan meriwayatkan hadits aqidah secara ahad.
Namun kenyataannya 80 % hadits Nabi yang memuat aqidah justru diriwayatkan Nabi secara ahad ketika sedang berdua atau sedang bersama sedikit shahabat tanpa mengumpulkan shahabat.
Didalam Islam terdapat sebuah kaidah, jika sesuatu itu hukumnya haram maka jalan menuju sesuatu itu juga haram hukumnya.
Misalnya berzina itu haram maka ikhtilat (campur baur) dan khalwat (menyendiri) dengan lawan jenis yang bukan mahram secara umum haram hukumnya karena merupakan jalan menuju zina.
Begitu pula meminum khamr (mabuk) itu haram maka membuat khamr dan menjual khamr haram juga hukumnya.
Contoh lain berjudi itu haram maka membuat dan membeli peralatan judi (kasino) juga haram hukumnya.
Jika mengimani aqidah dari hadits ahad itu haram maka meriwayatkan hadits aqidah secara ahad pun seharusnya haram hukumnya. Namun kenyataannya sebagian besar hadits Nabi adalah diriwayatkan secara ahad. Maka apakah mungkin Nabi melakukan perbuatan yang haram ???
Sungguh aneh jika para syabab meyakini bahwa Nabi tidak mungkin meriwayatkan hadits aqidah pada beberapa gelintir orang saja, darimana keyakinan ini diperoleh ?.
Faktanya Nabi bahkan pernah mengajarkan aqidah kepada Muadz bin Jabal ketika berboncengan berdua saja diatas kendaraan.
Dari shahabat Muadz bin Jabal radliallahuanhu beliau menuturkan :
“Aku pernah dibonceng Nabi diatas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku: “ Hai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ?”. Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” . Beliau pun bersabda: “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba Nya ialah supaya mereka beribadah kepada Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada Nya; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah: bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada Nya”. Aku bertanya: “Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?”. Beliau menjawab: “Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri”.
(Lihat Shahih Muslim Kitabul Iman Bab Man LaqiyAllahu ta’ala bil Iman Ghaira Syakki fihi Dakholal Jannah dan Shahih Bukhari No.2856).
Jika alasannya karena Nabi tidak akan menyembunyikan ilmu pada beberapa orang saja maka bukankah Nabi telah bersabda “Sampaikan dariku walaupun satu ayat”, dengan adanya perintah ini maka Nabi tidak bersalah jika hanya meriwayatkan hadits aqidah kepada beberapa gelintir shahabat saja mengingat mereka punya kewajiban menyebarluaskannya.
Maka sunnah perbuatan Nabi mengatakan bahwa mengimani hadits ahad yang shohih adalah wajib hukumnya.

KETIGA :
Para shahabat dalam riwayat yang shohih juga me-WAJIB-kan mengimani hadits ahad meskipun tentang aqidah,
Simak riwayat berikut :
Abdullah bin Umar bertanya pada ayahnya, yaitu Umar bin Khathab tentang hadits bertemakan ‘aqidah ru’yatullah yang disampaikan Sa’ad bin Abi Waqqash kepadanya, maka Umar berkata padanya : “Jika Sa’ad meriwayatkan sesuatu kepadamu dari Nabi, maka jangan engkau bertanya lagi kepada selainnya tentang sesuatu itu”(maksudnya ambilah riwayat itu). (Atsar shahih riwayat Bukhari, No.202)
Adapun riwayat-riwayat lain tentang Umar menolak penyampaian hadits dari shahabat adalah lemah dan bertentangan dengan ayat al Qur’an al Hujurat ayat 6 : “In jaa akum faasiqun binaba’in fatabayyanu”. Yang mafhum mukholafah nya jika yang menyampaikannya bukan orang fasik (termasuk shahabat tentunya bukan orang fasik) maka tidak wajib ada tabayyun.
Dalam periwayatan hadits aqidah Umar tidak pernah mempersyaratkan saksi penguat dari shahabat lain atau dengan kata lain beliau tidak pernah mempersyaratkan adanya saksi perawi lain, kecuali dalam perkara Qadha’ wa syahadah.
KEEMPAT :
Hizbut Tahrir berdalih dengan kemutawatiran ayat ayat dalam mushaf Utsmani dan fakta bahwa para shahabat menolak masuknya riwayat ahad ke dalam pembukuan al Qur’an (mushaf utsmani).
Maka ini adalah pembodohan terhadap ummat Islam tanpa menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Padahal para shahabat menolak masuknya riwayat ahad ke dalam al Qur’an bukan karena dalil aqidah itu wajib mutawatir akan tetapi semata-mata karena hal itu sunnah Nabi. Yaitu berdasar perilaku Nabi bahwa :
1. Nabi tidak pernah meriwayatkan wahyu (ayat al Qur’an) tanpa mengumpulkan shahabat.
2. Nabi selalu menyuruh juru tulis al Qur’an dan para shahabat untuk menulis wahyu yang turun tersebut.
3. Nabi selalu mengulang-ulang ayat-ayat al Qur’an didepan majelis shahabat dan ketika beliau menjadi imam Sholat.
Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan periwayatan hadits, baik masalah aqidah maupun hukum Islam lainnya, karena ketika meriwayatkan sebuah hadits :
1. Nabi tidak selalu mengumpulkan shahabat bahkan terkadang hanya berdua saja dengan seorang shahabat.
2. Nabi melarang menulis hadits akan tetapi mewajibkan menyebarluaskannya.
3. Nabi tidak mengulang hadits secara persis lafadz haditsnya akan tetapi disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
Sehingga jelas bahwa kemutawatiran al Qur’an tidak bisa dijadikan dalil mengharamkan meyakini hadits ahad yang shohih.
Karena al Qur’an pada asalnya memang mutawatir dan tidak mungkin ahad sedangkan hadits pada asalnya lazim secara ahad.
Selain itu ditemukan fakta bahwa sebenarnya justru pada mushaf utsmani ada ayat yang ahad periwayatannya yaitu at Taubah ayat terakhir.
Imam Bukhari menulis dalam shahihnya sebuah riwayat yang panjang dari Zaid bin Tsabit yang diminta abu bakar mengumpulkan al qur’an dst Zaid bin Tsabit berkata : “…. HINGGA AKU DAPATI AKHIR SURAT AT TAUBAH PADA ABU KHUZAIMAH AL ANSHARI DAN AKU TIDAK MENDAPATKAN ITU DARI SHAHABAT YANG LAIN, YAITU AYAT LAQAD JA’AKUM RASULUN …dst”.
(lihat al itqann fil ulumil qur’an bab tertib alqur’an dan penghimpunannya)
Maka kesimpulannya ternyata memang ada ayat yang tidak mutawatir dalam mushaf al Qur’an, misalnya dalam kasus ini adalah ayat dari abu khuzaimah al anshari yaitu ayat akhir surat at Taubah.
Jadi meskipun al Qur’an sendiri asalnya memang wajib mutawatir namun mushaf al Qur’an sendiri tidak semua ayatnya mutawatir karena dibukukan saat kondisi para shahabat penghafal banyak yang wafat dalam perang.
Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan, kebenaran tidak selalu ada pada diri saya, namun dalil yang saya utarakan kiranya cukup kuat untuk membuktikan kekeliruan aqidah Taqiyyuddin dan jumhur syabab Hizbut Tahrir.
Hidayah kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah memudahkan kita menggapainya.
Dhuha, 15 Muharram 1429 H
Penulis
(pengelolakomaht@yahoo.co.id)

Oleh: hafmin | November 13, 2011

Kepada Para Pejuang Syari’at…

Para pendukung tegaknya syari’at Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah Islamiyyah semakin banyak. Meski musuh-musuh Islam terus berupaya membuat makar untuk menghalangi tegaknya syari’at Islam dan khilafah yang menjamin terlaksananya hukum Allah tersebut, namun makar Sang Pecipta tetaplah lebih hebat. Lewat perjuangan dan usaha keras para da’i dan mujahid yang memikul kewajiban dakwah dan jihad, Allah memunculkan orang-orang yang mencintai syari’at; mereka mendukung dakwah dalam rangka membumikan syari’at dan menerangkan kebatilan sistem atau undang-undang jahiliyyah, dan mendukung gerakan jihad sebagai sarana menghancurkan kekuatan-kekuatan bersenjata yang menopang jahiliyyah tersebut. Inilah metode perjuangan yang realistis, berdasarkan nash-nash syar’ie dan manhaj ‘Thoifah Manshuroh’ yang dijanjikan kemenangan oleh Allah lewat lisan Rasul-Nya. Meski beberapa aktivis secara tidak langsung menolak manhaj jihad dan menilainya sebagai ‘kekerasan’ yang tidak boleh digunakan dalam perjuangan..
Fenomena di atas tentu perlu disyukuri. Namun, ada sesuatu yang perlu diperhatikan para da’i untuk dijadikan bahan evaluasi dalam metode dakwah yang mereka tempuh. Sebagian para pendukung syari’at memiliki orientasi kesejahteraan hidup dalam perjuangan menegakkan negara khilafah. Kecintaan mereka kepada syari’at dilatar belakangi kondisi kesejahteraan masyarakat yang buruk dalam sistem-sistem jahiliyyah yang berlaku sekarang ini. Mereka mendukung syari’at karena mendapati sistem itulah yang terbaik dibandingkan sistem-sistem selainnya; bagi mereka hanya syari’at lah yang bisa mensejahterakan masyarakat secara merata, dan menjamin kebutuhan dasar manusia..
Pandangan bahwa sistem syari’at satu-satunya sistem yang baik tentu sangat benar, karena syari’at berasal dari Allah yang maha sempurna; bahkan syari’at yang agung tidak bisa disandingkan dengan sistem-sistem buatan manusia yang kerdil. Syari’at tidak mungkin membuat orang sengsara dan menderita, baik di dunia maupun di akherat. Keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran akan terwujud bila syari’at benar-benar ditegakkan. Penderitaan dan tragedi yang terjadi di negara khilafah di masa lalu, bukanlah karena dzat syari’at yang menjadi sistem hukumnya, tapi karena faktor lain –yang di antaranya adalah faktor manusiawi- dan itu semua merupakan ujian dari Allah.
Dari sudut pandang manapun, tidak ada sistem dan undang-undang yang lebih baik dari pada syari’at Islam. Hal ini mutlak benar. Namun, merupakan hal yang keliru, apabila dukungan kepada syari’at semata-mata karena memandangnya lebih baik dari pada sistem lainnya dalam hal menyejahterakan dan menjamin kebutuhan dasar manusia. Titik tolak seperti ini bisa mengarahkan tujuan kepada kesejahteraan hidup sebagai orientasi utama dalam perjuangan. Bila kesejahteraan hidup sudah menjadi tujuan perjuangan, maka di saat kepahitan-kepahitan datang, atau saat kesejahteraan hidup justru terenggut, baik dalam perjuangan itu sendiri maupun di saat negara khilafah telah berdiri, hal itu riskan memunculkan sikap menyalahkan syari’at dan khilafah, dan kemudian mundur dari perjuangan suci.
Sistem syari’at adalah satu-satunya sistem yang baik. Ini benar. Namun, titik tolak utama perjuangan menegakkan syari’at bukanlah hal itu. Perjuangan menegakkan syari’at harus berangkat dari nilai yang prinsip, sebagaimana yang didakwahkan Rasulullah Saw. sejak awal terbitnya risalah Islam dan menjadi titik tolak penegakan negara Islam Madinah. Nilai prinsip inilah yang menjamin keistiqomahan/konsistensi dalam berjuang, meski banyak kesulitan yang dijumpai.
Karena itu, perlu diperjelas prinsip utama yang menjadi titik tolak perjuangan menegakkan syari’at tersebut. Para da’i hendaklah memperhatikan hal ini…
Selama tiga belas tahun di Makkah sejak Muhammad Saw. diutus sebagai nabi, wahyu Al-Qur’an turun untuk menancapkan ‘Laa ilaaha illallah’ di hati manusia, menerangkan konsep Tauhid sehingga betul-betul mereka pahami dengan jelas. Dalam kurun waktu yang cukup lama ini, pembahasan Al-Qur’an tidak berubah dari persoalan pokok yang satu ini, meski cara pemaparannya hampir selalu berubah-ubah, sehingga seolah-olah menjadi hal yang selalu baru.
Al-Qur’an tidak beranjak kepada pembahasan mengenai persoalan-persoalan cabang atau perincian undang-undang Islam, sampai persoalan Tauhid sudah mendapatkan kadar penjelasan yang cukup dan tertancap kuat di hati sekelompok manusia pilihan –para shahabat- , sehingga mereka menjadi manusia-manusia yang mengabdi kepada Allah saja; seluruh hidup mereka hanya untuk pengabdian tersebut dan dalam pengabdian tersebut tidak ada ambisi duniawi; orientasi mereka mereka seluruhnya hanya mengarah kepada satu hal, yaitu surga.
Selaras dengan wahyu Al-Qur’an fase Makkah, seluruh dakwah Rasulullah Saw. pun mengarah kepada penanaman ‘Laa ilaaha illallah’ pada sanubari manusia. Rasulullah Saw. ingin agar ‘Laa ilaaha illallah’ betul-betul merasuk di hati para shahabatnya, sebelum mereka dibebani hukum-hukum Islam secara rinci. Pada fase ini, beliau tidak memaparkan rincian undang-undang Islam, sistem kenegaraan dalam Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan dalam Islam dan hukum-hukum Islam dalam aspek lainnya, tidak pula menjelaskan ‘keindahan-keindahan’-nya, dan tidak juga mengiming-imingi kesenangan, kesejahteraan hidup, atau keuntungan (duniawi) dalam menjalankannya. Semua ini akan datang pada waktunya dan itu bukan pada fase Makkah, yang dibatasi sebagai fase penanaman Tauhid saja.
Allah Maha Bijaksana saat menjadikan fase Makkah ini adalah fase penanaman akidah ‘Laa ilaaha illallah’ saja, dan bukan fase pengkajian teori-teori hukum Islam secara rinci…
Rasulullah Saw. ingin agar para shahabat betul-betul tunduk secara mutlak kepada Allah, tanpa ada tendensi apapun, meski dalam pengabdian dan ketundukan mutlak kepada Allah ini, mereka harus menghadapi berbagai cobaan. Tidak ada janji yang Rasulullah Saw. berikan atas pengamalan Tauhid dengan segala resiko dan cobaan yang ditanggung pengikutnya tersebut selain surga. Hanya itu saja.
Imam Ahmad meriwayatkan, selama 10 tahun di Makkah sejak diangkat sebagai rasul, Muhammad Saw. selalu berkeliling di pemukiman kabilah-kabilah di Makkah, tempat-tempat keramaian, Ukadh dan Mijnah, dan juga pada musim-musim haji, untuk mengajak manusia kepada Tauhid dan memberi beliau nushroh dalam mengemban risalah yang dibawanya tersebut. Tidak ada imbalan atau janji yang beliau berikan kepada mereka -jika mereka menyambut seruannya- kecuali satu: yaitu surga. Beliau mengatakan kepada mereka,
«مَنْ يُؤْوِينِي؟ مَنْ يَنْصُرُنِي؟ حَتَّى أُبَلِّغَ رسالة ربى وله الجنة»
“Siapa yang memberiku perlindungan? Siapa yang memberiku pertolongan? Sehingga aku bisa menyampaikan risalah Pemeliharaku, dan baginya ada imbalan surga”
Saat melihat Ammar bin Yasir, bapak dan ibunya disiksa orang-orang kafir Quraisy karena keteguhan mereka memegang prinsip ‘Laa ilaaha illallah’, Rasulullah Saw. mengatakan:
صبراً يا آل ياسر فإن موعدكم الجنة
“Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji (yang diberikan kepada) kalian adalah surga”
Pada peristiwa malam Baiat Aqobah yang pertama, Rasulullah Saw. mengambil janji dari shahabatnya untuk mengabdi kepada Allah saja (tidak melakukan kesyirikan), tidak membunuh tanpa hak, tidak berzina, tidak mencuri, dan tidak membikin-mbikin kedustaan, dengan imbalan surga jika mereka menunaikannya. Tidak ada imbalan selain itu.
Demikianlah janji Rasulullah Saw. kepada orang-orang yang mau menerima dakwahnya. Siapa pun yang membaca kitab siroh nabawi di fase Makkah, tidak akan menemukan bahwa Rasulullah Saw. menjanjikan kepada para pengikutnya kesejahteraan hidup, terpenuhinya kebutuhan pokok, atau bahkan terwujudnya kemenangan Islam di tangan mereka –meski kemenangan itu pasti terjadi-. Janji Rasulullah Saw. kepada orang-orang yang menerima dakwahnya hanya satu: surga.
Setelah Tauhid benar-benar merasuk kuat pada hati dan perasaan mereka; terefleksikan dalam akhlak dan perilaku mereka, dan mereka menjadi manusia-manusia mengabdi kepada Allah saja, hanya mau tunduk kepada sistem yang berasal dari-Nya dan menolak sistem-sistem lainnya, bagaimana pun bentuknya; dan dalam ketertundukan kepada sistem Allah tersebut hati mereka kosong dari ambisi apapun selain ridho Allah, turunlah rincian-rincian undang-undang yang membentuk sistem syari’at yang sempurna. Rasulullah Saw. menjelaskan kepada mereka hukum-hukum yang turun dari Allah sesuai dengan peristiwa dan kasus yang terjadi di kalangan mereka.
Dengan kata lain, rincian hukum syari’at baru diturunkan setelah terwujud perkumpulan orang yang memegang prinsip Tauhid. Perkumpulan tersebut adalah perkumpulan shahabat Rasulullah Saw. dan merekalah yang pantas disebut masyarakat muslim. Rincian-rincian hukum Allah tersebut tidak turun di saat belum terdapat orang-orang yang benar-benar paham konsep Tauhid serta menjalankannya, baik secara keyakinan, pemikiran maupun akhlak dan tingkah laku..
Metode kenabian tersebut hendaknya diperhatikan para da’i yang menyeru kepada syari’at, terutama mereka yang bersibuk-sibuk menawarkan sistem kenegaraan dalam Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pergaulan dalam Islam, dan rincian-rincian hukum syari’at lainnya kepada masyarakat yang belum tertanam nilai-nilai Tauhid di hati mereka. Hal ini bukan berarti mengkaji atau menjelaskan rincian-rincian hukum tersebut tidak boleh. Sama sekali tidak. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah sudahkah orang-orang yang ditawari rincian sistem syari’at itu paham hakekat Tauhid serta memeluknya? Sudah kah mereka berserah diri dan tunduk secara totalitas kepada Allah?
Mengkaji dan menjelaskan hukum-hukum Islam adalah kewajiban, terutama saat hal itu dibutuhkan. Namun, mempresentasikan rincian hukum-hukum tersebut kepada orang-orang belum mengerti konsepsi Tauhid yang benar, atau kepada orang-orang yang hati mereka belum tertanam ketundukan secara penuh kepada Allah, sebagaimana yang didakwahkan Rasulullah Saw., adalah menyelisihi manhaj kenabian dalam berdakwah..
Kadang ada orang mengatakan, bahwa presentasi tersebut bertujuan agar masyarakat tertarik dengan syari’at Islam karena melihat keindahan-keindahan sistem hukumnya. Alasan ini sepintas bagus. Namun ketertarikan seperti ini bukanlah ketertarikan yang diinginkan Islam. Yang diinginkan Islam adalah ketertarikan untuk menegakkan syari’at Islam yang berangkat dari nilai-nilai Tauhid yang sudah terpatri di hati, dilandasi pengabdian dan ketertundukan penuh kepada Allah, bukan karena semata-mata pandangan bahwa syari’at adalah hukum yang indah atau lebih baik dari pada yang lainnya.
Karena itu, seorang da’i seharusnya memulai dakwahnya dengan mengajak manusia kepada Tauhid. Setelah mereka mengerti hakekat Tauhid, menjadi orang-orang yang mengabdi dan tunduk kepada Allah saja, dan hanya menerima sistem kehidupan yang berasal dari-Nya, serta tidak ada ambisi keduniaan dalam memegang prinsip tersebut, barulah dijelaskan hukum-hukum Allah sesuai dengan kebutuhan riil mereka. Inilah manhaj qur’ani yang ditempuh Rasulullah Saw. sebagaimana dijelaskan di atas..
Ringkasnya, Tauhid inilah, yang terefleksikan dengan pengabdian penuh dan ketundukan secara total kepada Allah, sebagaimana yang dijelaskan di atas, adalah hal prinsip yang menjadi titik tolak perjuangan menegakkan syari’at Islam…
Perjuangan para shahabat –semoga Allah meridhai mereka- dalam tegaknya syari’at dan negara yang menjamin eksistensinya, berangkat dari titik tolak pengabdian dan ketundukan mutlak kepada Allah. Tidak satu pun di antara mereka yang terlintas niat untuk mendapat kesejahteraan hidup jika nanti negara Islam sudah berhasil ditegakkan. Ambisi mereka hanya satu, ridha Allah di mahligai surga. Karena memang hanya inilah yang dijanjikan Rasulullah atas kesediaan mereka memeluk Tauhid dengan segala konsekwensi dan resiko yang mereka tanggung..
Mereka pun tabah saat tertimpa kepahitan-kepahitan serta kegoncangan-kegoncangan hebat dalam perjuangan itu. Di antara mereka, ada yang kehilangan kesejahteraan hidup saat meninggalkan Makkah dan bergabung di negara Islam Madinah tempat berdaulatnya syari’at Islam, menghadapi kelaparan, penyiksaan, dan penderitaan-penderitaan hidup lainnya; mereka pun merasakan ketakutan hebat di perang Khondaq dan kegoncangan-kegoncangan lainnya. Semua itu terjadi di negara Islam pertama, di zaman Nabi maupun khulafa’ rasyidun setelahnya..
Mereka menghadapi semua itu dengan tabah dan tidak berkeluh kesah. Mereka disibukkan dengan pengabdian vertikal kepada Allah, sehingga tak sempat memikirkan kesejahteraan. Pandangan mereka lurus menengadah ke langit, sehingga jiwa dan raganya ringan laksana kapas terbang dari satu jengkal ke jengkal bumi yang lain dengan tujuan tunggal: memastikan pengabdian kepada Allah semata. Hati mereka sudah digantungkan di langit, obsesinya obsesi langit, pikirannya sudah dengan pola langit. Ruhnya sudah di langit, hanya jasadnya yang masih berpijak di bumi. Oleh karenanya, tak ada lagi tersisa keluhan yang bersifat duniawi; soal harta, musibah, cercaan, intimidasi, penyiksaan, pengusiran bahkan pembunuhan.
Semua ini dapat terjadi karena orang-orang yang menegakkan Islam dalam bentuk negara dan pemerintahan, perundang-undangan dan hukum itu, sebelumnya sudah mendapatkan banyak penderitaan saat menegakkan dien tersebut pada hati nurani dan kehidupan mereka, dalam bentuk akidah (keyakinan), akhlak, ibadah, dan tingkah laku. Dalam menegakkan dien tersebut, mereka dijanjikan satu hal saja. Satu hal yang tidak termasuk terwujudnya kemenangan atau kekuasaan di tangan mereka. Mereka dijanjikan satu hal yang tidak ada kaitannya dengan dunia ini. Satu janji itu adalah surga. Hanya inilah yang dijanjikan kepada mereka atas usaha yang mereka lakukan: berjihad, menghadapi ujian berat, konsisten di jalan dakwah, serta menghadapi jahiliyyah dengan hal yang dibenci para penguasa di setiap zaman dan tempat, yakni ‘Laa ilaaha illallah’!
Inilah yang direnungkan para da’i baik-baik. Sudahlah mereka mengorientasikan umat kepada ridha Allah saja, atau masih adakah janji atau iming-iming selainnya yang bersifat duniawi yang mereka tawarkan kepada masyarakat?
Saat mereka bersabar dengan ujian yang Allah berikan; saat jiwa mereka kosong dari ambisi pribadi; saat Allah tahu bahwa mereka tidak menunggu balasan di dunia ini –dalam bentuk apapun, termasuk kemenangan dakwah di tangan mereka-; saat Allah tahu itu semua dari mereka, terbuktilah bahwa mereka sudah bisa dipercaya untuk memikul amanah berat ini, mereka sudah bisa dipercaya untuk memikul kekuasaan untuk menjalankan syari’at secara kaffah. Tanpa ada ambisi pribadi dalam kekuasaan itu, baik berupa kesejahteraan dunia, dan tidak pula kepentingan golongan, kaum, ataupun ras. Kekuasaan yang ada pada tangan mereka hanya untuk Allah, demi kepentingan dien dan syari’at-Nya. Karena mereka tahu, bahwa kekuasaan itu berasal dari Allah. Allah lah yang memberikannya kepada mereka.
Manhaj penuh berkah ini tidak akan bisa mencapai tingkatan tinggi seperti di atas, kecuali jika dakwah dimulai dari titik yang telah disebutkan; yakni dari pengangkatan panji ‘Laa ilaaha illallah’ saja dan tidak boleh ada motivasi keduniaan…
Barangkali jalan seperti ini adalah jalan yang sulit dan lambat, atau dianggap orang-orang yang tidak mengerti sebagai penghambat orang awwam untuk mencintai syari’at, namun pada hakekatnya penuh berkah, karena inilah metode Nabi Saw…

Kafirnya Penguasa yang Mengganti Syari’at Allah

Saat ilmu syari’at sedikit, para ruwaibidhoh berbicara, dan muslimin pun bodoh dengan hakekat Tauhid, Allah pun menimpakan atas mereka musibah yang paling dahsyat, serta siksaan yang paling menyakitkan, yaitu tunduknya mereka di bawah kekuasaan orang-orang murtad, yang keluar dari Islam dari semua pintu, mengganti syari’at Allah, bersikap loyal kepada orang-orang musyrik, memerangi kaum muwahhidin, serta masuk di dalam dien musyrikin lantas mentaati mereka dari segala arah.

Kemurtadan para penguasa yang bercokol di negeri-negeri kaum muslimin tersebut adalah hal yang maklum. Tidak ada yang bodoh soal itu selain orang yang dihapus mata hatinya oleh Allah, sehingga tidak dapat mengerti hakekat Tauhid yang menjadi misi seluruh para nabi dan rasul. Akibat syubhat-syubhat yang dihembuskan syaithon dan tentaranya untuk memalingkan manusia dari hakekat Tauhid, muncullah sebagian orang yang mengatakan bahwa pengkafiran para penguasa yang mengganti syari’at adalah hal yang tidak dikenal salaf, tidak pula suatu hal yang jelas di kalangan salaf…

Karena itu, perlu dituliskan di sini bagaimana para ulama yang hidup di saat daulah ‘Ubaidiyyah yang berdiri di Maghrib (Maroko), berfatwa tentang para penguasa daulah yang disebut juga daulah fathimiyah itu; termasuk juga bagaimana fatwa para ulama itu tentang para syaikh dan khotib yang masuk dalam ketaatan mereka. Sebagaimana yang diketahui, para syaikh dan khotib tersebut berbicara di depan umum dengan mendo’akan serta menyebut-menyebut kebaikan para penguasa ‘Ubaidiyyah, sehingga masyarakat umum menyangka para penguasa ‘Ubaidiyyah adalah penguasa adil, berpetunjuk serta berada di atas dien Islam..

‘Iyadh berkata “Ad-Dawudie ditanya tentang masalah ini –yakni tentang para penguasa ‘Ubaidiyyah-, beliau pun menjawab: ‘juru khutbah yang berceramah untuk mendukung serta mendo’akan kebaikan untuk mereka pada hari Jum’at, adalah kafir yang boleh dibunuh, dan tidak perlu diminta taubat dahulu….dia diperlakukan sebagaimana orang-orang kafir”

‘Iyadh juga berkata “Pendapat inilah –yakni kafirnya juru khutbah dan syaikh yang berbicara untuk membela para penguasa ‘Ubaidiyyah- yang dipegang dan difatwakan oleh Jabalah bin Hamud dan kawan-kawannya: Rabi’ Al-Qaththon, Abul Fadhl Al-Hamashi, Marwan bin Nashrun, As-Siba’ie, dan Al-Jubainanie”

Yusuf bin Abdillah Ar-Ru’anie dalam kitabnya mengatakan “Disepakati oleh para ulama Al-Qairuwan, Abu Muhammad bin Abi Zaid, Abul Hasan Al-Qabisie, Abul Qasim bin Syalbun, Abu Ali bin Khaldun, Abu Muhammad Ath-Thabiqie, dan Abu Bakar bin Adzrah, bahwa keadaan Bani ‘Ubaid (Ubaidiyyah) seperti keadaan orang-orang murtad dan zindiq; mereka disebut murtad karena jelas menyelisihi syari’at, sehingga mereka tidak boleh mewarisi menurut kesepakatan (ulama); mereka disebut zindiq karena dalam hati mereka meniadakan (sifat-sifat dan nama-nama Allah), karena itu boleh dibunuh karena zindiqnya mereka tersebut…”

Sekilas tentang Daulah ‘Ubaidiyyah (Fathimiyyah)
Maimun Al-Qaddah adalah da’i syi’ah madzhab Isma’iliyah. Syi’ah Isma’iliyyah adalah kelompok yang mengakui imamah ada pada Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib. Kelompok ini juga dinamakan As-Sab’iyyah (sab’ah: tujuh; dinamakan demikian karena mereka mengakui tujuh imam, yakni Ali bin Abi Tholib, Husain sampai Isma’il + Hasan bin Ali bin Abi Tholib). Kelompok ini juga dinamakan Bathiniyyah karena beberapa sebab, di antaranya: akidah mereka wajib disembunyikan, ucapan mereka bahwa syari’at Islam ada bersifat dhohir dan ada yang batin (keduanya berbeda secara hakekat), serta ucapan mereka bahwa hak menafsirkan nash-nash syari’at adalah imam yang ada dibalik tirai (Isma’il bin Ja’far)

Maimun Al-Qoddah mengaku memiliki nasab kepada Muhammad bin Isma’il . Ia mengaku salah satu cucunya. Nasabnya –menurut klaim dia- bersambung sampai kepada Fathimah Az-Zahra. Karena itu, Maimun Al-Qoddah dan keluarganya menamakan diri mereka dengan Fathimiyyun. Dinasti mereka disebut dinasti Fathimiyah.

Karena faktor-faktor pendukung, yang di antaranya adalah kebodohan yang terjadi pada banyak kelompok di Maghrib (Maroko), Maimun Al-Qoddah berhasil membumikan pemikiran Isma’iliyyah serta membentuk ketentaraan di daerah itu. Ia pun sukses mendirikan daulah (negara) yang dinamakan Fathimiyyah di Maroko, dan kekuasaannya meluas sampai di Utara Afrika setelah kalahnya daulah Agholibah (297 H/ 909 M). Setelah itu, kekuasaan di pegang anaknya yang bernama ‘Ubaidullah yang diberi julukan Al-Mahdi (karena itu negaranya disebut daulah ‘Ubaidiyyah oleh banyak ahli sejarah, sebab mereka tidak mengakui adanya nasab dinasti Ubaidullah kepada ahli bait).

Singkat cerita, Daulah Ubaidiyyah berhasil menguasai Mesir lewat seorang komandannya yang bernama Jauhar Ash-Shiqly (dia juga dijuluki Ar-Rumie). Jauhar Ar-Rumie memasuki Mesir tanpa peperangan. Bahkan, para syaikh bersorban dari tarikat-tarikat Shufi keluar untuk menyambut kedatangannya..

Jauhar pun membangun kota Kairo, lalu membangun univesitas Al-Azhar sebagai pusat pembinaan para da’i Syi’ah Isma’iliyyah serta penyebaran pemikiran mereka..

Saat berkuasa di Mesir, para penguasa ‘Ubaidiyyah berusaha keras untuk tidak menyelisihi akidah masyarakat secara dhohir, sehingga kekuasaan mereka betul-betul kuat. Untuk menutupi akidah dan kekufuran batin mereka, para penguasa ‘Ubaidiyyah memunculkan amalan-amalan ‘islami’ yang sebenarnya adalah bid’ah, di antaranya adalah: merayakan maulid Nabi, berkumpul di hari raya bid’ah seperti nishfu Sya’ban, hari ‘Asyuro, sholawat kepada Nabi dengan keras setelah adzan, menyanyikan nasyid dan membaca Al-Qur’an menjelang adzan fajar. Bid’ah-bidah ini muncul dengan dukungan para syaikh dari tarikat Shufi. Kemunculan praktek-praktek tersebut tidak lain bertujuan agar masyarakat menilai mereka menghidupkan amalan-amalan islami (padahal sebenarnya bid’ah), sehingga tetap tunduk kepada kekuasaan mereka..

Dari segi akidah, mereka menganggap Ali sebagai ilah (tuhan), demikian juga imam-imam mereka yang lain (dari Husain sampai Isma’il dan Hasan). Mereka yakin para imam tersebut mampu mengendalikan alam semesta. Para penguasa ‘Ubaidiyyah juga termasuk firqoh Mu’aththilah ekstrim. Salah satu di antara para da’i mereka mengatakan, “Allah tidak bisa dikatakan hidup, berkuasa, mengetahui, berkuasa, berakal, sempurna, serta berbuat, sebab Dialah yang menciptakan barang yang hidup, berkuasa, mengetahui, sempurna, lengkap dan berbuat. Allah juga tidak bisa disebut dzat, sebab setiap dzat itu membawa sifat-sifat di atas…

Banyak dari kalangan ulama yang mengungkapkan keyakinan busuk mereka. Di antara para ulama tersebut adalah Abul Walid bin Rusyd dalam kitabnya “Adh-Dhakhiroh fil Haqiqoh”. Ada kumpulan ucapan-ucapan Ubaidiyyah yang menunjukkan keyakinan mereka soal imamah. Hal itu disebutkan Asy-Syahroni dalam kitabnya “Al-Milal wan Nihal”. Pada intinya, paham ‘Ubaidiyyah tersebut berangkat dari ketidak percayaan dengan syari’at dan nash-nashnya. Bahkan, mereka berpendapat bahwa nash-nash tersebut mansukh dengan munculnya Nabi Muhammad bin Isma’il. Menurut mereka, dialah pengendali waktu, menguasai ilmu orang-orang terdahulu, serta mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi dan hal-hal ghoib.

‘Ubaidiyyah tidak mengerjakan syari’at kecuali sesuai kebutuhan saja, serta dengan tujuan semata-mata menjaga kemashlahatan mereka. Syari’at hanya diperuntukan kepada orang-orang bodoh dan dungu saja. Adapun orang yang tahu dan berpikiran cemerlang –menurut mereka- tidak wajib mengamalkan syari’at…

Alasan Pengkafiran ‘Ubaidiyyah: Mengganti Syari’at Allah

Dalam Kasyfus Syubhat, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan, “Dan dikatakan pula, bahwa Bani Ubaid Al-Qoddah yang pernah menguasai Maroko dan Mesir di zaman Abbasiyah, mereka semua bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka mengaku beragama Islam, mengerjakan sholat jum’at dan jama’ah. Namun, saat mereka nampak menyelesihi syari’at dalam beberapa hal yang lebih ringan dari pada keadaan kita (sekarang ini), para ulama bersepakat menyatakan kekufuran dan kewajiban memerangi mereka”..

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab juga mengatakan: “Kisah Bani Ubaid Al-Qoddah, mereka muncul di awal abad tiga. Ubaidullah mengaku sebagai keluarga Ali dari keturunan Fathimah, ia pun menampakkan ketaatan dan jihad fi sabilillah. Beberapa golongan dari penduduk Maroko pun mengikutinya, sehingga ia punya daulah yang besar di Maroko. Kekuasaan itu dilanjutkan anak-anaknya. Mereka lantas menguasai Mesir dan Syam. Mereka nampak mengerjakan sholat jum’at dan berjama’ah, mengangkat para hakim dan mufti. Akan tetapi, mereka menampakkan beberapa kesyirikan dan menyelisihi syari’at. Tampaklah hal yang menunjukkan kemunafikan mereka. Karena itu, ulama bersepakat mengkafirkan mereka”

Ulama bersepakat bahwa Bani Ubaid adalah orang-orang murtad sekaligus zindiq. Mereka disebut murtad karena terang-terangan menggugurkan syari’at serta menggunakan hukum yang menyelisihi syari’at. Mereka disebut zindiq karena dalam hati, mereka meniadakan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Karena itu, Al-Kibroni mengatakan, “Jika nekat tinggal di daulah ‘Ubaidiyyah, lantas tunduk kepada Bani Ubaid karena ketakutan (keterpaksaan), maka hal itu bukan udzur (alasan yang diterima). Sebab, tinggal di suatu tempat yang warganya harus menggugurkan peraturan-peraturan syari’at, tidak boleh”

Adapun alasan beberapa ulama yang mengkafirkan para khotib (penceramah) yang menyebut-nyebut kebaikan serta mendo’akan kebaikan untuk para penguasa ‘Ubaidillah di minbar-minbar Juma’at dan lainnya, adalah karena menimbulkan persepsi bahwa Bani Ubaid adalah muslimin. Inilah yang dikatakan Ibnu ‘Adzrah.

Ada beberapa faedah yang diambil dari fatwa ulama tentang Bani Ubaid di atas:

1) 1 Tidak boleh bertempat tinggal di daerah yang syari’at Allah tidak tegak, kecuali jika kita dapat berpisah dari orang-orang yang menggugurkan syari’at tersebut, serta mampu menampakkan dien kita di hadapan manusia.

2) 2 Ulama yang berbicara di hadapan orang banyak tentang kebaikan penguasa murtad –yang mengganti syari’at Allah dengan hukum kufur- serta mendo’akan kebaikan untuk mereka, sehingga timbul persepsi bahwa para penguasa itu adalah orang muslim, sangat riskan jatuh pada kekafiran.

3) 3 Orang yang mampu kabur dari daulah kufur –yang berlaku undang-undang jahiliyyah- , tapi nekat tinggal di daerah itu, padahal ia tahu bahwa dirinya bakal diajak masuk pada golongan yang mengganti dien Islam – dien di sini mencakup masalah-masalah akidah dan peraturan hidup- , dan ia menyadari tidak mampu menanggung hukuman jika enggan dengan ajakan tersebut, maka ia tidak punya udzur (untuk mengelak dari siksa Allah).

4) 4 Fatwa ulama di atas merupakan bantahan terhadap orang yang berargumentasi bahwa menggugurkan syari’at bukan kekufuran dan kemurtadan. Banyak orang-orang bodoh sekarang yang mengingkari kafirnya pemerintah yang mengganti syari’at Allah saat ini. Jika dikatakan kepada mereka, bahwa orang yang menggugurkan syari’at Allah dan menggantinya dengan undang-undang thoghut buatan manusia adalah murtad dan keluar dari millah Islam, mereka pun menjawab: “Pada beberapa masa, ada penguasa yang menggugurkan syari’at tapi tidak dikafirkan ulama, seperti Mamalik dan daulah Utsmani yang menggugurkan sebagian hukum Islam…” Begitulah argumentasi mereka.

Jawaban ucapan mereka itu adalah beberap hal berikut:

a) Argumentasi mereka bukanlah argumentasi yang digunakan salafush Sholih (sebab mereka berargumentasi dengan sikap/ perbuatan ulama). Dien Allah tidak didasarkan pada ucapan dan perbuatan para ulama atau tokoh. Dasar dien Allah yang bisa dijadikan argumentasi adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah saja.

b) Apa yang terjadi pada sebagian penguasa daulah Utsmani dan daulah-daulah Islam lainnya, bukanlah menggugurkan syari’at atau menggantinya dengan undang-undang buatan manusia, tapi semata-mata kemaksiatan yang tidak sampai pada taraf kekafiran (seperti kedzaliman dan ketidak adilan). Ada perbedaan besar antara dua hal tersebut.

c) Banyak fatwa ulama di masa tertentu dan dalam kasus tertentu yang tidak terjaga. Karena memang Allah tidak menjamin terpeliharanya fatwa-fatwa ulama. Yang Allah jamin tetap terpelihara adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, kita hanya berargumentasi dengan keduanya saja, bukan kepada yang lain –termasuk ucapan para ulama-. Contoh fatwa yang hilang adalah fatwa kafirnya Hajjaj. Sebagian ulama pun juga mengkafirkan daulah Utsmani (karena banyak kesyirikan; sehingga cukup beralasan bila muncul Daulah Tauhid di Jazirah Arab –saat itu, bukan yang sekarang– yang didirikan Alus Su’ud, dan memerangi daulah Utsmani)

Segala puji bagi Allah, yang menjadikan momen berharga dalam perjalanan kehidupan hamba-hamba-Nya. Momen di mana mereka melakukan muhasabah dan peninjauan ulang dari aktifitas dan manhaj yang ditempuh. Momen yang penuh berkah, dimana pahala dilipat gandakan, do’a dikabulkan, pintu surga dibuka, pinta neraka ditutup dan syaithon di belenggu. Itulah bulan Ramadhon.

Pada bulan Ramadhon, terjadi banyak kemenangan muslimin yang bersejarah. Di bulan inilah Perang Badar yang Allah sebut sebagai ‘Yaumul Furqon’ terjadi, tepatnya pada tahun 2 Hijriyah. Di bulan ini pula, kaum muslimin menaklukkan kota Makkah, membersihkannya dari kekotoran syirik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 8 Hijriyah dan disebut ‘Fathu Makkah’.

Pada tahun 658 H, tepatnya hari Jum’at 25 Ramadhon, di bawah kepemimpinan raja Qothaz, kaum muslimin menghadapi bangsa Tartar yang telah meruntuhkan khilafah, membantai dan mencerai beraikan mereka. Kaum muslimin berperang melawan bangsa Tartar di medan ‘Ain Jalut. Kemenangan pun di raih pasukan Islam.

Kalau kita terus menelusuri kemenangan-kemenangan muslimin di bulan ini, akan banyak tulisan ini. Apa yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil saja…

Sehingga, setiap kali datang bulan yang suci ini, kita akan merindukan terjadinya kemenangan-kemenangan semisal itu di tengah-tengah keterhinaan umat Islam sekarang ini, di tengah-tengah persekongkolan bangsa-bangsa kafir untuk menghancurkan umat Muhammad Saw., serta berkuasanya para penguasa murtad di negeri-negeri muslimin saat ini..

Bulan Ramadhon kali ini pun datang, sementara perang bertaraf internasional yang dimotori seluruh thoghut dunia di bawah kepemimpinan Amerika melawan Islam, para penolongnya serta kaum mujahidin, masih berlangsung..Ya, inilah hakekat yang harus dipahami setiap muslim. Perang dunia Internasional melawan Islam, meski musuh –musuh Allah menamakannya perang melawan teroris atau semisalnya..

Karena itu, bulan ini pun menjadi momen untuk setiap muslim, untuk kembali berpikir di pihak mana ia sekarang ini dalam perseteruan iman-kufur ini..apakah ia selama ini sudah aktif berada di barisan para penolong dien Islam? Ataukah masih ‘masa bodoh’ dengan kenyataan pahit yang dialami muslimin; dianiaya di berbagai belahan dunia, dijajah tanah air mereka, serta diinjak-injak kehormatan dien mereka…

Di mata salafush sholih, bulan Ramadhon adalah bulan kemenangan, kesungguhan dalam ibadah dan jihad. Maka tidak semestinya bulan ini seperti barang yang berlalu begitu saja. Ramadhon harus benar-benar menjadi momen kebaikan dan ketaatan, serta saat yang tepat untuk mendapat sebaik-baik bekal, yakni ketaqwaan..la’allakum tattakun..

Bulan ini merupakan kesempatan bagi para ulama dan syeikh untuk membenahi kembali tanggung jawab keilmuan mereka, sehingga benar-benar hakekat ajaran Islam yang mereka sampaikan dan tidak menyamarkan atau bahkan menjadikan dien ini sebagai alat untuk melegitimasi penguasa dzalim..

Bulan ini pun juga kesempatan bagi para da’i dan aktivis untuk meluruskan kembali manhaj dakwah mereka, sehingga mereka lebih bertaqwa kepada Allah dalam urusan dakwah ini, membersihkannya dari berbagai paham yang menyimpang…jangan lagi ada sikap condong kepada orang-orang dzalim atau kafir, atau menjadikan mereka sebagai wali, pemimpin, anshor/ ahlunnushroh…

Bagi para orang-orang kaya, Ramadhon juga saat yang tepat untuk berbenah soal urusan harta mereka; sudahkah mereka tunaikan kewajiban mereka kepada orang fakir miskin, anak-anak yatim, para tawanan muslim, serta para isteri yang ditinggal suaminya karena terbunuh atau tertawan di penjara-penjara thoghut?

Bagi kaum muslimin secara umum, bulan Ramadhon adalah kesempatan untuk mengoreksi diri dari sikap meninggalkan Al-Qur’an. Ramadhon adalah bulan Al-Qur’an, di mana kitab suci itu turun di bulan tersebut. Bentuk meninggalkan Al-Qur’an yang paling besar adalah dengan tidak memberlakukan ajaran-ajarannya, baik dalam aspek pribadi, keluarga maupun masyarakat..

Demikian pula, Ramadhon juga menjadi waktu yang tepat bagi orang-orang yang diberi kekuatan, atau bergelimang dalam kemewahan, untuk memikirkan sebuah kewajiban yang sudah menjadi fardhu ‘ain atas muslimin, yakni jihad fi sabilillah..Apalagi sistem jahiliyyah yang ada saat ini ditopang dengan kekuatan bersenjata; untuk merobohkan sistem jahiliyyah itu, perlu jihad untuk menghancurkan kekuatan yang menopangnya. Pemikiran jahiliyyah dapat dihadapi dengan dakwah, sedang kekuatan yang menopangnya tidak bisa dilawan kecuali dengan kekuatan pula (jihad). Inilah realisme ajaran Islam.

Sistem jahiliyah saat ini didukung kekuatan materi (quwwah maadiyah). Orang-orang yang berusaha menghancurkan sistem tersebut dengan pemikiran saja, sementara jihad mereka abaikan, pada hakekatnya hanya berangan-angan saja….

Akhirnya, Ramadhon adalah bulan yang penuh momen untuk taubat, taat, ibadah serta mencari kebaikan. Tentu saja, do’a di bulan itu lebih terkabulkan. Karena itu, selain berdo’a untuk kebaikan diri dan keluarga anda, janganlah bakhil untuk mendo’akan para da’i, mujahidin serta kaum muslimin yang tertindas (mustadh’afin) di setiap tempat. Jadikan do’a anda untuk kemenangan Islam serta kehancurkan syirik dan orang-orang musyrik..Inilah kewajiban minimal yang harus anda lakukan…

Segala puji bagi Allah, yang menjadikan momen berharga dalam perjalanan kehidupan hamba-hamba-Nya. Momen di mana mereka melakukan muhasabah dan peninjauan ulang dari aktifitas dan manhaj yang ditempuh. Momen yang penuh berkah, dimana pahala dilipat gandakan, do’a dikabulkan, pintu surga dibuka, pinta neraka ditutup dan syaithon di belenggu. Itulah bulan Ramadhon.
Pada bulan Ramadhon, terjadi banyak kemenangan muslimin yang bersejarah. Di bulan inilah Perang Badar yang Allah sebut sebagai ‘Yaumul Furqon’ terjadi, tepatnya pada tahun 2 Hijriyah. Di bulan ini pula, kaum muslimin menaklukkan kota Makkah, membersihkannya dari kekotoran syirik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 8 Hijriyah dan disebut ‘Fathu Makkah’.
Pada tahun 658 H, tepatnya hari Jum’at 25 Ramadhon, di bawah kepemimpinan raja Qothaz, kaum muslimin menghadapi bangsa Tartar yang telah meruntuhkan khilafah, membantai dan mencerai beraikan mereka. Kaum muslimin berperang melawan bangsa Tartar di medan ‘Ain Jalut. Kemenangan pun di raih pasukan Islam.
Kalau kita terus menelusuri kemenangan-kemenangan muslimin di bulan ini, akan banyak tulisan ini. Apa yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil saja…
Sehingga, setiap kali datang bulan yang suci ini, kita akan merindukan terjadinya kemenangan-kemenangan semisal itu di tengah-tengah keterhinaan umat Islam sekarang ini, di tengah-tengah persekongkolan bangsa-bangsa kafir untuk menghancurkan umat Muhammad Saw., serta berkuasanya para penguasa murtad di negeri-negeri muslimin saat ini..
Bulan Ramadhon kali ini pun datang, sementara perang bertaraf internasional yang dimotori seluruh thoghut dunia di bawah kepemimpinan Amerika melawan Islam, para penolongnya serta kaum mujahidin, masih berlangsung..Ya, inilah hakekat yang harus dipahami setiap muslim. Perang dunia Internasional melawan Islam, meski musuh –musuh Allah menamakannya perang melawan teroris atau semisalnya..
Karena itu, bulan ini pun menjadi momen untuk setiap muslim, untuk kembali berpikir di pihak mana ia sekarang ini dalam perseteruan iman-kufur ini..apakah ia selama ini sudah aktif berada di barisan para penolong dien Islam? Ataukah masih ‘masa bodoh’ dengan kenyataan pahit yang dialami muslimin; dianiaya di berbagai belahan dunia, dijajah tanah air mereka, serta diinjak-injak kehormatan dien mereka…
Di mata salafush sholih, bulan Ramadhon adalah bulan kemenangan, kesungguhan dalam ibadah dan jihad. Maka tidak semestinya bulan ini seperti barang yang berlalu begitu saja. Ramadhon harus benar-benar menjadi momen kebaikan dan ketaatan, serta saat yang tepat untuk mendapat sebaik-baik bekal, yakni ketaqwaan..la’allakum tattakun..(Al-Baqoroh:
Bulan ini merupakan kesempatan bagi para ulama dan syeikh untuk membenahi kembali tanggung jawab keilmuan mereka, sehingga benar-benar hakekat ajaran Islam yang mereka sampaikan dan tidak menyamarkan atau bahkan menjadikan dien ini sebagai alat untuk melegitimasi penguasa dzalim..
Bulan ini pun juga kesempatan bagi para da’i dan aktivis untuk meluruskan kembali manhaj dakwah mereka, sehingga mereka lebih bertaqwa kepada Allah dalam urusan dakwah ini, membersihkannya dari berbagai paham yang menyimpang…jangan lagi ada sikap condong kepada orang-orang dzalim atau kafir, atau menjadikan mereka sebagai wali, pemimpin, anshor/ ahlunnushroh…
Bagi para orang-orang kaya, Ramadhon juga saat yang tepat untuk berbenah soal urusan harta mereka; sudahkah mereka tunaikan kewajiban mereka kepada orang fakir miskin, anak-anak yatim, para tawanan muslim, serta para isteri yang ditinggal suaminya karena terbunuh atau tertawan di penjara-penjara thoghut?
Bagi kaum muslimin secara umum, bulan Ramadhon adalah kesempatan untuk mengoreksi diri dari sikap meninggalkan Al-Qur’an. Ramadhon adalah bulan Al-Qur’an, di mana kitab suci itu turun di bulan tersebut. Bentuk meninggalkan Al-Qur’an yang paling besar adalah dengan tidak memberlakukan ajaran-ajarannya, baik dalam aspek pribadi, keluarga maupun masyarakat..
Demikian pula, Ramadhon juga menjadi waktu yang tepat bagi orang-orang yang diberi kekuatan, atau bergelimang dalam kemewahan, untuk memikirkan sebuah kewajiban yang sudah menjadi fardhu ‘ain atas muslimin, yakni jihad fi sabilillah..Apalagi sistem jahiliyyah yang ada saat ini ditopang dengan kekuatan bersenjata; untuk merobohkan sistem jahiliyyah itu, perlu jihad untuk menghancurkan kekuatan yang menopangnya. Pemikiran jahiliyyah dapat dihadapi dengan dakwah, sedang kekuatan yang menopangnya tidak bisa dilawan kecuali dengan kekuatan pula (jihad). Inilah realisme ajaran Islam.
Sistem jahiliyah saat ini didukung kekuatan materi (quwwah maadiyah). Orang-orang yang berusaha menghancurkan sistem tersebut dengan pemikiran saja, sementara jihad mereka abaikan, pada hakekatnya hanya berangan-angan saja….
Akhirnya, Ramadhon adalah bulan yang penuh momen untuk taubat, taat, ibadah serta mencari kebaikan. Tentu saja, do’a di bulan itu lebih terkabulkan. Karena itu, selain berdo’a untuk kebaikan diri dan keluarga anda, janganlah bakhil untuk mendo’akan para da’i, mujahidin serta kaum muslimin yang tertindas (mustadh’afin) di setiap tempat. Jadikan do’a anda untuk kemenangan Islam serta kehancurkan syirik dan orang-orang musyrik..Inilah kewajiban minimal yang harus anda lakukan…

Oleh: hafmin | Juni 27, 2011

ORIENTASI PERJUANGAN

Tujuan utama dakwah Rasulullah Saw. adalah agar manusia mengabdi kepada Allah semata dengan ikhlas, mengharap pahala Allah. Yang dimaksud mengabdi kepada Allah bukanlah terbatas pada ibadah-ibadah ritual seperti yang dipahami sebagian orang. Tapi dalam wujud ketertundukan mutlak kepada Allah dalam semua urusan. Dalam wujud mengembalikan wewenang membuat hukum kepada Allah semata dalam seluruh bidang kehidupan. Inilah makna syahadah Laa ilaaha illallah.
Rasulullah Saw. tidak menjanjikan kepada orang-orang yang menerima dakwah beliau selain jannah (surga). Cukup ini saja. Tidak ada iming-iming duniawi; hidup sejahtera, jabatan, popularitas atau yang lainnya. Dengan demikian, mereka yang beriman kepada beliau betul-betul ikhlas mengharap pahala Allah, berupa mahligai surga di akherat kelak. Mereka tidak mengharapkan kesejahteraan hidup, kekayaan, dan pangkat. Mereka benar-benar berkorban untuk Allah, meski menghadapi berbagai penderitaan di jalan ini, hidup miskin atau harus kalah dan terbunuh di tangan kaum kafir..
Dakwah Rasulullah Saw. terus berlangsung. Orang-orang yang menerima dakwah tersebut semakin banyak. Manusia demi manusia menggabungkan diri kepada golongan yang betul-betul berorientasi tegaknya sistem/ syari’at yang datang dari Allah tersebut. Jumlah mereka mencapai kadar yang cukup untuk memanggul kekuasaan. Di sisi lain, peraturan-peraturan Allah turun satu demi satu, membentuk sistem Islam yang sempurna. Kenyataan itu mendorong didirikannya pemerintahan Islam. Sebab, tanpa itu, sistem Islam tidak akan bisa berdaulat di muka bumi..
Maka berdirilah pemerintahan Islam di kota Madinah. Fungsi utama negara ini adalah menjaga hukum-hukum Allah, sehingga tetap tegak. Belum ada saat itu fasilitas-fasilitas kesejahteraan rakyat yang memadai, sebagaimana yang dituntut masyarakat jahiliyyah saat ini terhadap para penguasa mereka. Bahkan, penderitaan para shahabat setelah berdirinya Negara Madinah lebih besar dari pada yang mereka alami saat masih di Makkah, sebelum berdirinya daulah itu. Mereka mengalami kegoncangan hebat di Hari Ahzab, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya di Makkah. Banyak rakyat Madinah yang bergelimang dalam kemiskinan, sampai ada di antara mereka ingin menjadikan pakaian yang melekat di tubuhnya untuk mahar pernikahannya, karena tidak punya harta selain itu…
Tapi para shahabat adalah manusia karang. Mereka sangat tangguh menghadapi kepayahan hidup tersebut. Yang penting bagi mereka adalah tegaknya panji Laa ilaaha illallah, berdaulatnya syari’at Allah di muka bumi. Itulah yang membuat mereka sangat bahagia. Orientasi mereka bukan kesejahteraan duniawi. Orientasi mereka adalah akherat, surga, keridhaan dan rahmat Allah, yang itu hanya dapat diraih dengan mematuhi perintah-perintah-Nya, menegakkan hukum-Nya. Mereka tidak pernah mengkritik, berdemo, atau menuntut penguasa untuk mensejahterakan hidup mereka. Ya, pernah ada beberapa orang miskin berdemo kepada Rasulullah Saw. sebagai kepala negara. Tapi apa yang mereka keluhkan? Ternyata bukan kemiskinan mereka, bukan kesulitan hidup mereka. Mereka mengeluh karena mereka tidak bisa berbuat baik dengan cara berzakat, sebagaimana orang-orang kaya..
Dari sini, orang-orang yang berjuang menegakkan daulah Islam atau khilafah perlu merenung sejenak. Kalau masyarakat diajak menegakkan khilafah dengan iming-iming keduniaan, hidup sejahtera misalnya, maka orientasi mereka menjadi duniawi. Akibatnya, ketika kenyataan negara khilafah tidak seindah yang dibayangkan, tapi penuh ujian yang payah sebagaimana dialami Daulah Madinah di awal-awal berdirinya, mereka akan kecewa dan mundur dari perjuangan. Sebaliknya, jika masyarakat diajak menegakkan daulah atau khilafah karena dengan itu syari’at Allah bisa tegak atau sistem Islam berdaulat, dan mereka tidak diberi janji apapun selain surga, maka hanya orang-orang yang orientasinya akherat saja yang menerima dakwah termasuk. Namun mereka adalah cikal bakal masyarakat tangguh seperti masyarakat Madinah yang diberkahi Allah..
Benar, Allah akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang menegakkan keadilan di bawah sistem-Nya yang sempurna . Tapi kesejahteraan hidup bukan tujuan. Bukan pula hal yang langsung ada begitu daulah Islam tegak. Allah akan memberikannya di saat yang tepat, sebagaimana pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz…
Dari uraian ringkas di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang da’i hendaklah mengorientasikan orang-orang yang menerima dakwah kepada satu hal saja, yaitu rahmat dan ridha Allah di mahligai surga. Seorang da’i sejak awal berdakwah sampai berdirinya daulah Islam harus mengorientasikan umatnya kepada hal itu saja. Sehingga mereka tidak akan menjadi sosok-sosok yang mengharapkan harta, jabatan, hidup sejahtera, dan unsur-unsur dunia lainnya dari perjuangan fi sabilillah yang mereka jalani. Harapan mereka hanya satu: surga yang kekal abadi.

Older Posts »

Kategori